Mengenai Syariat islam di Aceh, di bawah ini saya post-kan sebuah tulisan seorang teman saya, seorang pegiat seni di Komunitas Tikar Pandan, tinggal di Banda Aceh, yang suaranya menurut pengamatan saya senada dengan suara mayoritas anak muda di Banda Aceh yang menentang penerapan syari'at islam secara norak sebagaimana selama ini dipraktekkan di Aceh.
Best Regards Liza Serambi Kita Ternyata Cabul Juga Reporter : Azhari untuk www.acehkita.com KIAN meriah saja cinta-terlarang di Serambi Mekkah. Tidak hanya melanda pecinta belia, tapi juga kalangan paruh baya, bahkan kabar terakhir polisi moral pun tak bisa menghindari diri dari kodrat yang nikmat ini. Tapi cinta adalah perkara haram di Tanah Serambi. Kawan saya, seorang promotor pagelaran musik, pernah merasakan betapa terkutuknya kata cinta. Zikir Cinta ia jadikan tema konser yang akan diselenggarakan pada tanggal 21 April besok sebuah konser terbesar di Aceh sejak perang berhenti. Dia menyeru: jika cinta dikocok dengan zikir maka tidak mustahil dapat menyiram sisa-sisa bara kebencian akibat perang. Namun kawan saya itu salah memahami kata cinta. Ketika ia hendak mengurus perizinan (sebuah izin untuk menakar bermoral atau tidaknya sebuah kegiatan) pada sebuah jawatan yang berwenang, kawan saya disarankan oleh jawatan terkait agar mengganti kata Cinta. Sebab kata Cinta berbahaya bagi umat dan tidak bisa disandingkan semena-mena dengan kata Zikir yan agung maknanya. Di hadapan jawatan itu tidak berguna sama sekali penjelasan serta alasan kawan saya bahwa ia hendak meredam kesumat perang dengan pengaruh dua kata itu. Kawan saya justru menerima sejumlah hujah baru: hendaknya kata pengganti untuk tema jauh dari kehendak untuk menjerumuskan umat di Serambi Mekkah. Saya tahu maksud baik jawatan itu yang ingin mempermasalahkan kata cinta dan mewaspadai sejumlah kata lain yang menjurus ke nafus- birahi, tidak lain ialah untuk menjaga tegaknya tatanan moral umatnya. Tapi jika takrif tentang moral telah dibatasi hanya pada ukuran-ukuran yang tituler, seperti memburu para pemabuk atau mengepung segerombol muda-mudi yang memadu kasih di sebuah café atau menjengkar ukuran baju yang dipakai oleh kaum perempuan, maka akan sia-sialah maksud baik jawatan itu. Maktab yang membatasi pengertian tentang moral, lalu menyiapkan patroli dan cemeti untuk menjaga tegaknya pengertian itu, telah ada sejak zaman kancil menipu harimau. Namun seperti harimau yang selalu dikecoh kancil dengan menyangka benarlah yang dijaganya adalah setangkup roti milik Nabi Sulaiman, tapi ternyata setumpuk taik kerbau. Demikian pula nasib segala maktab di setiap zaman yang menentukan tegak atau tidaknya moral warganya: tertipu untuk tidak mengatakan dungu oleh apa-apa yang dipercayainya. Warga yang merasa hakikat tentang moral yang mestinya diberi ruang yang dalam dan luas telah dibatasi lingkupnya, maka mereka akan selalu punya siasat dan kreatifitas untuk membungkus moralnya agar tampak seperti roti Nabi Sulaiman. Itu sebabnya, dalam rupa yang lunak, institusi-institusi agama di atas muka bumi ini masih tetap mempertahankan dan menyerahkan tegaknya akhlak umatnya pada mimbar khotbah sebagai salah satu cara yang paling mudah untuk menjaga kemurnian jiwa umatnya, apabila institusi keagamaan tidak berdaya untuk merebut peran kontrol yang lebih besar dengan cara kekerasan dan atau mempengaruhi negara untuk membagi sebagian kerja tersebut. Walau dalam kenyataannya para rabbi dan wali sendiri sering meragukan keampuhan seruan yang datang dari mimbar, terutama apabila dibandingkan dengan pengaruh jahat keduniawian yang datang dari banyak penjuru. Kenyataan ini tak jarang membuat pemangku agama frustasi demi melihat betapa tercelanya perilaku umatnya, sehingga membuat kaum agamawan kadang bernafsu untuk merebut kembali fungsi pengendalian-tanpa-batas yang dianggap sebagai kerja sejarah segala agama yang dalam banyak hal, sejak modernitas melanda dunia, peran tersebut dalam skala makro diambil alih oleh negara yang berwatak lebih sekular untuk mengatur warganya. Ilham tentang tegaknya akhlak di kalangan para moralis-tanggung di Aceh, pada hemat saya, tak bisa dilepaskan begitu saja dari mimesis terhadap masalalu di zaman para Sultan dan Sultanah, pernah hidup yang mewariskan landskap, sungguh rupawan namun sesungguhnya teramat berat untuk dijunjung. Ilham itu tak hanya memukau golongan moralis tapi juga golongan yang tak moralis. Pada zaman ketika Sultan dinaikkan sekaligus dimakzulkan oleh Dewan Orangkaya, masa itulah menurut banyak ahli sejarah agama Islam mencapai kegemilangannya di Aceh Darussalam. Dan kaum moralis ingin zaman itu ditarik kembali ke zaman kini di mana telepon-genggam- dengan-kamera digunakan untuk merekam sebuah senggama. Hukum Islam masa itu, kata sejumlah tarikh, lurus menjunjung langit tak kurang seperti tegaknya tiang layar armada kapal perang Sultan yang dikenal gagah perkasa saat menghalau pengaruh bangsa-bangsa kulit putih yang bertujuan tidak saja ingin menukar anggur dengan rempah-rempah (oh Tuhanku, bukankah kedua ciptaan-Mu itu adalah penghangat bagi tubuh, namun kenapa yang pertama begitu nista dan buruk nasibnya), Namun juga bangsa-bangsa kafir itu, yang datang dari negeri Atas Angin, ingin mengganti iman yang dipercaya Sultan dan rakyatnya yang masuk beberapa abad sebelum kedatangan bangsa kulit putih, yang asalmuasalnya juga dari jazirah Atas Angin. Bayang-bayang ditambah kesumat Perang Salib adalah ilham yang menantang di setiap zaman. Itu sebabnya, gerbang keluar-masuk kapal- kapal dari negeri Bawah Angin dan Atas Angin ini, digambarkan sebagai penuh perlindungan di kalangan peziarah awal nusantara seiring dengan menguatnya pengaruh angkatan laut kesultanan Aceh di Samudera Hindia dan Selat Malaka dalam mengimbangi penguasaan atas jalan perairan yang didominasi oleh kekuatan kulit putih setelah bandar-bandar kunci di teluk-teluk kecil nusantara satu per satu takluk dan jatuh ke tangan mereka. Amannya jalur pelayaran dari gangguan lanun yang tak seiman adalah karunia bagi lalu-lintas pelayaran Muslim di satu sisi, selain bahwa Aceh Darussalam juga tempat memperdalam ajaran Islam bagi calon peziarah yang hendak ke Mekkah di sisi lain, sebab ternyata bandar ini tidak hanya menarik para peniaga lintas benua, tapi juga tempat konsolidasi para munsyi. Oleh karena itu sudah sepantasnya ambang dua kawasan ini oleh para peziarah diberi julukan sebagai Serambi Mekkah. Gelar baik dan manis adalah kehormatan, kata pepatah lama, sebab ia dapat terus dipergunakan oleh anak cucu kelak. Dan bukankah pepatah itu terbukti adanya? Di zaman Syariat Islam kini, sebagai pewaris sah dari kehormatan itu, tidakkah gelar yang demikian berguna untuk memaklumkan bahwa kita masih punya hubungan yang erat dengan masalalu yang jauh itu. Menyelami masa-masa penuh kemulian itu yang dalam tuduhan orientalis cum etnograf Snouck Hurgronje hanyalah dongeng para pengarang hikayat, namun orientalis yang lebih netral seperti Lombard kemudian menyodorkan dokumen sejarah yang otentik untuk membuktikan bahwa zaman keemasan itu nyata adanya saya tak pernah bisa menyingkirkan bayangan lama yang kembali melintas saat saya menulis kolom ini, tentang apa yang dikerjakan sehari-harinya oleh Kemuftian Kesultanan jawatan berwenang kerajaan yang mengatur tata laksana keimanan barangkali sejenis Dinas Syariat Islam kini pada zaman itu dalam kaitan bagaimana mesin keagamaan kerajaan mengendalikan syahwat atawa nafsu berahi tersembunyi masyarakatnya. Sejenis tugas yang diperankan maktab tempat kawan saya mengurus izin konser musik. Mungkin Kemuftian diberi wewenang untuk mengawasi peredaran hikayat dan syair, yang ditakrifkan hanya boleh berisi pesan tentang budi pekerti yang luhur atau semata-mata tentang Sultan yang alim-budiman. Sekaligus bertugas untuk menjaga rak-rak perpustakaan kesultanan agar tak cemar oleh hikayat dan syair yang sarat cinta-berahi. Namun pada saat yang bersamaan di luar gerbang istana, di luar kendali sang Mufti, telah beredar puluhan bahkan mungkin ratusan hikayat dan syair cabul yang ditulis oleh pengarang skeptis semacam saya ini terutama kisah mengenai betapa asusilanya setiap yang bernama Sultan apalagi ia gemar memelihara harem dan taman. Maka tidak perlu heran selain karena kekuatan armada perang Sultan telah menjadikan tanah ini menerima takdir sebagai Serambi Mekkah, kerja keras petugas kemuftian juga mewarisi kita setumpuk hikayat dan syair yang berisi ajaran tentang budi pekerti yang luhur terutama apabila hikayat dan syair itu datangnya dari Dalam Istana Sultan. Namun di luar gerbang istana kita juga menemukan hikayat yang beredar di kalangan penduduk yang dipindai moralnya, bahkan hikayat dimaksud terus diingat dalam anekaragam versi hingga di zaman Syariat Islam kini misalnya tentang seorang Sultan yang memohon kepada Tuhannya pada malam Lailatur Qadar, agar kemaluannya berkenan dipanjangkan hingga bisa melilit leher! Maka jangan menutup muka bila ternyata di zaman Syariat Islam ini kita menemukan sepasang kekasih yang merekam adegan percintaan mereka dengan telepon-genggam-dengan-kamera & si polisi penjaga moral pun tak luput dari godaan syahwat terkutuk! Itu semua ada ilhamnya sekalipun kalis dan jauh. Ternyata dalam beberapa hal kita saleh, dalam beberapa hal yang lain kita juga cabul. [A] --- In [email protected], Cittasukkho Widodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ha........dengarnya aja seram. > Pernah aku kesana ketika itu ada razia orang yang tidak berjilbab didepan mesjid Baituhrahman. Dalam pikiranku, bagaimana bagi mereka yang tidak muslim? Apa juga ditangkap? > Bagiku, polisi syariah kurang ada manfaatnya. Bahkah hal ini juga dikatakan oleh salah seorang temanku yang asli aceh. Baginya malah, polisi syariah mengekang kebebasan berekspresi dan beraktivitasnya. Pertanyaan dia: Apa memang perlu ada polisi moral? Lha batasan moral gak moral itu ukurannya apa? Lha kalau polisi yang katanya tugasnya utk penjaga moral itu malah akhirnya merusak moral? Jadi ukuran moral gak moral itu kan relatif. Mungkin bener polisi moral itu juga manusia biasa atau memang malah kurang bermoral?? > > > Salam, > > ----- Original Message ---- > From: Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Saturday, April 21, 2007 8:29:20 AM > Subject: Re: [mediacare] Mesum, Polisi Syariah NAD Diciduk
