Ide turun kelapangan sama komplencapir kan jelas berbeda mas. Turun
kelapangan ini artinya langsung terjun untuk membantu permasalahan dan
bukan hanya diskusi diawang-awang yang hanya membuat rakyat bingung dan
tidak menentu. Soal pendidikan politik memang perlu dan saya setuju hal
itu. Selain itu pengkultusan individu juga perlu dihapuskan.
Jadi sudah sewajarnya diskusi politik tidak berdiri sendiri, tetapi
lebih dilanjutkan kepada pemecahan masalah yang ada secara faktual.
peace.
Dodo D. wrote:
>
> Wah..wah..wah,
> Saya rasa pak Harto dulu ndak kurang kurangnya turun ke daerah
> membantu rakyat. Tapi karena rakyat tidak pernah di didik politik
> secara terbuka, dan pak Harto tidak pernah di debat di depan umum,
> akhirnya rakyat ya bodoh saja. Orang orang di sekeliling pak Harto
> selalu membenarkan ucapan dan tindakannya, sehingga rakyat yang
> bodohpun ikut2an memberikan pembenaran. Akhirnya terjadilah
> pengkultusan individu terhadap seorang yang namanya Soeharto.
>
> Apakah kita ingin mengulang kebodohan masa lalu?
>
> Kalau saya kok ndak mau.
>
> ---Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Lebih setuju lagi kalau kemampuan menjawab pertanyaan rakyat segera
> > direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sudah banyak krisis dan
> > penderitaan rakyat yang terjadi, saya kira menjawab pertanyaan dalam
> > diskusi tidak cukup untuk rakyat, yang diharapkan pemimpin langsung
> > turun kelapangan untuk mengurangi penderitaan rakyat.
> > Sekali lagi, semoga niat MS untuk turun kelapangan segera diikuti oleh
> > pemimpin yang lain.
> > peace.
> >
> > Yuni Wulandana wrote:
> > >
> > > Assalamu'alikum ww
> > >
> > > Maaf ikut nimbrung.
> > > Saya sendiri cenderung melihat bahwa yg terjadi pada
> > > talk show adalah tidak saja kemampuan dari peserta
> > > secara individual, tapi juga kemampuan suatu team
> > > yang diwakili oleh individu tersebut. Persiapan utk menghadapi
> > > talk show bukanlah tugas sebuah individu, tapi sebuah
> > > team. Seorg peserta (individu) yg 'kelabakan' adalah
> > > bukti tidak saja kurang siapnya dia secara individu tapi
> > > juga team yg mempersiapkannya. Mugkin mereka kurang
> > > ber'brain storming' sebelum acara tsb atau sebab lain.
> > >
> > > Namun seperti juga pelajar yg baik yg tidak belajar semalam
> > > sebelum ujian berlangsung, sebuah partai tidaklah berbrain storming
> > > hanya sebelum kampanye atau talk show. Menjawab sejuta
> > > pertanyaan yg ada di masyarakat sekarang adalah tugas sebuah
> > > partai. Tidaklah seperti sebuah PR dimana pak guru mengetahui
> > > jawaban yg benar dan sang pelajar berusaha menemukannya,
> > > dan pak guru memberinya nilai seratus jika dia menemukannya,
> > > masyarakat tidak pernah tahu jawaban yg benar. Mereka hanya
> > > tahu sejuta pertanyaannya saja. Partai tidaklah mampu mencari jawban
> > > yag benar, karena kalau pun benar, masyarakat toh tidak tahu.
> > > Partai hanyalah berusaha mencari jawaban yg cukup meyakinkan
> > > di mata masyarakat. Apakah itu jawaban yg benar ? Hanya perjalanan
> > > waktu yang bisa menjawabnya.
> > >
> > > Jika usaha menjawab ini dilakukan secara intensif oleh sebuah
> partai.
> > > atau setidak-tidaknya sebuah think tank partai, maka pertanyaan2
> > > yg terlontar di talk show bukanlah suatu kejutan. Walhasil,
> > > menjawabnya adalah hal yg enteng dilakukan .Bahwa yg melontarkan
> > > pertanyaan tidak puas dengan jawaban yg disediakan oleh sebuah
> > > partai, itu adalah urusan lain. In fact itu adalah urusan si
> pelontar perta-
> > > nyaan itu sendiri, apakah dia akan memilih partai itu atau tidak
> karena
> > > tidak memberikan jawab yg memuaskannya. Sebuah partai tidak
> menjawab pertanyaan
> > >
> > > berdasarkan keinginan masyarakat tapi berdasarkan visinya sendiri.
> > > Jawaban oleh sebuah partai adalah visi partai tsb.
