Bung, sadarkah kalau Anda mengetik tanpa melihat langsung ke Freeport atau Newmont (tapi hanya membaca penelitian, mungkin cuma dari internet bukan dokumen aseli penelitian tersebut)? Bacakah titik koma hingga tuntas? Sadarkah kalau email Anda yang mengumbar penelitian dari seluruh dunia itu hanya menyilet luka lebih dalam bagi rakyat Minahasa? Dokumen penelitian itu tidak dipublikasikan ke masyarakat sana, yang tak bisa akses ke internet. Punya komputer pun tidak, Bung.
Coba dibalik, kalau ada sepupu atau nenek Anda hidup dan berkudis seumur hidup di sana, apa Anda akan membeberkan dokumen yang kian memberatkan hidup saudara-saudara Anda? Saya tak punya saudara sedarah di sana, tapi tepa selira sedikit lah. Have some sense. Indra Razak PS. 1. Government failure memang sudah berakar-urat di Indonesia, tapi jangan hanya disalahkan. Dikoreksi, Bung. 2. Ugh, Freeport itu tak hanya tembaga tapi emas juga (btw, mekanisme emas untuk stabilitas ekonomi dunia pernah tahu 'kan?) Karena gak bisa baca kontrak perpanjangan Freeport (kontrak dalam Bahasa Inggris, d'uh) makanya bagi hasil Indonesia cuma keraknya aja. Bisakah lawyer kampung bertarung global? Btw, anggaran negara untuk bayar lawyer (aka staf ahli) hanya 12 juta per bulan potong pajak dan harus warga negara Indonesia ber-KTP. (pernah tahu mekanisme APBN kita yang bolong-bolong kayak keju nikmat buat tikus koruptor?) Think macro, Bung. amartien <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Hmmmmm ....... ocehan panjang lebar yang ke-mana2, tetapi tidak membahas apa yang saya katakan, yaitu bahwa analisa laboratorium2 terkemuka menunjukkan bahwa tidak ada pencemaran merkuri di teluk Buyat. Yang saya katakan didalam posting saya hanyalah melulu mengenai Newmont. Kok enak saja menuduh bahwa saya membela korporasi global, kemudian ngoceh mengenai Freeport. Kalau menuduh berdasarkan fakta dong. Indonesia kaya raya alamnya. Banyak orang Indonesia yang pintar, tetapi orang2 pintar tsb. banyak yang bekerja di luar negeri, dimana semua teratur, tidak perlu berhadapan dengan sistim pemerintah yang korup. Biang keroknya miskinnnya orang Indonesia adalah pemerintah Indonesia sendiri. Bercerminlah ke diri sendiri. Ocehan anda sampai menyebutkan lawyer bule. Wah, iri apa dengan cara hidup lawyer tsb.? Di Amrik disini banyak lawyer yang berhasil yang hidupnya bukan main wahnya karena penghasilannya buanyak.....! Tetapi banyak sekali lawyer yang hidupnya biasa2 saja. Banyak orang ngedumel mengenai Freeport, bahwa Freeport mengeruk kekayaan Indonesia, bahwa Papua tidak mengicipi kekayaan tsb. Pakai akal sedikit. Yang bertanggung jawab atas kesejahteraan penduduk Indonesia, termasuk di Papua adalah PEMERINTAH Indonesia. Yang harus dipertanyakan adalah: kemana uang yg. didapat oleh pem. Indonesia dari Freeport? Apakah tidak terpikir kepada anda bahwa uang penghasilan itu ada yang a) masuk kantong pejabat, b) nongkrong di Jakarta? Kesejahteraan penduduk Papua BUKANLAH tanggungjawab Freeport. Kalau pemerintah Indonesia menganggap kontrak dengan Freeport merugikan Indonesia, maka negosiasi lagi. Susah2 amat. Kalau Freeport tidak masuk Indonesia, maka tembaga tsb. akan tetap ngendon di dalam bumi Indonesia, karena utk mining disana membutuhkan biaya yang sangat besar sekali, dan pemerintah Indonesia tidak punya dana dan pengalaman untuk itu. Mengenai kerusakan alam ---- jika terbukti bahwa suatu perusahaan merusak ekologi setempat, maka patutlah perusahaan tsb. dihukum, tidak peduli apakah perusahaan tsb. adalah perusahaan Indo atau luar neger, perusahaan kakap atau teri. Di Amrik banyak sekali peraturan2 yang harus dipatuhi oleh perusahaan2 untuk melindungi environment setempat. Dan peraturan2 ini diikuti dengan ketat. Kalau ada yang melanggar, pastilah di denda. Apakah di Indonesia ada peraturan2 seperti itu? Atau apakah seperti hal2 yang lain di Indonesia yang ada peraturannya, maka mudah dilanggar/dibeli???? Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
