Mumpung masih diskusi masalah kereta api maka saya 
forwardkan satu tulisan tentang perkereta apian di 
Indonesia yang disiarkan :

http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=53202

TEROPONG:

Reporter : Yadi Supiyandi
Juru Kamera : Joni Suryadi

indosiar.com, Jakarta - Kereta api merupakan sarana 
angkutan penting di Indonesia. Pada jaman kolonial, 
pemerintah Belanda sudah menyadari ini. Mereka membangun 
jaringan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota di 
Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Namun saat ini, 
per-kereta apian nasional justru tidak berkembang lebih 
baik. Pelayanan yang buruk, gerbong yang tidak terawat, 
hingga jalur yang terpaksa ditutup, adalah potret buram 
dari perkereta-apian kita saat ini.

Seratus lima puluh tahun lalu, lokomotif ini pernah 
berjaya. Saat itu ia menjadi kendaraan penting bagi 
pemerintah Kolonial Belanda. Lokomotif buatan sekitar abad 
ke -19 ini masih digerakan dengan mesin tenaga uap dan 
kecepatan maksimalnya hanya sekitar 60 kilometer perjam.

Sebagian besar loko dibuat di Jerman dan Inggris dan 
dipesan pemerintah Hindia Belanda untuk mengangkut rempah 
- rempah dan batu bara di Pulau Jawa, Sumatera dan 
Sulawesi. Sebagian besar loko ini berada di museum 
transportasi di Taman Mini Indonesia Indah yang masih 
menyimpan sebagian sejarah perkeretapian nasional.

Sejarah panjang kereta api dimulai pada tahun 1864 di masa 
pemerintahan Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Hindia 
Belanda saat itu, Mister Baron Sloet van Den Beele 
memerintah untuk membangun jalur rel kereta api dari 
Kemijen ke Tanggung di Semarang – Jawa Tengah sepanjang 
duapuluh enam kilometer. Sejak itu, pembangunan jalur rel 
kereta api begitu pesat, hingga ke Jawa Barat, Jawa Timur, 
Sumatra Utara, Lampung, dan Sulawesi.

Pesatnya pembangunan perkereta apian saat itu, tidak 
terlepas dari peranan swasta yang didukung oleh 
pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.

Selain perusahaan milik pemerintah, yakni Staats 
Spoorwegen, tercatat ada sebelas perusahaan swasta yang 
bergerak di perkereta apian di Pulau Jawa dan satu di 
Sumatera. Ini menunjukan begitu seriusnya pemerintah 
Hindia Belanda mengelola transportasi ini.

Dan saat itu, hampir semua perusahan perkebunan dan 
kehutanan membangun jaringan kereta api untuk mengangkut 
rempah rempah ke pelabuhan terdekat untuk kemudian dibawa 
ke Eropa

Pentingnya sarana angkutan ini untuk mengangkut hasil 
bumi, pada tahun 1876 pemerintah Hindia Belanda kemudian 
membangun jalur kereta api Jakarta – Bogor. Lalu selang 
lima tahun kemudian, pada tahun 1881, dibangun pembangunan 
jalur kereta api Pulu Aer - Padang di Sumatra Barat dan 
jalur di Prabumulih di Palembang, hingga pembukaan jalur 
rel kereta api di Takalar - Sulawesi Selatan.

Selama tiga ratus tahun pemerintah Belanda mengandalkan 
angkutan ini, karena kereta api telah terbukti menjadi 
penggerak kegiatan ekonomi pada masa itu. Sejarah juga 
mencatat, kereta api tidak sekedar alat angkutan semata, 
namun juga sebagai sarana perjuangan.

Kereta api luar biasa ini pernah mengangkut presiden 
pertama, Soekarno bersama pejabat pemerintah ketika 
pemerintahan saat itu harus berpindah dari Jakarta ke 
Yogjakarta pada tanggal 3 Januari 1946. Saat itu ada 
delapan rangkaian gerbong kereta yang siap, Soekarno 
ketika itu meminta agar kereta api ini bergerak pelan 
ketika meninggalkan Jakarta, agar tidak menimbulkan 
kecurigaan pihak Belanda.

