Nope, tindakan ini memang sangat diperlukan. Justru kita perlu mempertanyakan
pihak-pihak yang masih bicara soal HAM, yang untuk kasus ini tidak pada
tempatnya. Masih banyak yang bisa dilakukan oleh para LSM-HAM untuk ikut
membantu meringankan beban para pengungsi. Bila memang ada LSM-HAM masih juga
mencela tindakan ini, saya kira justru titik terang siapa yg mendalangi
kejadian-kejadian terusirnya para pendatang di berbagai tempat di
wilayah-wilayah Indonesia ini. Sungguh mengherankan karena pada peristiwa
Ambon pihak LSM tidak berbunyi sama sekali. Makin mengherankan bila untuk
kasus Sambas mereka akan berbunyi. Piala berujud kepala yang ditampilkan di
harian Waspada kemarin itulah yang merupakan pelanggaran HAM.

Saya malah merasa agak lucu dengan sikap gojak-gajik (salting) dari petinggi
ABRI untuk menyelesaikan masalah ini.


Salam,
Jaya


On Mar 23,  1:29pm, Dodo D. wrote:
> Subject: Re: [Berita sangat buruk tentang Indonesia]
> Contoh sedikit nih, mungkin rekan2 yang lain bisa memberikan argumen
> tentang bagaimana harus menyikapinya. Contoh berita di Kompas ini saya
> rasa bisa memberikan gambaran tentang dilema yang dihadapi oleh
> aparat. Di suatu sisi aparat merasa punya kewajiban moral untuk
> melindungi mereka yang dalam bahaya, bayangkan seandainya aparat
> membiarkan warga asli menyerang orang madura yang berlindung dihutan,
> berapa nyawa yang akan melayang. Seandainya juga dalam tugas
> perlindungan tersebut aparat hanya bertahan, tanpa memberikan tindakan
> represif, saya yakin warga asli akan berani menyerang dan membunuh
> aparat, sehingga korbanpun akan banyak berjatuhan di pihak aparat.
> Dalam hal ini, menurut saya, tindakan represif dengan memberikan
> tembakan yang akhirnya memakan 4 korban jiwa di pihak penyerang, sudah
> cukup adil secara moral, karena bisa mencegah jatuhnya korban yang
> lebih besar. Tentunya aparat tidak asal menembak dengan membabi buta.
> Tapi sebenar benarnya tindakan ini, pasti akan mendapatkan penilaian
> negatif dari berbagai pihak, karena bagaimanapun ada masyarakat sipil
> yang terbunuh. Nah ini kan dilema...
>
> Baca sendiri deh berita di bawah ini (nggak usah mikir biasnya dulu,
> ini hanya sekedar contoh kasus).
>
> Rabu, 24 Maret 1999
>
>                        Situasi Sambas Berangsur Normal
>
>                        Sambas, Kompas
>
>                        Situasi kota-kota kecil di pesisir utara
> Kalimantan Barat seperti
>                        Pemangkat, Tebas dan Sambas, hari Selasa (23/3)
> berangsur-angsur
>                        normal. Tetapi menjelang malam, terlihat
> kelompok-kelompok massa
>                        yang berkumpul di pinggir jalan.
>
>                        Laporan terakhir menyebutkan, situasi yang
> berangsur normal
>                        tersebut diwarnai bentrokan antara pasukan
> keamanan yang hendak
>                        menyelamatkan warga Madura yang sembunyi di
> dalam hutan di
>                        Samalantan dengan penduduk asli setempat.
>
>                        Massa bersenjata api rakitan dan senjata tajam
> mencoba menyerang
>                        petugas yang datang dengan belasan truk.
> Pasukan keamanan
>                        melepaskan tembakan ke arah massa, dan
> diperkirakan sedikitnya
>                        empat pelaku penyerangan tewas.
>
>                        Dalam penyapuan (sweeping) yang dilakukan
> pasukan keamanan di
>                        Samalantan, ditemukan potongan-potongan jenazah
> yang tak utuh
>                        lagi. Kondisi mereka sudah membusuk.
>
>                        Sesuai laporan Pemda Kalbar, kerusuhan yang
> meledak sejak awal
>                        pekan lalu di tujuh kecamatan di Kabupaten
> Sambas,
>                        sekurang-kurangnya menyebabkan 165 korban
> tewas. Angka ini
>                        belum termasuk empat korban tewas di Samalantan.
>
>                        Penindak kerusuhan
>
>                        Di Jakarta hari Selasa, Kepala Staf Umum ABRI
> Letjen TNI Sugiono
>                        melepas pemberangkatan Pasukan Penindak
> Kerusuhan Massal
>                        berkekuatan enam Satuan Setingkat Kompi.
>
>                        Pasukan yang terdiri dari unsur TNI AD dan
> Brigade Mobil Polri itu
>                        diterbangkan lima pesawat Hercules TNI AU ke
> Kalbar, untuk
>                        memperkuat aparat keamanan dalam upaya melerai
> pertikaian dan
>                        kerusuhan yang terjadi di sana. Sekitar pukul
> 18.50 pasukan itu tiba
>                        di depan Markas Kepolisian Resor Sambas di
> Singkawang.
>
>                        Sugiono menyatakan, dalam menangani kerusuhan,
> ada tiga aspek
>                        yang harus ditangani secara bersamaan dan
> teliti. Pertama,
>                        menghentikan kerusuhan; kedua, menegakkan hukum
> dengan
>                        menindak para pelaku pelanggaran hukum di
> lapangan. Ketiga,
