Musik itu konon katanya obat awet muda, nah tapi katanya lagi JANGAN kawin 
dengan musisi yang tidak punya pekerjaan tetap lainnya...sebab akan merana 
hidupmu, alias miskin. Suka lupa daratan mereka apalagi soal hutang, kalau sdh 
main musik lupa sama hutang. Betul nggak sih??????

Nggak masalahlah aku tetap suka bernyanyi....dan ini obat mujarab terbebas daro 
"DENGKI".

Nggak percaya mau protes wah bisa di "TEST" dulu, sakit hatipun hilang, 
bencipun jadi rindu.

Kalau saja orang Arab itu suka bernyanyi rasa permusuhan bisa hilang 
.......dunia bisa aman.

Salam,

HH



  ----- Original Message ----- 
  From: idakhouw 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, October 01, 2007 5:12 AM
  Subject: [mediacare] Re: Agama + Dengki


  Wah ternyata musik adalah dunia bu Henny ya, sebuah dunia yang indah
  dan mengasyikkan.

  Salam,
  Anda.

  --- In [email protected], "Henny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Anda,
  > 
  > Betul, itu karyanya Beeethoven, nggak tahu kenepa terketik Mozart.
  Siang ini baru ingat waktu itu saya sedang sibuknya periapan Conecrt 
  karya Dietrerich Boxtehude untuk tgl 23 September, 2007 minggu lalu di
  Meyerson, Dallas Symphony, dan juga disibukkan dengan tab gitar dan
  Choral Muisc dan Piano Concertonya Mozart. Terima kasih atas koreksinya.
  > 
  > Biasanya habis concert semuanya hilang karena saya lebih banyak
  bersenandung Moondancenya Van Morison, Still got the bluesnya Gary
  Moore dan lagu-lagu Scorpions.
  > 
  > Soal Palestina dan Israel itu dibutuhkan logika mendasar serta
  kesadaran. Soal pendertaan rakyat Palestina itu kita tentunya sangat
  prihatin. Mereka ingin hidup damai tapi tersandung oleh pemimpinnya
  jadi disini yg saya bicarakan adalah pribadi Yasser Arafat dan org
  terdekatnya Suha juga terpaksa harus menyelamatkan putri mereka.
  Solidaritas sih boleh saja, tapi bentuknya apa?
  > 
  > Saya sendiri belum berpartisaipasi karena pikiran, waktu dan energy
  saya tercurah 100% ++ bagi tugas kemanusiaan buat bangsa ku
  "Indonesia". Biarpun jelek hanya inilah bangsa "ku" dan suatu waktu
  pasti ada titik terang, kuncinya "ACTION".
  > 
  > Terima kasih dan salam kenal, trims atas koreksinya.
  > 
  > HH
  > 
  > ----- Original Message ----- 
  > From: idakhouw 
  > To: [email protected] 
  > Sent: Sunday, September 30, 2007 7:26 AM
  > Subject: [mediacare] Re: Agama + Dengki
  > 
  > 
  > Maaf ya Bu Henny, untuk sedikit ralat ini: 
  > "Ode to Joy" atau kadang -dalam nyanyian gereja- lebih populer
  sebagai "Song of Joy" adalah bagian akhir dari Simponi No.9 nya
  Beethoven, jadi bukan karya Mozart.
  > 
  > Kebetulan saya pernah bincang2 menyangkut Ode to Joy ini, ketika
  mencoba menjelaskan pada penganut ateisme pengalaman getaran ilahi
  yang dirasakan kaum teis, berikut ini:
  > "Saya menemukan tayangan narasi alm. Leonard Bernstein
  mengomentari "Ode to Joy"nya Beethoven di sini .
  > Silakan dicermati dengan seksama kata2 Bernstein yang mencoba
  menerangkan bahasa spiritual Beethoven, mungkin sulit dicerna oleh
  mereka yang tidak mencoba masuk ke 'gelombang' yang sama dulu (maksud
  saya mencoba mengerti 'getaran' yg sering dirasakan kaum theist
  seperti dilukiskan Bernstein)."
  > 
  > Sementara tentang Israel dan kawasan Timur Tengah. Menurut saya
  kita harus belajar lebih arif menyikapinya. Ada banyak hal yang memang
  layak dan perlu kita kecam dari Israel. Masalahnya di Indonesia
  persoalan jadi tambah rumit karena kebanyakan rakyatnya membingkai
  konflik Timur Tengah dengan sentimen agama. 
  > Sentimen agama itu berbahaya, karena apa yang di Timteng berbentuk
  kucing, sentimen agama orang Indonesia memaknainya jadi macan; di
  sana ular di sini jadi gajah. 
  > 
  > Rakyat Palestina sangat layak mendapat simpati kita, namun
  seharusnya simpati itu diungkapkan sebagai bentuk solidaritas
  kemanusiaan, dan bukan karena dorongan sentimen agama. 
  > Saya sendiri pernah ke Israel/Palestina, belasan tahun lalu;
  kenyataan yang saya saksikan di sana memang sangat berbeda dengan
  persepsi orang Indonesia pada umumnya.
  > 
  > Salam,
  > Ida Khouw
  > 
  > --- In [email protected], "Henny" <hennyp@> wrote:
  > 
  > tahun 1993 kalau tidak salah, dalam suatu Concert damai membawakan
  karya Mozart "Ode to Joy" di New York, Mayor Giuliani menolak gagasan
  UN untuk menghadirkan Arafat. Undangan sdh dicek dan tak ada nama
  Arafat akan tetapi entah bagaimana Arafat bisa hadir di konsert tsb.
  Mayor Giuliani bilang org tsb harus keluar dari gedung ini sebelum
  saya berpidato......dia berhasil.
  > > 
  > > Sebentar lagi akan ramai penghujatan kepada candidat president
  US, apalagi bila yang maju Giuliani. Mereka nggak sadar bahwa suara
  mereka tidak didengar dan sebaiknya ngurusin negeranya sendiri dari
  pada ikut nimbrung negara org lain...kita tunggu saja.
  > > HH
  > 
  > ->
  >



   

Kirim email ke