Kenapa sih ngga di referendum saja pemberlakuan syariat tsb. setahu saya
penerapan itu hanya akal-akalan pemerintah pusat di jawa pada waktu itu
untuk menenangkan pemberontakan.

iya... ginilah kalo manusi bermain-main menjadi Tuhan.

salam,
ph


On 4/21/07, Liza Irman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Mengenai Syariat islam di Aceh, di bawah ini saya post-kan sebuah
tulisan seorang teman saya, seorang pegiat seni di Komunitas Tikar
Pandan, tinggal di Banda Aceh, yang suaranya menurut pengamatan saya
senada dengan suara mayoritas anak muda di Banda Aceh yang menentang
penerapan syari'at islam secara norak sebagaimana selama ini
dipraktekkan di Aceh.

Best Regards

Liza

Serambi Kita Ternyata Cabul Juga
Reporter : Azhari untuk www.acehkita.com

KIAN meriah saja cinta-terlarang di Serambi Mekkah. Tidak hanya
melanda pecinta belia, tapi juga kalangan paruh baya, bahkan kabar
terakhir polisi moral pun tak bisa menghindari diri dari kodrat yang
nikmat ini. Tapi cinta adalah perkara haram di Tanah Serambi.

Kawan saya, seorang promotor pagelaran musik, pernah merasakan betapa
terkutuknya kata cinta. Zikir Cinta ia jadikan tema konser yang akan
diselenggarakan pada tanggal 21 April besok –sebuah konser terbesar
di Aceh sejak perang berhenti. Dia menyeru: jika cinta dikocok dengan
zikir maka tidak mustahil dapat menyiram sisa-sisa bara kebencian
akibat perang.

Namun kawan saya itu salah memahami kata cinta. Ketika ia hendak
mengurus perizinan (sebuah izin untuk menakar bermoral atau tidaknya
sebuah kegiatan) pada sebuah jawatan yang berwenang, kawan saya
disarankan oleh jawatan terkait agar mengganti kata Cinta. Sebab kata
Cinta berbahaya bagi umat dan tidak bisa disandingkan semena-mena
dengan kata Zikir yan agung maknanya.

Di hadapan jawatan itu tidak berguna sama sekali penjelasan serta
alasan kawan saya bahwa ia hendak meredam kesumat perang dengan
pengaruh dua kata itu. Kawan saya justru menerima sejumlah hujah
baru: hendaknya kata pengganti untuk tema jauh dari kehendak untuk
menjerumuskan umat di Serambi Mekkah.

Saya tahu maksud baik jawatan itu yang ingin mempermasalahkan kata
cinta dan mewaspadai sejumlah kata lain yang menjurus ke nafus-
birahi, tidak lain ialah untuk menjaga tegaknya tatanan moral
umatnya. Tapi jika takrif tentang moral telah dibatasi hanya pada
ukuran-ukuran yang tituler, seperti memburu para pemabuk atau
mengepung segerombol muda-mudi yang memadu kasih di sebuah café atau
menjengkar ukuran baju yang dipakai oleh kaum perempuan, maka akan
sia-sialah maksud baik jawatan itu.

Maktab yang membatasi pengertian tentang moral, lalu menyiapkan
patroli dan cemeti untuk menjaga tegaknya pengertian itu, telah ada
sejak zaman kancil menipu harimau. Namun seperti harimau yang selalu
dikecoh kancil dengan menyangka benarlah yang dijaganya adalah
setangkup roti milik Nabi Sulaiman, tapi ternyata setumpuk taik
kerbau.

Demikian pula nasib segala maktab di setiap zaman yang menentukan
tegak atau tidaknya moral warganya: tertipu untuk tidak mengatakan
dungu oleh apa-apa yang dipercayainya. Warga yang merasa hakikat
tentang moral yang mestinya diberi ruang yang dalam dan luas telah
dibatasi lingkupnya, maka mereka akan selalu punya siasat dan
kreatifitas untuk membungkus moralnya agar tampak seperti roti Nabi
Sulaiman.

