Assalamu'alaikum wr. wb.
Mas Budi yang budiman,
Terima kasih lagi atas tanggapan Mas Budi. Saya hanya sedikit mau
mengomentari soal kalau suatu acara seperti itu direkayasa atau tidak. Mas
Budi, kalau kita mau jujur, apa sich yang ada di dunia ini tidak ada
rekayasa :) Contoh yang terang benderang di depan mata. kalau kita pergi
undagan resepsi pernikahan, kita lihat kedua mempelai begitu anggun, serasi
dan diapit oleh ke-empat orang tua, begitu indah, begitu agung dan begitu
lain2nya? Bukankah itu rekayasa Mas? Terserah nanti setelah turun panggung
mau cakar2an atau langsung cerai itu soal lain. Intinya segala sesuatu itu
ada rekayasanya. Nah kalau kita bicara politik, dan politik itu adalah
"seni", maka disitulah dituntut kepawaian seseorang atau tim dalam menyusun
rekayasa tandingan atau rekayasa bantahan. Yang sudah tentu disampaikan
dengan cara yang manis. kalau kita lihat sekarang khan yang ada khan
rekayasa politik model rendahan, menghujat, menyadap, memfitnah dsb. Apakah
tidak lebih baik kalau ada wahana yang sesuai kita manfaatkan. Soal ada
efek negatif, itu wajar, itu khan bagian dari dialektika. Saya kira kalau
merujuk azas manfaat, berdiskusi adalah lebih baik dari pada mendengarkan
orang ceramah dan kemudian hanya teriak yel..yel..
Soal budaya NATO saya setuju sama Mas Budiman, tapi sebagai tambahan budaya
diem dan cuma mesam mesem dan juga NO ACTION koq rasanya juga nggak pas.
Contoh yang gamblang, pernah MS ditanya wartawan lokal apa pendapatnya
tentang Supersemar, lha koq dia menjawab, "Wah saat itu saya masih
kecil...." Lha koq jawaban model seperti itu terucap dari seseorang yang
katanya di"gadang2" bakal jadi presiden. Dan yang paling akhir, pernah
wartawan US menulis tentang PDI dan MS, dia menyatakan kekecewaannya,
karena saat dicoba untuk diwawancarai, MS hanya bilang..."kita wait and see
saja".... lha koq?!!!!! dan seperti biasa MS langsung ngeloyor pergi dan
tidak lupa sambil mesam-mesem.
Saya kira sudah banyak komentar sahabat2 di millist ini yang mungkin
senada. Mudah2an saja kita bisa memetik manfaatnya.
Akhir kata, saya sependapat lagi dengan Mas Budi, tentang massa mengambang
menjadi massa dewasa. memang itu tidak gampang, tapi bukannya tidak mungkin
khan? Itulah gunanya rekayasa :)
Wassalam,
nur
>Bung Nur yang budiman,
====yang bagian ini dibusek =====
>politik bagi rakyat (pemirsa tv). Hanya saja kita mungkin perlu tahu
>bahwa tidak setiap acara talk show itu secara otomatis bermanfaat
>positip bagi para pemirsa tv. Dalam hal ini aturan main (termasuk peran
>moderator) dalam acara tsb dan respon para pemirsa tv (yang mempunyai
>latar belakang yang beragam). Dalam suatu kultur masyarakat yang belum
>dewasa, mungkin perlu pula kita antisipasi kemungkinan acara talk show
>tsb di rekayasa (oleh panitia penyelenggara) untuk kepentingan kelompok
>politik tertentu. Atau kemungkinan negatip lainnya, kelompok politik
>tertentu memanfaatkan salah-lidah yang dilakukan oleh tokoh lawan
>politiknya, merekam/gandakannya ke dalam kaset (kalau perlu sedikit
>diedit) dan menyebarkan 'fitnah dan kebohongan-kebohongan' yang telah
>dilakukan oleh lawan politiknya. Kesimpulannya, saya ingin mengatakan
>bahwa acara talk show itu bisa positip atau negatip tergantung dari
>beberapa faktor a.l. yang sudah saya sebutkan tsb. Karenanya, kita juga
>sebaiknya waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan negatipnya. Termasuk
>kemungkinan meluasnya budaya NATO (No Action, Talk
>Only).
>
>Buat rakyat yang termasuk dalam 'floating mass' memang sulit untuk tidak
>terpaksa 'memilih kucing dalam karung' dalam pemilu nanti. Tapi saya
>percaya, anda dan banyak rekan mahasiswa kita lainnya tidak akan mau
>dipaksa untuk memilih kucing. Dan kalau kita juga tidak ingin rakyat
>memilih kucing, tantangannya menurut saya adalah merubah masa-mengambang
>menjadi masa-dewasa. Dan itu juga tidak gampang. Karena bahasa dan
>pemahaman kita bisa berbeda.
>
>Salam,
>
>budi santoso