Ide dari semuanya itu sama saja. Mau pakai istilah turun ke lapangan, atau
jaman dulu TURBA, kan sama saja. Idenya adalah mencari input langsung dari
dasar masyarakat, tanpa melalui perantara. Perantara inilah yang biasanya
membuat laporan palsu atau olahan, baik untuk kepentingan pribadi dan
golongan dia, ataupun dalam rangka ABS. Kadang-kadang laporannya juga
Asbun, alias bukan suara asli masyarakat dan tanpa observasi.

Bila 'turun ke lapangan' yang dimaksud adalah untuk langsung membantu
permasalahan, wah itu sangat ideal dan mungkin dapat saya katakan salah
arah. Yang seperti itu adalah tugas para pelaksana, bukan tugas pemimpin,
apalagi tugas pres atau capres.

Untuk kasus kelompencapir yang tadinya dimaksudkan sebagai varian dari
TURBA lalu malah menjadi acara lawak, itu jelas kerjaan para pejabat yang
ABS. Orang-orang yg diwawancarai ditraining dulu oleh para pejabat ABS ini.
Kadang-kadang bila pertanyaan jenis baru tiba-tiba muncul dari mulut
presiden barulah jawaban jujur dari para petani ini muncul. Yang begini
ini yang sering buat ger-ger-an. Sayangnya bila hal ini terjadi para pejabat
serasa ditampar mukanya. Hal demikian menjadi taruhan prestise pejabat
karena kekurangan-kekurangan yg terungkap dapat muncul di DP3 dia,
walhasil ya susah naik pangkat. Yg begini ini belum tentu kesalahan Suharto,
mungkin ini sarana propaganda Suharto, tetapi tidak menutup kemingkinan
bahwa Suharto ingin mendengar suara langsung dari bawah. Kita tidak dapat
langsung main tuduh karena berarti kita akan menutup nalar kita sendiri.
Banyak sekali skenario yg ada, kenapa kita membatasi pada hanya satu
skenario bahwa kelompencapir diadakan untuk kepentingan Suharto saja?

Budaya ABS menghasilkan budaya malu atau takut bersikap kritis. Alhasil
boro-boro mendebat presiden, menyampaikan opini saja jadi hal tabu.
Yang begini ini adalah hasil dari suatu sistem. Sistem ini yang membuat
bukan hanya Suharto saja, tetapi juga dengan para pejabat ybs, setelah
terjadi saling interaksi kepentingan. Kalau menimpakan semua kesalahan
kepada Suharto tanpa melihat kesalahan para pejabat dapat diartikan kita
mensederhanakan masalah. Jangan-jangan karena dipengaruhi rasa
takut bahwa bapak kita, oom kita, tetangga kita adalah pejabat atau bekas
pejabat lalu mencari selamat sendiri. Makanya cari aman langsung bikin
simplifikasi masalah seperti saya sebut tadi. Nah, amaannn, kesalahan
sudah ditaruh ke pundak satu orang saja. Apalagi orang ini sudah tua
sekali. Bilamana orang ini meninggal, para pejabat/bekas pejabat yg dulu
suka ABS dan Asbun ini dapat aman berlenggang kangkung dengan
halaman-halaman kehidupan yang bersih tanpa coretan sedikitpun.
Sayang hanya sedikit yang menyadari hal ini.

Ini sekedar opini seorang kuli...



Blucer Rajagukguk wrote:

> Ide turun kelapangan sama komplencapir kan jelas berbeda mas. Turun
> kelapangan ini artinya langsung terjun untuk membantu permasalahan dan
> bukan hanya diskusi diawang-awang yang hanya membuat rakyat bingung dan
> tidak menentu. Soal pendidikan politik memang perlu dan saya setuju hal
> itu. Selain itu pengkultusan individu juga perlu dihapuskan.
> Jadi sudah sewajarnya diskusi politik tidak berdiri sendiri, tetapi
> lebih dilanjutkan kepada pemecahan masalah yang ada secara faktual.
> peace.
>
> Dodo D. wrote:
> >
> > Wah..wah..wah,
> > Saya rasa pak Harto dulu ndak kurang kurangnya turun ke daerah
> > membantu rakyat. Tapi karena rakyat tidak pernah di didik politik
> > secara terbuka, dan pak Harto tidak pernah di debat di depan umum,
> > akhirnya rakyat ya bodoh saja. Orang orang di sekeliling pak Harto
> > selalu membenarkan ucapan dan tindakannya, sehingga rakyat yang
> > bodohpun ikut2an memberikan pembenaran. Akhirnya terjadilah
> > pengkultusan individu terhadap seorang yang namanya Soeharto.
> >
> > Apakah kita ingin mengulang kebodohan masa lalu?
> >
> > Kalau saya kok ndak mau.
> >
> > ---Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Lebih setuju lagi kalau kemampuan menjawab pertanyaan rakyat segera
> > > direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sudah banyak krisis dan
> > > penderitaan rakyat yang terjadi, saya kira menjawab pertanyaan dalam
> > > diskusi tidak cukup untuk rakyat, yang diharapkan pemimpin langsung
> > > turun kelapangan untuk mengurangi penderitaan rakyat.
> > > Sekali lagi, semoga niat MS untuk turun kelapangan segera diikuti oleh
> > > pemimpin yang lain.
> > > peace.
> > >

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke