selain membenci malaysia yang ntah gmn caranya telah berhasil meng-invasi kekayaan indonesia dan sekarang tontonan EPL yg sebenarnya ngga penting2 amat untuk dilobi sama pemerintah apa lagi didemo (k*mpr*t gw malu banget, pemerintah mau melakukan lobi untuk sebuah tontonan yg memang sih atraktif), seharusnya kita lebih benci lagi dengan indonesia yang bodoh, ngga pernah solid dan ngga tau cara untuk menang ini serta diperparah dgn ketidakbijak-an menempatan prioritas. Perlu kita sadar, SDM kita sebenarnya jauh lebih unggul dari negara tetangga kita, ngga hanya tenaga kasar (PRT dan Perkebunan) tapi juga tenaga ahli my friends... tapi ironisnya, justru negara lainlah yg lebih menikmati keunggulan tsb. Pun demikian dengan SDA kita, kita marah2 dengan malaysia yg justru menikmati SDA kita, tapi ironisnya kita justru lupa saudara sebangsa kita juga yang menjarahnya untuk kepentingan malaysia. saya pribadi lebih membenci bangsa saya (baca: Indonesia) yang bermental budak seperti ini dari pada saya repot2 meng-ganyang orang lain (baca: bangsa lain) toh saya tidak terlalu peduli dengan bangsa lain sebagaimana saya ngga pernah yakin mereka peduli dengan bangsa saya.
dalam lagu redemtion song-nya, bob marley bilang "emancipate yourself from mental slavery", sepertinya banyak kaum negro menemukan kebanggaannya kembali melalui pemikiran yang sama dgn bob (walaupun, tidak melalui lagu2 bob sendiri). Lalu bagaimana Indonesia bisa menemukan kembali kebanggaanya, sementara yang kita lihat sekarang hanya soal membenci bangsa lain, ganyang-ganyangan dan tontonan yang ga penting2 amat (coba gibol indo ngga tll gila sampe rela langganan astro, bukankah astro sendiri yang rugi, kalo dah gitu musim depan EPL gratis lagi dong, ato kita lihat aja sampe berapa lama astro dapat bertahan)??? Hidup Soekarno??? tanpa mengurangi rasa hormat saya yg teramat besar terhadap beliau, faktanya beliau sudah lama mati. Pemikirannya sudah banyak yang dibiaskan/dibelokkan orang2 masa kini yang ngga secerdas n sebijak beliau. salam, lama tak masuk group ini. --- In [email protected], "socio.pathos" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kesimpulannya, kita memang harus benci Malaysia 'kan? > Suruh tuh Astro pulang ke kandangnya bawa semua dekodernya! > Emang enak disuruh bayar untuk nonton bola, tapi duitnya semua balik > ke sana??? Kalau minta duit, senyum manis. Duile, siapa dia main gebuk > orang kita? Siapa dia main hajar TKI kita? Makin dendam baca posting > ini deh! > > Ganyang Malaysia memang jargon mantap... hidup Soekarno! > > --- In [email protected], Henry <blackq84@> wrote: > > > > mungkin sedikit melenceng dari pokok permasalahan, hanya pengen > cerita sedikit tentang pengalaman baru2 ini, > > > > Hari sabtu tgl 1 september saya menghadiri acara Malaysian Night > dalam rangka hari kemerdekaan mereka, teman2 saya banyak orang > Malaysia dan mereka asik2 saja. > > > > Didepan pintu masuk gedung kita diberi brosur, mengenai sejarah > perjuangan Malaysia yang ditulis oleh salah satu menteri (lagi gak > bawa brosurnya nanti saya update siapa penulisnya) yang jelas itu > adalah tulisan resmi. > > > > Sepertinya menarik saya pikir, ya sudah saya baca saja, tapi, > halaman pertama dari booklet itu benar2 bikin panas hati, kata2; > > 'Indonesia mendapatkan kemerdekaan dari peperangan dan darah' > > 'Malaysia yang sejahtera dan dapat memberikan pekerjaan kepada > jutaan orang Indonesia' > > 'Malaysia yang makmur tidak miskin seperti Indonesia' > > adalah beberapa kalimat di dalam booklet itu, > > > > Terus terang sampai sekarang saya tidak benci dengan Malaysia tapi > tidak juga hormat, jadi malah bersyukur datang ke Malaysian Night itu, > jadi saya tahu memang banyak gelintir masyarakat malaysia yang > menganggap Indonesia yahh..kasarnya 'rendah'. > > > > Salam, > > >