> > >
> > > Kesimpulannya, saya setuju dengan pak Nur bahwa talk show janganlah
> > > dianggap sebagai budaya asing. Ibarat mengendarai mobil, janganlah
> > > dipandang sebagai budaya asing, tapi simaklah manfaatnya. Tentu saja
> > > utk dapat memanfaatkannya kita harus belajar mengendarai mobil,
> > > tidak bisalah kita terus terusan meminta orang lain utk menyetirnya
> > > buat kita. Kesimpulan kedua adalah bahwa keberhasilan menjawab
> > > seorg individu di talk show tidak hanya refleksi kemampuan
> individualnya
> > > tapi juga refleksi kemampuan think tank bahkan the whole party
> > > yg diwakilinya untuk menjawab tantangan masa depan.
> > >
> > > baiklah sudah terlalu panjang nimbrungnya, sekian dulu,
> > > selamat berdiskusi.
> > >
> > > doni
> > > Pittsburgh
> > >
> > > N.S. Sisworahardjo wrote:
> > >
> > > > Assalamu'alaikum wr. wb.
> > > >
> > > > Mas Budi yang budiman,
> > > >
> > > > Terima kasih atas komentar anda. Secara umum saya sependapat
> dengan anda
> > > > tentang kriteria seorang pemimpin. Tapi koq saya kurang
> sependapat dengan
> > > > pandangan bahwa acara talk show itu adalah model Amerika.
> Prinsip demokrasi
> > > > adalah keterbukaan, dan keterbukaan bisa dijamin dengan
> berlangsungnya
> > > > komunikasi dua arah secara intensif. Kalau kita lihat kampanye2
> partai
> > > > dulu, itu tidak lebih semacam monolog yang persis terjadi dalam
> pertunjukan
> > > > Loedreok. Bahkan kadang saya pikir, didalam pertunjukkan
> Loedreok malah
> > > > lebih baik dari kampanye tersebut. Mengapa, karena disitu
> terjadi proses
> > > > dialog dan interaksi yang baik antara pemain di atas panggung
> dan penonton.
> > > > Justru teater2 rakyat mampu menunjukan konsep demokrasi yang
> sebenarnya,
> > > > bahwa subjeck dalam suatu peran, tidak hanya ditampilkan oleh
> tokoh yang
> > > > berdiri di atas panggung namun oleh seluruh komponen yang
> terlibat dalam
> > > > proses pertunjukkan itu sendiri.
> > > >
> > > > Saya sependapat dengan Mas Budi bahwa penekanan pada sistem
> lebih penting
> > > > dari pada individu2 dalam sistem itu sendiri. Namun bisa kita
> bayangkan
> > > > kalau individu2 yang membentuk sistem itu sendiri masih kita
> ragukan
> > > > kemampuan. Paling tidak untuk bisa melihat kemampuan seseorang
> khan dari
> > > > komunikasi antara individu2 tersebut dengan komunitas yang ada.
> dan yang
> > > > menjadi pertanyaan saya adalah, cara apalagi yang bisa ditempuh
> agar
> > > > komunitas itu mampu melihat dan menilai individu2 itu kalau
> individu2 tidak
> > > > mampu berinteraksi dengan komunitasnya.
> > > >
> > > > Model kampanye monolog yang terjadi selama ini, tidak lebih dari
> bagian
> > > > pembodohan2 yang akan terus berlangsung dalam masyarakat. 30
> sudah hal itu
> > > > terbukti. Rezim ORBA menyatakan pendidikan politik dilakukan
> dalam masa
> > > > kampanye, namun kenyataannya sudah 30 tahun, ternyata masyarakat
> kita masih
> > > > juga tidak mampu untuk menerima suatu perbedaan. Konflik
> horizontal yang
> > > > terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bukti otentik
> gagalnya
> > > > pendewasaan politik dalam masyarakat kita. Saya kita rasanya
> kita harus
> > > > menentukan suatu paradigma baru dalam hal ini.
> > > >
> > > > kalau soal kasus Habibie keseleo lidah, yach dia itu presiden
> karena
> > > > blessing undisguised, artinya dia menjadi presiden bukan karena
> > > > kemampuannya, dan memang dia nggak siap untuk jadi presiden.
> Dari sisi ini
> > > > kelihatan sekali Habibie dikerjain pihak2 kiri-kanan, seperti
> anak yang
> > > > baru belajar naik sepeda. fakta yang masih hangat adalah kasus
> penyadapan
> > > > telepon.
> > > >
> > > > Kalau seandainya apa yang dikhawatirkan Mas Budi, dimana kita
> nantinya
> > > > terpaksa memilih kucing di dalam karung, saya pikir, sungguh
> sangat
> > > > menyedihkan bangsa kita. Waktu 50 tahun masih belum cukup untuk
> mampu
> > > > belajar dari sejarah. Mental kita tidak lebih dari mental budak
> yang ingin
> > > > diperlakukan sebagai budak oleh para penguasa, mulai jaman
> raja2, VOC,
> > > > Belanda, dan kemudian oleh keturunan para bangsawan dan raja2.
> Kita rupanya
> > > > cukup merasa bangga diperlakukan sebagai budak :(
> > > >
> > > > Wassalam,
> > > > nur
> > > >
> > > > p.s. Buat Mas Hadeer, terima kasih banyak atas postingnya, walau
> hanya FYI,
> > > > saya kira banyak fakta yang bisa diungkap.
> > > >
> > > > >Bung Nur yang budiman,
> > > > >
> > > > >Kesimpulan saya adalah (mungkin saja saya salah) anda ingin
> mengatakan
> > > > >bahwa Megawati sebenarnya tidak pantas sebagai calon Presiden
> kita.
> > > > >Alasannya adalah antara lain karena ia tak pernah menanggapi
> undangan
> > > > >berkali-kali TPI untuk mengikuti acara dialog partai yang
> > > > >diselenggarakan oleh TPI. Hal tsb. membuat anda kecewa karena
> dengan
> > > > >demikian kita atau masyarakat tidak tahu apa sebenarnya misi
> dan visi
> > > > >Megawati, dan sejauhmana kemampuannya untuk berdebat politik
> secara
> > > > >terbuka. Namun tokh bagi anda semua jadi jelas, karena Megawati
> > > > >hanyalah "Lulusan SMA dan serba samar alias nggak jelas".
> > > > >
> > > > >Komentar saya:
> > > > >
> > > > >Sama seperti anda, saya juga merasa kecewa. Meskipun demikian
> saya
> > > > >mendukung Megawati (sama seperti saya mendukung calon-calon
> Presiden
> > > > >lainnya) untuk menjadi Presiden R.I. meskipun dalam pemilu
> nanti mungkin
> > > > >saya tidak pilih PDI.
> > > > >
> > > > >Rasa kecewa membuat saya berpikir beberapa kemungkinan mengenai
> > > > >Megawati. Pertama, dia merasa tidak mampu berdebat politik
> secara
> > > > >langsung dan terbuka. Kedua, dia khawatir salah-salah dalam
> 'talk and
> > > > >show' (seperti yang belakangan diperlihatkan oleh Pak Habibie),
> > > > >bisa-bisa membuat rencana dan strategi PDI dalam pemilu menjadi
> > > > >terganggu. Ketiga, Megawati punya visi bahwa debat politik
> terbuka gaya
> > > > >Amerika tidak sesuai dengan budaya bangsa (Indonesia). Keempat
> dst. ...
> > > > >(silahkan kepada netters lain kalau punya kemungkinan lain).
> > > > >
> > > > >Saya memang mendukung semua calon-Presiden menjadi Presiden,
> karena
> > > > >secara pribadi saya lebih suka nasib Ina ditentukan oleh suatu
> Tim atau
> > > > >Sistem yang hebat daripada oleh seorang Presiden yang hebat.
> Saya tidak
> > > > >keberatan kalau calon Presiden RI adalah pensiunan bintang film
> atau
> > > > >mantan penyiar teve, asal ya itu tadi...Tim atau Sistemnya
> harus solid.
> > > > >Saya tidak setuju dengan pendapat sobat saya yang sedang
> menyelesaikan
> > > > >S3, bahwa seorang buta-huruf yang cuma mengandalkan budi
> pekerti yang
> > > > >tinggi tidak pantas jadi calon Presiden kita, karena ia PASTI
> akan
> > > > >dijadikan bulan-bulanan oleh para pembantu dan lawan politiknya.
> > > > >
> > > > >Namun, tentu saja saya juga akan lebih suka kalau kita punya
> seorang
> > > > >Presiden yang hebat dan juga Tim/Sistem yang hebat. Dengan
> kata lain,
> > > > >dengan Tim/Sistem yang sama mungkin saya akan memilih calon
> Presiden
> > > > >yang lebih berpendidikan, lulusan S2 atau S3 misalnya. Dan
> mungkin juga
> > > > >saya akan memilih lulusan S3 jurusan politik atau ekonomi,
> daripada S3
> > > > >jurusan kimia, engineering atau teknologi kedirgantaraan
> misalnya. Tapi
> > > > >sayang, undang-undang politik kita tidak membolehkan saya untuk
> memilih
> > > > >seorang calon Presiden.
> > > > >Akhirnya, ingin sekali saya mendoakan agar dalam pemilu nanti
> bangsa
> > > > >Indonesia tidak sampai ibarat memilih kucing dalam karung,
> meskipun saya
> > > > >juga percaya bahwa sebagian dari peserta pemilu nanti akan
> terpaksa
> > > > >harus memilih kucing dalam karung.
> > > > >
> > > > >Last but not least, saya sadar bahwa komentar dan pendapat saya
> di atas
> > > > >mungkin salah. Dan saya akan berbahagia sekali seandainya Bung
> Nur dan
> > > > >Netters lainnya dapat memberikan pelajaran kepada saya yang
> bodoh ini.
> > > > >
> > > > >
> > > > >Salam,
> > > > >
> > > > >budi santoso
> >
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com