>                        menindak aktor intelektual yang mendalangi
> kerusuhan.
>
>                        Pengungsi
>
>                        Ribuan pengungsi warga Madura masih menunggu
> dievakuasi di
>                        Desa Sabaran, Kecamatan Tebas. Sejak Rabu pekan
> lalu hingga
>                        Selasa, sudah diangkut sekitar 7.000 warga
> Madura, yang kemudian
>                        diberangkatkan ke Pontianak dengan KM Anugerah
> Makmur, KM
>                        Kaap Bol, KM Mekar Niaga, KM Ikaguri, dan KRI
> Teluksabang.
>
>                        Pelabuhan Sintete di Pe-mangkat (Kalbar) sejak
> seminggu terakhir
>                        ini ikut terganggu. Menurut Administrator
> Pelabuhan (Adpel) Sintete,
>                        Yusuf Poniran, sejak Rabu pekan lalu, tak ada
> satu pun kapal yang
>                        masuk ke pelabuhan itu karena takut keamanan
> tak terjamin. Dalam
>                        satu bulan, rata-rata 40 kapal masuk ke Sintete.
>
>                        Dari Pontianak dilaporkan, Pemda Kalbar
> menambah lagi dua lokasi
>                        untuk menampung pengungsi dari Kabupaten
> Sambas, yakni Stadion
>                        Sultan Syarif Abdurachman dan sebuah gudang di
> Kawasan Wajok
>                        Hulu, tujuh km utara Pontianak. Dengan
> penambahan itu, berarti
>                        sudah sembilan lokasi yang menjadi tempat
> penampungan.
>
>                        Meski demikian jumlah itu dinilai belum
> mencukupi, sebab masih
>                        sekitar 9.000 pengungsi diamankan di Kabupaten
> Sambas. "Pemda
>                        Kalbar masih membutuhkan sebanyak empat gudang
> lagi dengan
>                        daya tampung minimal 2.000 jiwa per buah," kata
> Asisten Setwilda
>                        Kalbar HAM Djapari di Pontianak.
>
>                        Berdasarkan data yang diperoleh dari Posko I
> Pemda Kalbar, hingga
>                        kemarin sebanyak 12.276 jiwa pengungsi yang
> diamankan di
>                        sembilan lokasi di Pontianak. Pada Rabu
> dinihari sekitar pukul 01.00
>                        tiba lagi dari Sambas sekitar 500 jiwa. Mereka
> diangkut dengan
>                        Kapal Mo-tor (KM) Anugerah Makmur dari
> pelabuhan Sintete,
>                        Pemangkat.
>
>                        Untuk pengangkutan pengungsi yang masih
> bertahan di Sambas,
>                        Kanwil Departemen Perhubungan Kalbar telah
> mengerahkan KM
>                        Kaap Bool, KM Anugerah Makmur, KM Ikaguri, dan
> KM Mekar Niaga
>                        guna mengangkut pengungsi dari Sambas melalui
> Pelabuhan
>                        Sintete. Di samping itu KRI Teluk Sabang yang
> dikawal KRI Imam
>                        Bonjol juga membantu pengangkutan pengungsi.
>
>                        Sementara itu sekitar 400 pengungsi masuk ke
> Sarawak, Malaysia
>                        Timur, melalui Paloh. Sebagian besar
> menggunakan perahu, tetapi
>                        ada pula yang berjalan kaki, menembus hutan
> belantara. Paloh
>                        merupakan daerah paling ujung di Kabu-paten
> Sambas yang
>                        berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia.
>
>                        Kedatangan pengungsi tanpa bekal apa pun, cukup
> merisau-kan
>                        Pemerintah Malaysia, sehingga para pengungsi
> secepatnya akan
>                        dideportasi. "Pemerin-tah Malaysia rupanya
> kurang berkenan..," tutur
>                        seorang petugas keamanan Indonesia yang
> berdinas di Konsul
>                        Jenderal RI di Kuching, Sarawak.
>
>                        Berlangsung lama
>
>                        Pengamat politik dari Univer-sitas Gadjah Mada
> Yogyakarta, Dr
>                        Riswandha Imawan, di Universitas Padjadjaran,
> Bandung,
>                        mengomentari kasus Sambas mengatakan, pimpinan
> ABRI,
>                        kejaksaan serta unsur lain yang terkait
> seharusnya segera
>                        mengambil tindakan represif dalam arti terbatas.
>
>                        Kendati langkah ini diakui sebagai tindakan
> tidak populer, namun
>                        akan membantu agar kerusuhan itu tidak
> berlangsung lama seperti
>                        kerusuhan di Ambon, serta tidak menyebar lebih
> luas lagi ke daerah
>                        lain.
>
>                        Ia mengakui, pada keadaan seperti ini, posisi
> ABRI sangat dilematis,
>                        sebab jika melakukan tindakan represif jelas
> akan melanggar hak
>                        asasi manusia. Menyelesaikan persoalan Sambas,
> pikiran pertama
>                        adalah tutup kota tersebut. Kedua, berlaku-kan
> jam malam. Langkah
>                        selanjutnya adalah menggeledah rumah-rumah.
> (ksp/gg/pin/jan)
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
>-- End of excerpt from Dodo D.

Kirim email ke