--- In [email protected], "Ahmad Pathoni" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ** > Saya kita negara-negara Islam bukanlah yang paling miskin. Negara- negara > Arab justru kaya dan beberapa dari mereka seperti Qatar dan Uni Emirat Arab > tertata dengan baik dan disiplin.
++++ Saya sering buisness trip ke negara negara ini, dalam rangka financeing proyek proyek mereka dengan menggunakan mesin mesin serta tekhnology Austria. kesimpulan saya adalah: 1) Perkembangan negeri mereka, saudi Arabia, Emirates adalah se mata mata karena MINYAK dan GAS, bukan karena SDM mereka. 2) perkembangan ini 100% ditumpu oleh know how Barat dengan tenaga Expatriates dari Barat. Buruh buruihnya datang 100% dari negara negara Muslim: Nangla Desh, Pakistan, Malaysia, Indonesia, dll. 3) Management management perusahaan besar, hotel hote serta banking institutions dipegang oleh akhli akhli dari Barat. > Tapi saya bukanlah orang yang menghubungkan kemajuan suatu bangsa dengan > agamanya. Kondisi bangsa-bangsa sekrang ini mungkin disebabkan oleh faktor > berlainan, bisa budaya dan sejarah atau geografis dll. Saya kira dalam Islam > juga orang dianjurkan untuk mencari ilmu dan bekerja keras. > Sekarang bisakah anda menjelaskan kemajuan Jerman simply karena kekristenan > mereka atau Jepang karena keshinto-buddhaan mereka? +++ Lalu latar belakang budaya apa yang anda mau suguhkan? Budaya Islam? Dianjurkan bekerkerja keras? Hasilnya? Di Indonesia terjadi? di Pakistan? di Bangla Desh? di Tunisia? \ > Dunia Islam sekrang mungkin nggak semaju Eropa atau Amerika Serikat > (Christendom) tapi jangan lupa bahwa Islam juga memberi sumbangan kepada > renainsans Eropa di bidang scence, arts, literature dan philosophy. Siapa > yang melahirkan Aljabar, Algorithm, dasar-dasar fondasi ilmu Kimia, angka 0 > dan astronomy? +++ INi sudah lama berlalu, kok berhenti? Anda mau hidup dari mimpi masa lalu? Lalu bagaimana anda mau selesaikan Sidoardjo, korupsi, kebodohan dan keterbelakangan? > > Kalo anda pikir saya hanya omong kosong saja. Ini dari laporan dari koran > Inggris The Independent. +++ Omong kosong atau tidak, lihatlah keliling anda. Siapa yang menghuni hunian kumuh di tanah Air kita? Siapa yang menghuni hunian luxus di jakarta dan kota besar lainnya? bangun bung, bangun!