Kereta api ini tadinya milik pihak Belanda dan saat itu 
tergolong sangat mewah. Kereta api ini dilengkapi dengan 
alat pendingin dari balok es yang ditaruh di bagian bawah 
kereta. Soekarno sendiri merasa berkesan dengan kereta api 
ini. Saat ini kereta api bersejarah tersebut masih terawat 
baik di Musium Transportasi di kawasan Taman Mini, Jakarta 
Timur.

Tiga abad lamanya, pemerintah Belanda mengandalkan alat 
transportasi ini, dan tanpa alat ini, perekonomian Hindia 
Belanda tidak akan maju dengan pesat. Kini, lokomotif ini 
menjadi besi tua dan berkarat dimakan waktu, padahal ia 
menyimpan sejarah panjang transportasi kita yang pernah 
berjaya pada masa itu.

Kejayaan itu kini hanya tinggal menjadi sejarah semata, 
bila melihat kondisi perkereta apian nasional saat ini 
yang perannya makin terpinggirkan. Padahal, sarana 
angkutan ini bisa memecahkan kebuntuan dari problem 
angkutan publik di negara- negara maju.

Padahal pemerintah kolonial Belanda saat membangunnya 
sudah memperhitungkan segala untung ruginya. Haruskah 
pemerintah menambah subsidi, agar bantalan rel ini bisa 
berfungsi kembali. Atau menaikan tarif kereta yang 
harganya saat ini memang jauh lebih murah dibandingkan 
sarana transportasi lain.

Pertanyaan inilah yang segera ditemukan jawabannya. 
Masalah ini menjadi lingkaran setan yang tidak ada 
ujungnya. Menaikan karcis, berarti membebani penumpang 
yang ada. Begitu pula dengan menambah subsidi, ditengah 
sulitnya kondisi keuangan negara saat ini.

Namun kami menghitung, bisa jadi rute - rute mati yang 
kami susuri ini justru menguntungkan. Karena warga disini 
sangat membutuhkan sarana angkutan yang murah dan cepat 
untuk bisa mengangkut hasil bumi dan pertanian.

Sebuah ironi. Jaringan kereta api yang sudah ada sejak 
tiga ratus tahun lalu, justru kini harus kalah bersaing 
dengan sarana transportasi lain. Padahal bila angkutan ini 
dikelola dengan baik dan serius, kereta api akan sangat 
membantu menyelesaikan persoalan kemacetan lalu lintas 
yang semakin ruwet, dan sedikit meringankan beban ekonomi 
masyarakat kelas menengah ke bawah yang sangat membutuhkan 
angkutan yang murah, cepat dan aman.(Idh)



On Mon, 4 Sep 2006 18:39:00 +0100 (BST)
  Idris Talu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum wr. wb.,
>  Dinda Nofrins dan para netters yang saya hurmati,
>  
> Hati ini amat ingin turut berdiskusi tentang keretapi di 
>Sumbar  tetapi masa kurang mengizinkan. Saya cuma ingin 
>perturunkan article  dari Malaysia ini untuk direnungi 
>bersama,  moga-moga ianya  memberikan pandangan-pandangan 
>(views) baru tentang kelebihan dan  kekurangan yang 
>diberikan oleh keretapi.
>  
>  Sekian,
>  Wassalam,
>  
>  Idris Talu (55+)
>                                                        ADB 
>Jangka Agihkan AS$40 Juta Kepada Kemboja  Dalam Tempoh 
>Lima Tahun
>  August 26,  2006 3:42 PM 
>              Oleh  Nor Baizura Basri 
>      KUALA LUMPUR, 26 Ogos (Bernama) -- Bank 
> Pembangunan Asia (ADB) menjangka dapat mengagihkan AS$40 
>juta pinjaman mudah  kepada Kemboja bagi melaksanakan 
>projek Landasan Keretapi Singapura-Kunming  (SKRL) dalam 
>tempoh lima  tahun.
=================================================================
Ikuti lomba Puisi Online dan Desain Kartu Elektronik
Keterangan lebih lanjut, silakan buka
http://www.plasa.com/
=================================================================

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke