Assalamulaikum WW
Sanak
........ pintar dan bodoh nan dikemukakan sanak Ronal adalah standard negara RI.
Coba mau jadi pegawai negeri atau caleg, apa nggak disyaratkan kertas selembar
tsb?
Mau
tahu, setiap juara kelas, yang diukur dengan ilmu legal disekolah saja, sering
dapat penghargaan berlebihan. Tapi yang potensi yang lain kurang atau malah
tidak diperhatikan.
Pernah
di alamamter saya, berebut memberi beasiswa untuk sang juara. Jadi sang juara
mendapat rezki melimpah. Pada hal tolok ukur juara disini adalah pelajaran pokok
dan legal saja. Bagaimana dengan potensi lain coba .......... misalnya
organisasi, ekstrakurikuler, olah raga, kesenian, ustaz dll?
Wass.
WW
St.P
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of syafwardi
Sent: Thursday, July 29, 2004 2:38 PM
To: Muhammad Arfian; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Siapa Kah Kita ?
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of syafwardi
Sent: Thursday, July 29, 2004 2:38 PM
To: Muhammad Arfian; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Siapa Kah Kita ?
Saya juga agak kurang setuju dengan pendapat sdr Ronald, mungkin perlu
dikasih tahu juga apakah itu pendapat pribadi atau ada sumbernya.
Kalau boleh saya tanggapi, sdr Ronald terlalu gamblang dan dangkal dalam
mengartikan pintar dan bodoh, pintar dan bodoh tidak dapat diukur hanya dengan
melihat tingkat pendidikan, selain itu pintar atau bodohnya seseorang tidak
dapat digeneralise untuk semua permasalahan, orang yg pintar di suatu bidang
mungkin bisa bodoh di bidang yang lain.
Btw, itu pendapat saya, mungkin memang ga sama dengan pendapat orang lain,
tapi ga salah kan? sebelumnya saya minta maaf kalau ada kata-kata yang kurang
pas. Thx.
Muhammad Arfian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Muhammad Arfian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalaamu'alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
Ronal, kayaknya terlalu ambisius mengatakan bahwa orang yang tidak punya
gelar S-1 adalah orang bodoh. Mereka hanya mengambil pilihan untuk tidak
membayar opportunity cost seperti orang-orang yang pergi kuliah untuk
mendapatkan S-1, dan bagi saya mereka adalah orang-orang pintar juga.
Saya tidak membayangkan jika sebagian besar kita bergantung pada orang bodoh
(yang benar-benar bodoh, bukan sekedar tidak punya S-1), sudah berapa juta
jiwa yang melayang sia-sia. Insya Allaah jika kita mau berpikir dan
berusaha, Allaah SWT akan melindungi kita dari ketergantungan kepada
orang-orang bodoh. Na'udzubillaahi min zhalik...
Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

