: From: FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>
: To: [EMAIL PROTECTED]
: Subject: Re: Inikah calon Presiden kita?
: Date: 02 Maret 1999 6:51
:
: Ide dari semuanya itu sama saja. Mau pakai istilah turun ke lapangan, atau
: jaman dulu TURBA, kan sama saja. Idenya adalah mencari input langsung dari
: dasar masyarakat, tanpa melalui perantara. Perantara inilah yang biasanya
: membuat laporan palsu atau olahan, baik untuk kepentingan pribadi dan
: golongan dia, ataupun dalam rangka ABS. Kadang-kadang laporannya juga
: Asbun, alias bukan suara asli masyarakat dan tanpa observasi.
:
: Bila 'turun ke lapangan' yang dimaksud adalah untuk langsung membantu
: permasalahan, wah itu sangat ideal dan mungkin dapat saya katakan salah
: arah. Yang seperti itu adalah tugas para pelaksana, bukan tugas pemimpin,
: apalagi tugas pres atau capres.
:
: Untuk kasus kelompencapir yang tadinya dimaksudkan sebagai varian dari
: TURBA lalu malah menjadi acara lawak, itu jelas kerjaan para pejabat yang
: ABS. Orang-orang yg diwawancarai ditraining dulu oleh para pejabat ABS ini.
: Kadang-kadang bila pertanyaan jenis baru tiba-tiba muncul dari mulut
: presiden barulah jawaban jujur dari para petani ini muncul. Yang begini
: ini yang sering buat ger-ger-an. Sayangnya bila hal ini terjadi para pejabat
: serasa ditampar mukanya. Hal demikian menjadi taruhan prestise pejabat
: karena kekurangan-kekurangan yg terungkap dapat muncul di DP3 dia,
: walhasil ya susah naik pangkat. Yg begini ini belum tentu kesalahan Suharto,
: mungkin ini sarana propaganda Suharto, tetapi tidak menutup kemingkinan
: bahwa Suharto ingin mendengar suara langsung dari bawah. Kita tidak dapat
: langsung main tuduh karena berarti kita akan menutup nalar kita sendiri.
: Banyak sekali skenario yg ada, kenapa kita membatasi pada hanya satu
: skenario bahwa kelompencapir diadakan untuk kepentingan Suharto saja?
:
: Budaya ABS menghasilkan budaya malu atau takut bersikap kritis. Alhasil
: boro-boro mendebat presiden, menyampaikan opini saja jadi hal tabu.
: Yang begini ini adalah hasil dari suatu sistem. Sistem ini yang membuat
: bukan hanya Suharto saja, tetapi juga dengan para pejabat ybs, setelah
: terjadi saling interaksi kepentingan. Kalau menimpakan semua kesalahan
: kepada Suharto tanpa melihat kesalahan para pejabat dapat diartikan kita
: mensederhanakan masalah. Jangan-jangan karena dipengaruhi rasa
: takut bahwa bapak kita, oom kita, tetangga kita adalah pejabat atau bekas
: pejabat lalu mencari selamat sendiri. Makanya cari aman langsung bikin
: simplifikasi masalah seperti saya sebut tadi. Nah, amaannn, kesalahan
: sudah ditaruh ke pundak satu orang saja. Apalagi orang ini sudah tua
: sekali. Bilamana orang ini meninggal, para pejabat/bekas pejabat yg dulu
: suka ABS dan Asbun ini dapat aman berlenggang kangkung dengan
: halaman-halaman kehidupan yang bersih tanpa coretan sedikitpun.
: Sayang hanya sedikit yang menyadari hal ini.
:
: Ini sekedar opini seorang kuli...
:
GIIILEEE BENEER... KULI AJA PINTARNYA KAYAK GITU, GIMANA MANDORNYA?

Kirim email ke