Salam untuk Hardi, Kita memang punya alasan kuat untuk marah kepada Malaysia, mulai dari kasus Negara Boneka, Sipadan Ligitan, Ambalat sampai kepada kasus penganiayaan PRT. Tapi, untuk kasus penjarahan hutan, kita juga harus menyalahkan aparat, pemda setempat & pemerintahan pusat yang tidak serius menangani kasus pembalakan hutan-hutan di Kalimantan. Jika saja pemerintah Indonesia berani menangkap bahkan bila perlu sampai melakukan tindakan tegas terhadap para pembalak dan pengusaha hitam disana, saya berani jamin kasus pembalakan hutan dan pembakaran hutan tidak akan ada lagi.
Jangan lupa juga kasus pengangkutan pasir Indonesia ke Singapore. On 9/5/07, Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Gimana nggak marah? > Malaysia menjarah kekayaan hutan Indonesia. Merekalah bandar - bandar > illegal logging selama ini. > Setelah kenyang dengan kayu - kayu curian , mereka meratakan hutan - hutan > yang tersisa untuk ditanami sawit. > Tahukah anda, apa arti dari hilangnya hutan? > 1. orang - orang Dayak di Kalimantan kelaparan. Kayu habis, rotan hilang, > seisi hutan hilang. > 2. Hutan hilang satwa liar punah. Berapa ribu orangutan yang terbantai > karenanya? > 3. Hutan dibakar, tahukah anda kenapa? Ini untuk menghapuskan jejak - > jejak atau tanda kepemilikan atau pengelolaan masyarakat atas hutan itu. > Siapa yang paling menderita dan paling merugi atas asap itu? Berapa milyar > uang yang dhabiskan Indonesia untuk memadakan api kebakaran hutan? > > Setelah ditanami sawit, siapa yang makmur? Rakyat yang mana? > Duitnya lari ke Malaysia. Setelah 30 tahun ditanami sawit, dan tanahnya > rusak karena pemupukan yang overdosis,....tinggilah lahan kering nan tandus. > Tinggal keruk aja , dibawahnya banyak batu bara. Duitnya untuk Malaysia. > > Sadarlah bung! Kalimantan sedang menuju babak baru dijajah Malaysia. > > Hardi and Orangutan. >
