mahar itu memang maksudnya menjual anak gadisnya. jadi kalau orangtua si perempuan menerima mahar dari pihak laki2, artinya anaknya sudah digadaikan dan selamanya tidak berhak lagi turut campur anak perempuannya diperlakukan apapun juga, kecuali tentunya melanggar hukum negara. Tapi kalau anak perempuan yang sudah dijual itu di jadikan seperti pembantu, orangtuanya sudah tidak bisa protes lagi. lah wong udah dijual.
jadi kalau si dede bilang mengangkat derajat perempuan, hal itu sangat menggelikan. makanya, lawanlah budaya menjual anak dengan tidak menerima mas kawin dari pihak laki2. Ini berlaku untuk budaya apapun juga, tidak hanya untuk agama islam. sudah bukan jamannya lagi anak perempuan dijual kepada pihak laki2. mj --- In [email protected], dede hermawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau saya boleh ikut campur,,,tujuan Islam mewajibkan mahar pada calon istri adalah sebenarnya mengangkat si perempuan tersebut..dalam kontek historis, di mana seorang perempuan sebelum Rasul nyaris tidak ada penghormatan sama kaum perempuan...Kini setelah Rasul dan Islam datang, martabat kaum Hawa terangkat dengan mewajibkan pada calon istri harus ada mahar... > Rasul sendiri tidak memberikan batasan dalam hal mahar bahkan beliau sendiri kalau tidak mampu maka dengan cicin besi... > > ISlam itu sebenarnya tidak memberatkan pada kaumnya, bahkan memudahkan.. > > trims, > > Dede > > Immanuel Rey <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Makin muak kok hahahahaha...MUNTAH dong, baru benar! Lagi pula mau mengajari orang tatakrama yang baik, mosok ngajak ketemu pakai kondom rasa baru segala. Apa hubungannya? Akh, yang mengundang FITNAH itu siapa? Entar dia bilang, "Nah kan benar. Kamu yang biadab!" > > Hei bung, Ny Muskitawati itu harus kita lawan pakai nalar. Kasih alasan atawa argumen yang masuk akal bahwa dia salah. Nanti juga dia keok. Itu juga kalau kau bisa. Saya pikir Ny Mus itu cuma mau mencari tahu bagaimana cara kita bernalar, sampai di mana pengetahuan kita. Gitu saja kok repot, Hehehe. > > Salam, > IUR > > erick enggano <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Hahahaha.... saya sekarang makin muak dengan opini-opini nyonya yang satu ini. Kerjanya mengundang FITNAH aja. Selaku orang Indonesia saya merasa Nyonya Muskitawati perlu diajarkan tatakrama yang baik...!!! > > Nyonya Mus, ketemuan yuk??? Saya punya kondom rasa baru nih, khusus untuk Muskitawati. > > salam, > > erick enggano > > --- Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Batul <jereweh@> wrote: > > > Sana`a (ANTARA News) - Setelah beberapa tahun > > berpacaran dan menunggu > > > bersanding dengan istri tercinta, harapan itu > > kandas ketika pesta > > > pernikahan berlangsung. Sang mertua bersikeras > > meminta sejumlah uang > > > yang tergolong besar kepada menantunya sebagai > > syarat dapat memboyong > > > puterinya. Tanpa pikir panjang pengantin pria > > langsung mencerai > > > pengantin wanita itu di hadapan para tamu. Pesta > > bahagia yang > > > diharapkan terwujud berganti dengan kesedihan. (*) > > > > > > > > > Tragedy diatas ini khan bisa terjadi hanya sebagai > > akibat dari ajaran > > Islam itu sendiri. Apa yang dilakukan meretua itu > > sesuai dengan > > aturan dalam agama Islam itu sendiri. Namun dalam > > kacamata peradaban > > sekarang ini perbuatan ayah mertua itu adalah amoral > > dan unethical. > > > > Banyak sekali tragedy dalam kehidupan umat Islam > > akibat ajaran2nya > > yang sebenarnya sangat biadab untuk ukuran kehidupan > > dizaman modern > > ini. Namun tragedy2 ini wajib ditutupi oleh setiap > > umat Islam karena > > dilarang men-jelek2an agama sendiri dalam hal ini > > juga ada ajarannya > > dalam Al-Taqya. > > > > Wanita dalam Islam memang dianggap barang yang bisa > > dijual beli. > > > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > > --------------------------------- > Pinpoint customers who are looking for what you sell. > > > > > --------------------------------- > Luggage? GPS? Comic books? > Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. >
