Anda,

Betul, itu karyanya Beeethoven, nggak tahu kenepa terketik Mozart. Siang ini 
baru ingat waktu itu saya sedang sibuknya periapan Conecrt  karya Dietrerich 
Boxtehude untuk tgl 23 September, 2007 minggu lalu di Meyerson, Dallas 
Symphony, dan juga disibukkan dengan tab gitar dan Choral Muisc dan Piano 
Concertonya Mozart. Terima kasih atas koreksinya.

Biasanya habis concert semuanya hilang karena saya lebih banyak bersenandung 
Moondancenya Van Morison, Still got the bluesnya Gary Moore dan lagu-lagu 
Scorpions.

Soal Palestina dan Israel itu dibutuhkan logika mendasar serta kesadaran. Soal 
pendertaan rakyat Palestina itu kita tentunya sangat prihatin. Mereka ingin 
hidup damai tapi tersandung oleh pemimpinnya jadi disini yg saya bicarakan 
adalah pribadi Yasser Arafat dan org terdekatnya Suha juga terpaksa harus 
menyelamatkan putri mereka. Solidaritas sih boleh saja, tapi bentuknya apa?

Saya sendiri belum berpartisaipasi karena pikiran, waktu dan energy saya 
tercurah 100% ++ bagi tugas kemanusiaan buat bangsa ku "Indonesia". Biarpun 
jelek hanya inilah bangsa "ku" dan suatu waktu pasti ada titik terang, kuncinya 
"ACTION".

Terima kasih dan salam kenal, trims atas koreksinya.

HH
 
  ----- Original Message ----- 
  From: idakhouw 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, September 30, 2007 7:26 AM
  Subject: [mediacare] Re: Agama + Dengki


  Maaf ya Bu Henny, untuk sedikit ralat ini: 
  "Ode to Joy" atau kadang -dalam nyanyian gereja- lebih populer sebagai "Song 
of Joy" adalah bagian akhir dari Simponi No.9 nya Beethoven, jadi bukan karya 
Mozart.

  Kebetulan saya pernah bincang2 menyangkut Ode to Joy ini, ketika mencoba 
menjelaskan pada penganut ateisme pengalaman getaran ilahi yang dirasakan kaum 
teis, berikut ini:
  "Saya menemukan tayangan narasi alm. Leonard Bernstein mengomentari "Ode to 
Joy"nya Beethoven di sini .
  Silakan dicermati dengan seksama kata2 Bernstein yang mencoba menerangkan 
bahasa spiritual Beethoven, mungkin sulit dicerna oleh mereka yang tidak 
mencoba masuk ke 'gelombang' yang sama dulu (maksud saya mencoba mengerti 
'getaran' yg sering dirasakan kaum theist seperti dilukiskan Bernstein)."

  Sementara tentang Israel dan kawasan Timur Tengah. Menurut saya kita harus 
belajar lebih arif menyikapinya. Ada banyak hal yang memang layak dan perlu 
kita kecam dari Israel. Masalahnya di Indonesia persoalan jadi tambah rumit 
karena kebanyakan rakyatnya membingkai konflik Timur Tengah dengan sentimen 
agama. 
  Sentimen agama itu berbahaya, karena apa yang di Timteng berbentuk kucing, 
sentimen agama orang Indonesia memaknainya  jadi macan; di sana ular di sini 
jadi gajah. 

  Rakyat Palestina sangat layak mendapat simpati kita, namun seharusnya simpati 
 itu diungkapkan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, dan bukan karena 
dorongan sentimen agama. 
  Saya sendiri pernah ke Israel/Palestina, belasan tahun lalu; kenyataan yang 
saya saksikan di sana memang sangat berbeda dengan persepsi orang Indonesia 
pada umumnya.

  Salam,
  Ida Khouw

  --- In [email protected], "Henny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  tahun 1993 kalau tidak salah, dalam suatu Concert damai membawakan karya 
Mozart "Ode to Joy" di New York, Mayor Giuliani menolak gagasan UN untuk 
menghadirkan Arafat. Undangan sdh dicek dan tak ada nama Arafat akan tetapi 
entah bagaimana Arafat bisa hadir di konsert tsb. Mayor Giuliani bilang org tsb 
harus keluar dari gedung ini sebelum saya berpidato......dia berhasil.
  > 
  > Sebentar lagi akan ramai penghujatan kepada candidat president US, apalagi 
bila yang maju Giuliani. Mereka nggak sadar bahwa suara mereka tidak didengar 
dan sebaiknya ngurusin negeranya sendiri dari pada ikut nimbrung negara org 
lain...kita tunggu saja.
  > HH

  ->


   

Kirim email ke