Sharing aja... saya pengalaman soal ganti2 pembantu, dan saya pun sadar bahwa 
saya sangat membutuhkan mereka, makanya saya banyak ngalahnya kadang agak 
berselisih paham dg suami tentang itu. Tapi tetep aja, biar kita udah ngalah, 
biar kita banyak makan hati, yah tetep aja ada sebagian pembantu yg seenaknya.
   
  Semakin kita ngalah, semakin ngelunjak mereka, itu pengalaman pribadi saya, 
maap2 aja kalo ada yg kurang berkenan, krn biar pembantu ada dua, saya pulang 
kerja rumah berantakan, saya tidak pernah komplen... atau misalnya untuk hal2 
lain kadang mereka harus segala saya ingatkan.
   
  Satu hal lagi, anak2pun selalu saya ingatkan, biar mereka pembantu, tapi kita 
tdk boleh seenaknya kepada mereka. Ada satu kejadian di mana sampe sekarang 
saya nyesel banget, yaitu saya pernah punya pembantu, asli dia pinter banget, 
bahkan PR anak2, even bahasa Inggris sekalipun dia suka bantu, dan didepan saya 
dia excelent deh, saya pun memberi kelonggaran, dia boleh pergi nonton or 
jalan2 pas wiken, lama2 dia minta di hari biasa juga, dan saya masih 
memperbolehkan asal saya udah pulang kerja dan anak2 udah tidur, dia memang 
bukan baby sitter, krn saya tdk mampu untuk hire baby sitter, cuman kerjaan dia 
adalah handle anak2 dan yg satunya lagi handle urusan rumah.Once upon a time, 
salah satu anak saya ngadu soal mbaknya, dan gobloknya saya..saya hanya 
bilang..iya..iya..tanpa ada tindakan or nanya ini itu ke si Mbak. dan ketika 
dia keluar, saya dapat aduan yang bener2 gila dari tetangga dan ibu2 disekolah 
anak2.
   
  Saya ga akan panjang lebar, krn udah kepanjangan. Intinya adalah, sebaik 
apapun kita, semengalah apapun kita, ada beberapa pembantu, yah pastinya ga 
semua.. yang memang ga tau diri and ngelunjak... Jadi tetep aja 
dilema..dibaekin ngelunjak, di galakin kabur mulu....
   
   
  Br
   
  Ammy Cynthia

M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          sjuria_k at 09/10/2008 12:36 wrote:
>Namun saya sangat tidak setuju pendapat P.Yusuf mengenai perempuan
>bekerja..Kadang perempuan bekerja itu bukan lagi suatu pilihan,
>melainkan tuntutan yang tidak lagi bisa dihindari.

***Terima kasih mbak Sjuria masukannya.

Iya jaman sekarang memang wanita bekerja sudah tuntutan,
karena kalau tidak kurang mencukupi kebutuhan keluarga.
(benar nggak sih ini ? tapi kata 'cukup' bisa diperdebatkan).

Makanya saya minta sama istri supaya baik sama PRT/BS.
Karena kalau tidak, kamu tidak tenang kerjanya.
Lha, kalau PRT/BS keluar masuk bisa bikin stress
Dan nanti option tidak bekerja akan keluar.

Padahal kalau nggak bekerja,
saya sayang sama apa yang dilakukan dulunya,
yakni sekolah dan apa yang sudah dikorbankan oleh keluarganya.
Karena itu saya tekankan sama istri,
bahwa PRT/BS adalah partnermu.

Bila mereka bekerja dengan baik,
kamu bisa bekerja dengan tenang.
Sehingga bisa berprestasi.
Kalau sudah berprestasi,
gaji dan posisinya semakin tinggi pula.
Kalau demikian, PRT/BS bisa dinaikkan gajinya.
Dan seterusnya.

Kadang saya bilang sama istri,
kamu yang sebenarnya lebih butuh mereka,
dibanding mereka yang lebih butuh kita.
Jadi kita harus mengorangkan dia
(salah satunya dengan berkomunikasi yang baik dengan dia).

Saya bila salah tentang ini mbak Sjuria.
Bagaimana dengan pendapat mbak ?

Terima kasih
M.Yusuf.web.id
----------------------------------------------------------
Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik.
Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir,
maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian 
kesalahan-kesalahanmu.
Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.
- [QS: Al-Baqarah: 271] -
----------------------------------------------------------



                           

       

Kirim email ke