Dear Parents, Saya sangat setuju dengan pendapat pak Yusuf. Saya sendiri saat pertama kali menerima PRT/baru pasti saya bilang, kalo kita ini satu keluarga (kalo ada apa2 khan yang paling bisa bantu adalah orang2 yang berada di dekat kita / serumah). Kami tidak pernah membeda2kan, mulai dari menu makanan, dll (yang ngatur adalah PRT saya). Saya baru mulai menggunakan jasa PRT saat hamil, namun mereka keluar- masuk karena tidak kerasan (rumah terlalu sepi, PRT sendirian dari pagi sampai malam karena saya dan suami bekerja dan pulang larut malam), sampai kemudian anak saya lahir baru PRT saya kerasan (sampai sekarang sudah 3 tahun) karena rumah tidak sepi lagi, ada PRT, ada BS dan ada Shanon bidadari kami. Meskipun PRT dan BS saya tidak sempurna (karena memang tidak ada manusia yang sempurna) seperti rada jorok, masakan tidak pas, dll, namun buat kami it's OK, asal mereka jujur (kalo yang ini sih syarat mutlak). Meskipun gaji mereka relatif tidak besar (karena kami bukan dari keluarga yang berlebih), namun mereka dengan sukarela kembali bekerja setelah mudik (sudah 3x mudik), bahkan saat PRT kami menderita sakit batuk yang tidak sembuh2 dan selama pengobatan terpaksa kami ungsikan sementara (takut menular ke bidadari kami), BS kami memanggil keponakannya dari desa untuk membantu di rumah. Kebetulan sekali Bidadari kami sangat cocok dengan keponakan BSnya, jadilah kami tampung dia meskipun PRT saya sudah sembuh dan kembali, dan bahkan kami sekolahkan di SMK (supaya kelak dia tidak hanya bisa jadi PRT, kesian). Tiap pagi sebelum berangkat kerja saya antar PRT baru(keponakan BS) ke sekolah dulu karena kebetulan lokasi sekolahnya dekat. Bahkan seragamnya pun saya yang jahitkan badgenya (soalnya dia tidak bisa menjahit). Saat saya mau mensekolahkan dia, saya tanya dulu, apa dia tidak keberatan bila suatu ketika kami terlambat membayar SPP karena suatu hal (khan kami bukan dari keluarga yang berlebih), serta dia harus berjanji untuk benar2 belajar dan sekolah sampai tamat agar tidak sia2 upaya kami menyisihkan dana hasil keringat kami. Anak ini cukup pengertian juga, saat kami tidak ada uang untuk membelikan dia sepatu baru, dia membeli sendiri dengan uang gajinya (tanpa perhitungan). Mereka, baik PRT lama, BS, dan PRT baru kami juga benar2 menganggap Shanon sebagai mustika, ini yang membuat kami bisa bekerja dengan tenang. Namun, bukan tidak ada jeleknya, putri kami jadi sangat manja.
Buat saya, seleksi awal PRT, &BS itu sangat penting, jangan sampai salah, karena yang kita titipkan adalah sesuatu yang berharga melebihi jiwa kita sendiri. Namun setelah itu, mereka harus benar2 merawat dan menganggap anak kita sebagai anak mereka sendiri juga, makanya kita harus memberi contoh mereka, bahwa kita menganggap mereka keluarga besar kita. Namun saya sangat tidak setuju pendapat P.Yusuf mengenai perempuan bekerja..Kadang perempuan bekerja itu bukan lagi suatu pilihan, melainkan tuntutan yang tidak lagi bisa dihindari. salam Shanon's mom --- In [email protected], Elen Putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pernyataan Pak Yusuf membuat saya tertegun. Beberapa pemikiranya pernah terlintas di benak saya. > > Untuk ibu rumah tangga yang tidak harus mencari tambahan, bersyukurlah dengan ke'mewah'an yang diberikan Yang Maha Kuasa. Dimana setiap langkah buah hati bisa diperhatikan. Jangan sia2kan kesempatan itu. > > Untuk working mom, hmm, what can I say, mungking memang kita harus be friend dengan PRT/BS kita. Karena ketika kita bekerja, mereka lah yang ada disamping anak2 kita. Saya ingin menulis komentar yang lebih motivated untuk working mom. Tapi saya sendiri pun sedang kesulitan cari orang untuk menjaga anak2 saya. Jadi mimpi "kalau saja saya bisa dirumah terus....." membuat saya kesulitan mencari kata2. > > > Ma'af sebelumnya...... > > > check it out : www.penghasilan-extra.co.cc > > from the bottom of my heart > Elen Halim-Putra > > --- On Wed, 10/8/08, M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [parentsguide] Maaf tentang PRT/BS > To: [email protected] > Date: Wednesday, October 8, 2008, 6:01 AM > > > > > > > mommy andrew at 08/10/2008 13:27 wrote: > >Jangan tertipu lah dengan yayasan yang mengklaim bonafid dengan uang > >admin yang mahal dan gaji sus yang tinggi... mutunya sama aja kaya > >pembantu, selain belagu, karyawan pengurusnya juga lebih parah... > >sakit hati rasanya, kita keluar uang begitu besar dengan harapan dapet > >yang terbaik... ternyata... mereka semena2 terhadap rumah kita, anak > >kita... > > ***Saya sejak awal ikut milis ini, selalu ada email > yang berkaitan dengan PRT atau BS. > Entah komplain, minta tolong dicarikan dan lainnya. > > Saya kira hal itu wajar di zaman sekarang ini, > dimana para wanita (ibu) juga bekerja. > Saya juga pernah mengalami hal itu. > > Namun beberapa email terakhir kok komplainnya tentang BS > kok jelek sekali ya,... > Maaf seperti sampai jijik dengan BS-nya. > Sehingga tidak berkenan BS-nya duduk di ranjang > (apalagi kalau sampai rebahan ya,...) > > Saya sama istri punya komitmen kalau PRT/BS > adalah anggota keluarga besar kita. > Jadi kita tidak perhitungan dengan mereka. > Mereka jelas beda dengan pegawai atau karyawa kita yang lain. > Kenapa ? Karena mereka berkaitan dengan buah hati kita. > Ini sangat riskan, apalagi kalau kedua orang tua bekerja. > > Buah hati kita adalah masa depan kita. > Kita bekerja juga untuk mereka. > Jadi kalau kita (istri) punya komitmen untuk bekerja > harus tahu konsekuensinya. > Kita memerlukan orang lain entah PRT/BS yang mengasuh anak kita. > > Sehingga di sini kita harus memberikan suatu kerjasama yang bagus. > Manusia bukan robot. Mereka juga punya hati. > Kalau kita 'mengorangkan' mereka, dia akan juga 'mengorangkan' kita. > Gaji tinggi tidaklah semata-mata bisa membuat sebuah kerjasama. > > Sama pernah bilang sama istri, kalau kamu complain dengan PRT/BS, > yang salah adalah kamu. Kenapa kamu tidak mengajri mereka dengan telaten. > Kenapa kalau kita di kantor bisa mengajar karyawan baru kita dengan telaten, > PRT/BS baru kita tidak. > > Saya pernah menegur sama istri, kenapa PRT baru tidak diajari mencuci > dan strika. > Diajari sih, tapi hanya diomongin. Saya sendiri sampai mengajari secara praktek > bagaimana mencuci dan setrika. > Tidak hanya sehari dua hari, namun saya awasi sampai benar-benar kita > merasa sreg. > Tentu saja ini capek.. > > Pernah sampai suatu ketika istri complain berat sama PRT/BS, > saya bilang kalau kamu nggak cocok kenapa nggak diganti saja. > "Susah nyarinya dan capel adaptasinya, " kata istri. > Lha, kalau begitu kenapa kamu nggak di rumah saja ? > > Saya bilang kamu kerja punya konsekuensi. > Dan kodratmu sebagai istri dan ibu rumah tangga tetap, > maka kalau kamu tetap kerja seharusnya gajimu harus diberikan semua kepadanya. > Minimal sebagian besar kepadanya. > Karena kamu mempercayakan masa depan kita padanya. > Bukan main-main. > > Buah hati bukanlah percobaan. > Dan kita tidak bisa memutar waktu kalau nanti anak kita jadi durhaka misal. > (keponakan saya yang masih kelas 2 SMA sekarang bermasalah, > saya kasihan melihat adik (orangtuanya) ). > > Jadi kalau memang berkomitmen bekerja, seharusnya kita memang > menghargai para PRT/BS kita. > Apalagi kalau melihat latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi mereka. > Kalau sedikit baik saja entah pendidikannya dan lainnya > mereka mending milih jadi TKI. > Gajinya bisa berlipat-lipat denga pekerjaan yang sama. > > Saya ingin menulis banyak, sangking banyaknya > saya bingung mulai dari mana berkahir di mana. > Mungkin kapan-kapan saya menulis sebagai artikel enerlife, > http://m.yusuf. web.id/v20/ enerlife. > > PRT saya sekarang saya miliki sejak pertama saya miliki PRT sendiri, > yakni Zidan berumur 6 bulan. > Dan sampai sekarang Zidan berumur 8 tahun masih bersama kita. > > Mohon maaf, atas tulisan saya ini. > > Terima kasih > M.Yusuf.web. id > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > Membuat program yang baik dan rapi meringankan separuh pekerjaan. > - [Pepatah] - > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - >

