Kapolda diganti. Apa menyelesaikan masalah? Bentuk tanggung jawab ABRI
tidak dapat diukur dari penggantian kapolda. Yang jadi pertanyaan:
- Apakah oknum yg terlibat akan diproses? Dari jaman dulu bila ada
  oknum yg terlibat, beritanya selalu masuk peti es. Mari kita lihat.
- Mengapa penyerangan masih terus berlanjut? Jaman dulu orang mau
  pesta saja para aparat sudah tahu. Mengapa sekelompok besar orang
  yg bergerak menyerang desa lain lolos dari pengamatan? Apakah semua
  intel pindah ke Cendana semua?
- Dinyatakan luka tembak tidak lurus, melainkan peluru dari atas.
  * Dari atas langit-langit masjid? - eliminate, kecuali imamnya yg nembak
  * Dari atas pohon? - ini ada kemungkinan
  * Dari atas gedung bertingkat? - eliminate, ini di kampung
  * Hasil pantulan peluru tembakan peringatan? Memantul di mana?
    ini ada kemungkinan, mantul di pohon? mantul di tembok masjid?
    mantul di langit-langit masjid? mantul di langit nan kelam?
- Darurat sipil belum perlu? Saya tidak jelas dengan definisi darurat sipil.
  Apakah pemberlakuan jam malam termasuk darurat sipil? Dulu mudah
  sekali menerapkan jam malam tanpa perlu takut muncul anggapan
  Indonesia tidak aman. Beberapa waktu lalu saya dengar jam malam
  juga diterapkan, entah benar entah tidak. Tetapi dengan fakta banyaknya
  gerombolan yg berkeliaran di waktu malam, mungkin dapat saya artikan
  tidak ada jam malam. Ataukah aparat keamanan tidak dapat menegakkan
  aturan jam malam?
- Di masa mendatang para tokoh masyarakat jangan menuntut pergantian
  pimpinan aparat lokal. Tanggung jawab mestinya ada di tingkat nasional.
  Upaya penyelesaian dari pusat yg harus ditonjolkan karena rantai komando
  tidak memungkinkan pimpinan aparat lokal mengambil tindakan strategis.

Saya menghormati upaya aparat keamanan, hanya saja upaya yg jauh lebih
keras harus dilakukan. Pengontrolan ketat para aparat sendiri juga harus
sangat diperhatikan. Memang kita tidak dapat menutup kemungkinan orang
sipil mempunyai senjata api, tetapi seberapa besar kemungkinan tsb?
Ini saya maksudkan sbg kritik membangun, kalau dianggap kritik yg sinis ya
monggo kerso.

Salam,
Eyang Troy, cuma seorang warga yg concern.


---------- http://www.jawapos.com/3mar/de3ma1.htm
Togar kemudian menjelaskan, pada pukul 05.00 WIT, 1 Maret, terjadi
penyerangan terhadap penduduk Dusun Rinjani oleh sekitar 200 orang warga
Ahuru. Penyerangan ini dilakukan massa yang membawa senjata tajam, bom
molotov, panah, dan senjata rakitan lainnya.

Dalam bentrokan tersebut, sebelum petugas dari kepolisian datang, telah jatuh
korban dua orang meninggal dan tiga orang luka. Merasa tidak bisa
mengimbangi, warga Dusun Rinjani segera lari ke masjid untuk mencari
perlindungan.

Saat itulah, aparat kepolisian datang untuk melerai dan segera memberikan
tembakan peringatan. Namun, keadaan sudah sangat chaos. Meski petugas telah
datang, masih juga jatuh korban; dua orang tewas dan tiga orang luka.

Dua orang korban yang terkena tembak disinyalir bukan dari tembakan petugas.
Sebab, luka tembaknya tidak lurus, melainkan peluru yang berasal dari atas.
��Namun, untuk memastikannya, masih harus menunggu hasil autopsi,��
tandasnya.

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke