Bila hubungan antar majikan dan karyawan sudah sedemikian solid (terlepas dari berapa besar gaji mereka, meskipun ini memang relatif sih..), tentunya bila mereka (PRT/BS) mau pulang dan nantinya tidak kembali, mereka akan pamit terlebih dahulu. Demikian pula saat mudik, mereka bilang mau balik kapan. Sehingga majikan bisa siap2 dahulu, apa perlu terpaksa cari infal atau emergency action lainnya. Pengalaman saya sendiri, PRT saya kalo mudik melebihi libur majikannya, bisa sampai 2 minggu (majikannya libur cuma 7-10 hari), namun dia pasti bilang dahulu didepan, dan bila ada perubahan jadwal, jauh2 hari dia akan menghubungi kami by phone; sedang BS saya kalau mudik / pulang kampung, tidak pernah bisa memberi jadwal pasti yang jelas, namun sewaktu2 kehadirannya benar2 dibutuhkan, saya telpon, dia pasti segera kembali. Memang tidak semua PRT / BS bisa seperti itu, tergantung hubungan 'kekeluargaan' kita masing2 (majikan&karyawan), serta character orangnya masing2 juga. Tidak melulu karena kecilnya gaji PRT / BS, sehingga mereka tidak merasa terlalu butuh kerja (jujur saja, kebetulan PRT saya berasal dari keluarga yang cukup mampu - dibanding PRT umumnya, cuma dia stress saja karena suaminya (pedagang di Banjarmasin) kawin lagi jadi dia memilih menjadi PRT; demikian BS saya, kalau dari foto2 keluarganya dan foto kondisi rumahnya, kami bisa melihat dia adalah anak orang yang cukup terpandang dikampungnya. Namun kita bisa menciptakan kondisi yang selama ini masih bisa kita hadapi, seperti saat BS bilang mau cuti 1 bulan karena mendampingi anaknya mau ujian (takut tidak naik kelas), padahal PRT pas lagi batuk nggak sembuh2, saya cari BS baru dan didampingi BS lama dahulu sampai 1mgg baru dia cuti.
Semuanya memang relatif sih, namun kalau kita menganggap 'repot' tentu terasa 'repot', seperti tiap hari raya PRT libur melebihi majikan, dan BS harus ditelpon dulu baru mau balik, dls,dls, BS bolak balik ijin (kepentingan keluarga) sehingga saya harus keluar biaya extra untuk ambil BS baru (khan ada biaya adm yayasan), dll,dll. Namun, kalau saya sih berprinsip, selama kita bisa handle dan hadapi, selama kita lihat kerja BS & PRT (terutama perlakuan ybs ke putra/i kita) OK, dankita bisa memaklumi, ya..it's OK lah. Kalau sampai mereka (PRT/BS) pulang dan tidak balik tanpa ngomong, menurut saya pasti ada yang tidak pas antara hubungan majikan/karyawan. Bukan berarti kesalahan selalu dipihak majikan lho. Karena saya juga pernah kecewa, bukan PRT sih..tahun kemarin saya pernah kasihan dengan Tukang bangunan (yang memperbaiki rumah kami), ditinggal lari istrinya, putrinya terpaksa putus sekolah. Maka anaknya saya sekolahkan dan saya suruh tinggal dirumah dengan pertimbangan kalau tinggal dirumah kami, sianak bisa lebih konsentrasi sekolah, tidak terlalu terganggu bapaknya yang stress ditinggal istri, serta SPP yang saya berikan bisa bener2 nyampe ke ybs, bukannya dipake togel bapaknya. Namun, kayaknya perbuatan kami ini tidak berbuah manis, ibarat menanam benih dilahan tandus. Ternyata anak tukang bangunan tersebut tidak menghargai niat baik kami, pulang sekolah selalu ngluyur tanpa pamit (info PRT kami), dan akhirnya berujung dia minggat (dari rumah kami, maupun dari sekolahnya), ya..mau bagaimana lagi, khan memang orang lain2, seperti cerita moms yang lain, yang sudah bersusah payah membantu karyawannya sampai membantu cicilan kendaraan keluarga karyawannya, tapi mereka tetap saja keluar. Makanya menurut saya, seleksi awal Karyawan itu harus bener2 sip, agar tidak bermasalah dikemudian hari Gimana pak? --- In [email protected], M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sjuria_k at 09/10/2008 15:55 wrote: > > >Mengenai hubungan kerja antara majikan dengan karyawan, menurut saya > >haruslah 'saling' membutuhkan, bukannya majikan lebih butuh (nanti > >karyawannya kerjanya ogah2an dan ngelunjak), atau karyawannya lebih > >butuh (nanti majikannya sewenang2), itu baru enak seiring sejalan. > > ***Teman kantor (laki) bolos kerja. > Ternyata istrinya juga bolos kerja. > Gantian. Alasan teman karena sakit perut. > Bos marah-marah, masak sakit perut sampai tidak masuk. > Ternyata PRT/BS-nya tidak kembali. > > Karena mereka tahu, telah diomoli bos, > dan bisa berpengaruh pada kondite,' > kemarin mereka masuk. Jadinya anak mereka, 2Th, dibawa ke kantor. > Tentu saja ini merepotkan. > Dan ini mungkin saja berkelanjutan tak pasti, > karena si PRT/BS tidak ada kabar. > Dan mencari PRT/BS jaman sekarang tidaklah mudah. > > Bekerja seharusnya saling menguntungkan, > jadi kalau dipersentase 50%-50%. > > Namun menurut saya, untuk kasus PRT/BS kita lebih butuh. > Jadi persentasenya bisa 60% - 40%. > > Kenapa ? Banyak alasan, misal gaji PRT/BS yang tidak tinggi. > Jadi kalau nggak kerja beberapa saat, mereka masih bisa survive di desa. > Sedang kita, nggak kerja seminggu tanpa alasan bisa-bisa SP muncul. > Lalu di mana permintaan dan penawaran tidak imbang, > mereka bisa dengan mudah cari pekerjaan sebagai PRT/BS. > Lha, kita apa kita gampang berhenti kerja dan mencari kerja ? > > Di luar itu masih ada pilihan mereka bisa jadi TKW, > yang gajinya bisa 10 kali lipat (ya betul saya pernah ngobrol malah bisa lebih) > dengan pekerjaan yang sama. > Padahal di sana misal di Hongkong (bos saya pernah cerita), > mereka sangat dihargai. Diberi waktu untuk istirahat tiap minggunya. > Di sini, sampai malam masih saja diminta untuk kerja. > 1 tahun (di luar mudik) bisa kerja terus menerus. > > Ya, tentu saja mengorangkan orang, > bukanlah kita mendewakan mereka. > Perlakukan secara wajar sebagai manusia > yang memiliki perasaan, emosi dan harapan. > > Bagaimana menurut sampeyan ? > > > Terima kasih > M.Yusuf.web.id > ----------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------ > Dan di antara manusia ada yang berkata, > "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," > padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. > Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, > paahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. > - [QS: Al-Baqarah: 8-9] - > ----------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------ >