Itu sebabnya, dalam rupa yang lunak, institusi-institusi agama di
atas muka bumi ini masih tetap mempertahankan dan menyerahkan
tegaknya akhlak umatnya pada mimbar khotbah – sebagai salah satu
cara yang paling mudah untuk menjaga kemurnian jiwa umatnya, apabila
institusi keagamaan tidak berdaya untuk merebut peran kontrol yang
lebih besar dengan cara kekerasan dan atau mempengaruhi negara untuk
membagi sebagian kerja tersebut. Walau dalam kenyataannya para rabbi
dan wali sendiri sering meragukan keampuhan seruan yang datang dari
mimbar, terutama apabila dibandingkan dengan pengaruh jahat
keduniawian yang datang dari banyak penjuru.

Kenyataan ini tak jarang membuat pemangku agama frustasi demi melihat
betapa tercelanya perilaku umatnya, sehingga membuat kaum agamawan
kadang bernafsu untuk merebut kembali fungsi pengendalian-tanpa-batas
yang dianggap sebagai kerja sejarah segala agama yang dalam banyak
hal, sejak modernitas melanda dunia, peran tersebut dalam skala makro
diambil alih oleh negara yang berwatak lebih sekular untuk mengatur
warganya.

Ilham tentang tegaknya akhlak di kalangan para moralis-tanggung di
Aceh, pada hemat saya, tak bisa dilepaskan begitu saja dari mimesis
terhadap masalalu di zaman para Sultan dan Sultanah, pernah hidup
yang mewariskan landskap, sungguh rupawan namun sesungguhnya teramat
berat untuk dijunjung. Ilham itu tak hanya memukau golongan moralis
tapi juga golongan yang tak moralis.

Pada zaman ketika Sultan dinaikkan sekaligus dimakzulkan oleh Dewan
Orangkaya, masa itulah menurut banyak ahli sejarah agama Islam
mencapai kegemilangannya di Aceh Darussalam. Dan kaum moralis ingin
zaman itu ditarik kembali ke zaman kini di mana telepon-genggam-
dengan-kamera digunakan untuk merekam sebuah senggama.

Hukum Islam masa itu, kata sejumlah tarikh, lurus menjunjung langit
tak kurang seperti tegaknya tiang layar armada kapal perang Sultan
yang dikenal gagah perkasa saat menghalau pengaruh bangsa-bangsa
kulit putih yang bertujuan tidak saja ingin menukar anggur dengan
rempah-rempah (oh Tuhanku, bukankah kedua ciptaan-Mu itu adalah
penghangat bagi tubuh, namun kenapa yang pertama begitu nista dan
buruk nasibnya), Namun juga bangsa-bangsa kafir itu, yang datang dari
negeri Atas Angin, ingin mengganti iman yang dipercaya Sultan dan
rakyatnya yang masuk beberapa abad sebelum kedatangan bangsa kulit
putih, yang asalmuasalnya juga dari jazirah Atas Angin.

Bayang-bayang ditambah kesumat Perang Salib adalah ilham yang
menantang di setiap zaman. Itu sebabnya, gerbang keluar-masuk kapal-
kapal dari negeri Bawah Angin dan Atas Angin ini, digambarkan sebagai
penuh perlindungan di kalangan peziarah awal nusantara seiring dengan
menguatnya pengaruh angkatan laut kesultanan Aceh di Samudera Hindia
dan Selat Malaka dalam mengimbangi penguasaan atas jalan perairan
yang didominasi oleh kekuatan kulit putih setelah bandar-bandar kunci
di teluk-teluk kecil nusantara satu per satu takluk dan jatuh ke
tangan mereka.

Amannya jalur pelayaran dari gangguan lanun yang tak seiman adalah
karunia bagi lalu-lintas pelayaran Muslim di satu sisi, selain bahwa
Aceh Darussalam juga tempat memperdalam ajaran Islam bagi calon
peziarah yang hendak ke Mekkah di sisi lain, sebab ternyata bandar
ini tidak hanya menarik para peniaga lintas benua, tapi juga tempat
konsolidasi para munsyi. Oleh karena itu sudah sepantasnya ambang dua
kawasan ini oleh para peziarah diberi julukan sebagai Serambi Mekkah.

Gelar baik dan manis adalah kehormatan, kata pepatah lama, sebab ia
dapat terus dipergunakan oleh anak cucu kelak. Dan bukankah pepatah
itu terbukti adanya? Di zaman Syariat Islam kini, sebagai pewaris sah
dari kehormatan itu, tidakkah gelar yang demikian berguna untuk
memaklumkan bahwa kita masih punya hubungan yang erat dengan masalalu
yang jauh itu.

Menyelami masa-masa penuh kemulian itu –yang dalam tuduhan orientalis
cum etnograf Snouck Hurgronje hanyalah dongeng para pengarang
hikayat, namun orientalis yang lebih netral seperti Lombard kemudian
menyodorkan dokumen sejarah yang otentik untuk membuktikan bahwa
zaman keemasan itu nyata adanya– saya tak pernah bisa menyingkirkan
bayangan lama yang kembali melintas saat saya menulis kolom ini,
tentang apa yang dikerjakan sehari-harinya oleh Kemuftian Kesultanan –
jawatan berwenang kerajaan yang mengatur tata laksana keimanan
barangkali sejenis Dinas Syariat Islam kini– pada zaman itu dalam
kaitan bagaimana mesin keagamaan kerajaan mengendalikan syahwat atawa
nafsu berahi tersembunyi masyarakatnya. Sejenis tugas yang diperankan
maktab tempat kawan saya mengurus izin konser musik.

Mungkin Kemuftian diberi wewenang untuk mengawasi peredaran hikayat
dan syair, yang ditakrifkan hanya boleh berisi pesan tentang budi
pekerti yang luhur atau semata-mata tentang Sultan yang alim-budiman.
Sekaligus bertugas untuk menjaga rak-rak perpustakaan kesultanan agar
tak cemar oleh hikayat dan syair yang sarat cinta-berahi.

Namun pada saat yang bersamaan di luar gerbang istana, di luar
kendali sang Mufti, telah beredar puluhan bahkan mungkin ratusan
hikayat dan syair cabul yang ditulis oleh pengarang skeptis semacam
saya ini terutama kisah mengenai betapa asusilanya setiap yang
bernama Sultan apalagi ia gemar memelihara harem dan taman.

Maka tidak perlu heran selain karena kekuatan armada perang Sultan
telah menjadikan tanah ini menerima takdir sebagai Serambi Mekkah,
kerja keras petugas kemuftian juga mewarisi kita setumpuk hikayat dan
syair yang berisi ajaran tentang budi pekerti yang luhur terutama
apabila hikayat dan syair itu datangnya dari Dalam Istana Sultan.
Namun di luar gerbang istana kita juga menemukan hikayat yang beredar
di kalangan penduduk yang dipindai moralnya, bahkan hikayat dimaksud
terus diingat dalam anekaragam versi hingga di zaman Syariat Islam
kini misalnya tentang seorang Sultan yang memohon kepada Tuhannya
pada malam Lailatur Qadar, agar kemaluannya berkenan dipanjangkan
hingga bisa melilit leher!

Maka jangan menutup muka bila ternyata di zaman Syariat Islam ini
kita menemukan sepasang kekasih yang merekam adegan percintaan mereka
dengan telepon-genggam-dengan-kamera & si polisi penjaga moral pun
tak luput dari godaan syahwat terkutuk! Itu semua ada ilhamnya
sekalipun kalis dan jauh. Ternyata dalam beberapa hal kita saleh,
dalam beberapa hal yang lain kita juga cabul. [A]

--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>,
Cittasukkho Widodo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Ha........dengarnya aja seram.
> Pernah aku kesana ketika itu ada razia orang yang tidak berjilbab
didepan mesjid Baituhrahman. Dalam pikiranku, bagaimana bagi mereka
yang tidak muslim? Apa juga ditangkap?
> Bagiku, polisi syariah kurang ada manfaatnya. Bahkah hal ini juga
dikatakan oleh salah seorang temanku yang asli aceh. Baginya malah,
polisi syariah mengekang kebebasan berekspresi dan beraktivitasnya.
Pertanyaan dia: Apa memang perlu ada polisi moral? Lha batasan moral
gak moral itu ukurannya apa? Lha kalau polisi yang katanya tugasnya
utk penjaga moral itu malah akhirnya merusak moral? Jadi ukuran moral
gak moral itu kan relatif. Mungkin bener polisi moral itu juga
manusia biasa atau memang malah kurang bermoral??
>
>
> Salam,
>
> ----- Original Message ----
> From: Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>
> Sent: Saturday, April 21, 2007 8:29:20 AM
> Subject: Re: [mediacare] Mesum, Polisi Syariah NAD Diciduk


Kirim email ke