Ya betul, kita sudah coba membuat rasionalisasi bila penembakan terjadi di
luar masjid. Makanya saya sebut penembakan berasal dari atas pohon. Namun
tetap saja terdapat beberapa kejanggalan.
Toh bukan itu kemasgulan saya. Kemampuan mengantisipasi aparatlah yang sangat
menyedihkan. Pembunuhan demi pembunuhan dibiarkan dengan mengutamakan nama
bahwa Indonesia aman. Menurut saya ini adalah pengambilan sudut pandang yg
sangat sempit. Penjaga toko di sinipun (hari ini) berkomentar tentang
pembantaian 200 orang di Ambon (200? Angka dari mana ya?). Kemungkinan dia
mendapat berita dari CNN(?). Dengan pemberitaan yg luas seperti ini mengapa
masih memikirkan larinya investasi akibat Indonesia dinyatakan tidak aman.
Justru kemampuan aparat yg lamban ini yg dapat menyebabkan larinya para
investor. Bukan dengan setengah hati mencoba memadamkan kerusuhan dan
pembunuhan lalu bilang aman-aman. Memangnya investor tidak baca koran atau
lihat TV?
Note: Singkawang... Saya sangat setuju dg pendapat anda bahwa media mesti
lebih berani memuat berita yg menyangkut pejabat dan meningkatkan kemampuan
investigasinya.
Salam,
On Mar 4, 9:20am, Ian wrote:
> Subject: Re: More Ambon
> On Wed, 3 Mar 1999, FNU Brawijaya wrote:
> dfeleted..
> > - Dinyatakan luka tembak tidak lurus, melainkan peluru dari atas.
> > * Dari atas langit-langit masjid? - eliminate, kecuali imamnya yg
nembak
> > * Dari atas pohon? - ini ada kemungkinan
> > * Dari atas gedung bertingkat? - eliminate, ini di kampung
> > * Hasil pantulan peluru tembakan peringatan? Memantul di mana?
> > ini ada kemungkinan, mantul di pohon? mantul di tembok masjid?
> > mantul di langit-langit masjid? mantul di langit nan kelam?
> deleted..
>
> mungkin kebingungan ini bisa dipecahkan apabila asumsinya adalah bahwa
> penembakan tidak dilakukan di dalam masjid, akan tetapi di luar masjid,
> dan korban yang masih hidup melarikan diri ke dalam masjid, atau korban
> sudah meninggal dan dibawa ke dalam masjid.
>
> begitulah yang saya dengar dari beberapa journalists (BBC) yang berada di
> lokasi right after the event.
>
> Who knows what really happened.
>
> Berita dari media simpang siur.
> contoh : peritiwa kapal ferry tenggelam antara kalbar dan riau ternyata
> mengandung unsur konspirasi yang luar biasa dahsyat (dari jenny grant -
> foreign correspondent untuk South China Morning Post), yang investigated
> and found out that the bupati where the ferry departed from (cengkawang ?
> or something like that) paid those people 500 ribu to be sent to riau as
> cheap workers...<---- perdagangan manusia !!!
> that is why the news of the sinking ship was received so late ( 3 or 4
> days later) as the bupati and his cronies were trying to cover up the
> event.
>
> But this fact has NEVER been published by ANY indonesian media.
> Saya kira kemampuan media nasional untuk investigasi dan keberanian untuk
> menayangkan berita yang menyangkut pejabat perlu ditingkatkan lagi.
>
>
> Salam,
> Ian
>-- End of excerpt from Ian