Assalamu'alikum ww

Maaf ikut nimbrung.
Saya sendiri cenderung melihat bahwa yg terjadi pada
talk show adalah tidak saja kemampuan dari peserta
secara individual, tapi juga kemampuan suatu team
yang diwakili oleh individu tersebut. Persiapan utk menghadapi
talk show bukanlah tugas sebuah individu, tapi sebuah
team. Seorg peserta (individu) yg 'kelabakan' adalah
bukti tidak saja kurang siapnya dia secara individu tapi
juga team yg mempersiapkannya. Mugkin mereka kurang
ber'brain storming' sebelum acara tsb atau sebab lain.

Namun seperti juga  pelajar yg baik yg tidak belajar semalam
sebelum ujian berlangsung, sebuah partai tidaklah berbrain storming
hanya sebelum kampanye atau talk show. Menjawab sejuta
pertanyaan yg ada di masyarakat sekarang adalah tugas sebuah
partai. Tidaklah seperti sebuah PR dimana pak guru mengetahui
jawaban yg benar dan sang pelajar berusaha menemukannya,
dan pak guru memberinya nilai seratus jika dia menemukannya,
masyarakat tidak pernah tahu jawaban yg benar. Mereka hanya
tahu sejuta pertanyaannya saja. Partai tidaklah mampu mencari jawban
yag benar, karena kalau pun benar, masyarakat toh tidak tahu.
Partai hanyalah berusaha mencari jawaban yg cukup meyakinkan
di mata masyarakat. Apakah itu jawaban yg benar ? Hanya perjalanan
waktu yang bisa menjawabnya.

Jika usaha menjawab ini dilakukan secara intensif oleh sebuah partai.
atau setidak-tidaknya sebuah think tank partai, maka pertanyaan2
yg terlontar di talk show bukanlah suatu kejutan. Walhasil,
menjawabnya adalah hal yg enteng dilakukan .Bahwa yg melontarkan
pertanyaan tidak puas dengan jawaban yg disediakan oleh sebuah
partai, itu adalah urusan lain. In fact itu adalah urusan si pelontar perta-
nyaan itu sendiri, apakah dia akan memilih partai itu atau tidak karena
tidak memberikan jawab yg memuaskannya. Sebuah partai tidak menjawab pertanyaan

berdasarkan keinginan masyarakat tapi berdasarkan visinya sendiri.
Jawaban oleh sebuah partai adalah visi partai tsb.

Kesimpulannya, saya setuju dengan pak Nur bahwa talk show janganlah
dianggap sebagai budaya asing. Ibarat mengendarai mobil, janganlah
dipandang sebagai budaya asing, tapi simaklah manfaatnya. Tentu saja
utk dapat memanfaatkannya kita harus belajar mengendarai mobil,
tidak bisalah kita terus terusan meminta orang lain utk menyetirnya
buat kita. Kesimpulan kedua adalah bahwa keberhasilan menjawab
seorg individu di talk show tidak hanya refleksi kemampuan individualnya
tapi juga refleksi kemampuan think tank bahkan the whole party
yg diwakilinya untuk menjawab tantangan masa depan.

baiklah sudah terlalu panjang nimbrungnya, sekian dulu,
selamat berdiskusi.

doni
Pittsburgh



N.S. Sisworahardjo wrote:

> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Mas Budi yang budiman,
>
> Terima kasih atas komentar anda. Secara umum saya sependapat dengan anda
> tentang kriteria seorang pemimpin. Tapi koq saya kurang sependapat dengan
> pandangan bahwa acara talk show itu adalah model Amerika. Prinsip demokrasi
> adalah keterbukaan, dan keterbukaan bisa dijamin dengan berlangsungnya
> komunikasi dua arah secara intensif. Kalau kita lihat kampanye2 partai
> dulu, itu tidak lebih semacam monolog yang persis terjadi dalam pertunjukan
> Loedreok. Bahkan kadang saya pikir, didalam pertunjukkan Loedreok malah
> lebih baik dari kampanye tersebut. Mengapa, karena disitu terjadi proses
> dialog dan interaksi yang baik antara pemain di atas panggung dan penonton.
> Justru teater2 rakyat mampu menunjukan konsep demokrasi yang sebenarnya,
> bahwa subjeck dalam suatu peran, tidak hanya ditampilkan oleh tokoh yang
> berdiri di atas panggung namun oleh seluruh komponen yang terlibat dalam
> proses pertunjukkan itu sendiri.
>
> Saya sependapat dengan Mas Budi bahwa penekanan pada sistem lebih penting
> dari pada individu2 dalam sistem itu sendiri. Namun bisa kita bayangkan
> kalau individu2 yang membentuk sistem itu sendiri masih kita ragukan
> kemampuan. Paling tidak untuk bisa melihat kemampuan seseorang khan dari
> komunikasi antara individu2 tersebut dengan komunitas yang ada. dan yang
> menjadi pertanyaan saya adalah, cara apalagi yang bisa ditempuh agar
> komunitas itu mampu melihat dan menilai individu2 itu kalau individu2 tidak
> mampu berinteraksi dengan komunitasnya.
>
> Model kampanye monolog yang terjadi selama ini, tidak lebih dari bagian
> pembodohan2 yang akan terus berlangsung dalam masyarakat. 30 sudah hal itu
> terbukti. Rezim ORBA menyatakan pendidikan politik dilakukan dalam masa
> kampanye, namun kenyataannya sudah 30 tahun, ternyata masyarakat kita masih
> juga tidak mampu untuk menerima suatu perbedaan. Konflik horizontal yang
> terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bukti otentik gagalnya
> pendewasaan politik dalam masyarakat kita. Saya kita rasanya kita harus
> menentukan suatu paradigma baru dalam hal ini.
>
> kalau soal kasus Habibie keseleo lidah, yach dia itu presiden karena
> blessing undisguised, artinya dia menjadi presiden bukan karena
> kemampuannya, dan memang dia nggak siap untuk jadi presiden. Dari sisi ini
> kelihatan sekali Habibie dikerjain pihak2 kiri-kanan, seperti anak yang
> baru belajar naik sepeda. fakta yang masih hangat adalah kasus penyadapan
> telepon.
>
> Kalau seandainya apa yang dikhawatirkan Mas Budi, dimana kita nantinya
> terpaksa memilih kucing di dalam karung, saya pikir, sungguh sangat
> menyedihkan bangsa kita. Waktu 50 tahun masih belum cukup untuk mampu
> belajar dari sejarah. Mental kita tidak lebih dari mental budak yang ingin
> diperlakukan sebagai budak oleh para penguasa, mulai jaman raja2, VOC,
> Belanda, dan kemudian oleh keturunan para bangsawan dan raja2. Kita rupanya
> cukup merasa bangga diperlakukan sebagai budak :(
>
> Wassalam,
> nur
>
> p.s. Buat Mas Hadeer, terima kasih banyak atas postingnya, walau hanya FYI,
> saya kira banyak fakta yang bisa diungkap.
>
> >Bung Nur yang budiman,
> >
> >Kesimpulan saya adalah (mungkin saja saya salah) anda ingin mengatakan
> >bahwa Megawati sebenarnya tidak pantas sebagai calon Presiden kita.
> >Alasannya adalah antara lain karena ia tak pernah menanggapi undangan
> >berkali-kali TPI untuk mengikuti acara dialog partai yang
> >diselenggarakan oleh TPI.  Hal tsb. membuat anda kecewa karena dengan
> >demikian kita atau masyarakat tidak tahu apa sebenarnya misi dan visi
> >Megawati, dan sejauhmana kemampuannya untuk berdebat politik secara
> >terbuka.  Namun tokh bagi anda semua jadi jelas, karena Megawati
> >hanyalah "Lulusan SMA dan serba samar alias nggak jelas".
> >
> >Komentar saya:
> >
> >Sama seperti anda, saya juga merasa kecewa.  Meskipun demikian saya
> >mendukung Megawati (sama seperti saya mendukung calon-calon Presiden
> >lainnya) untuk menjadi Presiden R.I. meskipun dalam pemilu nanti mungkin
> >saya tidak pilih PDI.
> >
> >Rasa kecewa membuat saya berpikir beberapa kemungkinan mengenai
> >Megawati.  Pertama, dia merasa tidak mampu berdebat politik secara
> >langsung dan terbuka.  Kedua, dia khawatir salah-salah dalam 'talk and
> >show' (seperti yang belakangan diperlihatkan oleh Pak Habibie),
> >bisa-bisa membuat rencana dan strategi PDI dalam pemilu menjadi
> >terganggu.  Ketiga, Megawati punya visi bahwa debat politik terbuka gaya
> >Amerika tidak sesuai dengan budaya bangsa (Indonesia).  Keempat dst. ...
> >(silahkan kepada netters lain kalau punya kemungkinan lain).
> >
> >Saya memang mendukung semua calon-Presiden menjadi Presiden, karena
> >secara pribadi saya lebih suka nasib Ina ditentukan oleh suatu Tim atau
> >Sistem yang hebat daripada oleh seorang Presiden yang hebat.  Saya tidak
> >keberatan kalau calon Presiden RI adalah pensiunan bintang film atau
> >mantan penyiar teve, asal ya itu tadi...Tim atau Sistemnya harus solid.
> >Saya tidak setuju dengan pendapat sobat saya yang sedang menyelesaikan
> >S3, bahwa seorang buta-huruf yang cuma mengandalkan budi pekerti yang
> >tinggi tidak pantas jadi calon Presiden kita, karena ia PASTI akan
> >dijadikan bulan-bulanan oleh para pembantu dan lawan politiknya.
> >
> >Namun, tentu saja saya juga akan lebih suka kalau kita punya seorang
> >Presiden yang hebat dan juga Tim/Sistem yang hebat.  Dengan kata lain,
> >dengan Tim/Sistem yang sama mungkin saya akan memilih calon Presiden
> >yang lebih berpendidikan, lulusan S2 atau S3 misalnya. Dan mungkin juga
> >saya akan memilih lulusan S3 jurusan politik atau ekonomi, daripada S3
> >jurusan kimia, engineering atau teknologi kedirgantaraan misalnya.  Tapi
> >sayang, undang-undang politik kita tidak membolehkan saya untuk memilih
> >seorang calon Presiden.
> >Akhirnya, ingin sekali saya mendoakan agar dalam pemilu nanti bangsa
> >Indonesia tidak sampai ibarat memilih kucing dalam karung, meskipun saya
> >juga percaya bahwa sebagian dari peserta pemilu nanti akan terpaksa
> >harus memilih kucing dalam karung.
> >
> >Last but not least, saya sadar bahwa komentar dan pendapat saya di atas
> >mungkin salah.  Dan saya akan berbahagia sekali seandainya Bung Nur dan
> >Netters lainnya dapat memberikan  pelajaran kepada saya yang bodoh ini.
> >
> >
> >Salam,
> >
> >budi santoso

Kirim email ke