Saya setuju bahwa tindakan tegas dari aparat harus ditujukan pada
penyerang untuk melindungi yang lemah.  Mungkin kita perlu berani
membela aparat/ABRI bila memang tindakannya benar.
     Saya kira salah satu kunci dari keadilan adalah melindungi yang
lemah dan menahan yang kuat dalam kasus si kuat memperdaya si lemah.
Kalau satu-satunya jalan menyelamatkan si lemah adalah harus membunuh si
kuat, ya jalan itulah yang harus ditempuh.  Tentu saja sebelum ditembak
si kuat harus diberi peringatan dahulu supaya menghentikan tindakannya.
Bila ternyata si kuat malah berbalik menyerang aparat, maka sama sekali
tidak salah bila aparat menembak si kuat itu.  Alasannya semata-mata
bela diri.  Kalau KONTRAS atau siapapun menyalahkan tindakan aparat
dalam kasus contoh di atas, maka KONTRAS hanyalah mencari popularitas
dengan beraksi sok moralis.  Dalam hal ini, silahkan saja KONTRAS datang
ke medan kerusuhan dan menyelesaikan masalah tersebut.  Jadi saya kira
tidak ada dilema rumit yang perlu dipertimbangkan dalam kasus seperti
ini.  Kritik (dan proses hukum) perlu diberikan bila memang ada bukti
bahwa pembunuhan atau penyikasaan dilakukan tanpa alasan yang kuat,
seperti kasus penculikan aktivis, penyiksaan dalam interogasi dsb.
Tetapi dalam kasus melindungi orang yang akan dibunuh orang lain, sangat
jelas sekali bahwa yang lemah harus dilindungi.
     Masalahnya, aparat kita seringkali bertindak sangat tidak tepat
tempat dan waktu.  Waktunya bertindak tegas, malah tidak tegas; waktunya
sedikit santai malah membabi-buta.  Sudah jelas Prabowo mengakui
bertanggungjawab terhadap penculikan, eh jaksa penuntut hanya menuntut
kroco-kroco pelaksananya tanpa berusaha mencari biangnya.  Lalu
provokator Ambon yang sudah di adili (apakah benar-benar provokator atau
hanya orang yang lagi sial ketangkap) hanya dipenjara 3 bulan.  Banyak
orang diperikasa dalam kasus KKN oleh Andi Ghalib, tapi siapakah yang
sudah diputuskan bersalah dan menghuni penjara?  Bagaimana dengan para
ninja pembunuh Kiai di Banyuwangi yang telah ditangkap, apakah sudah di
hukum?  Tapi saya juga khwatir bila hukum ditegakkan dengan sempurna,
hampir separuh penduduk Indonesia masuk penjara.  Sekarang saja,
nampaknya penjara sudah tidak muat lagi, karena itu hukuman-hukuman
sangat ringan.  mungkin perlu dompet amal untuk pembangunan penjara.

Panut Wirata

--- ". Brawijaya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Nope, tindakan ini memang sangat diperlukan. Justru
> kita perlu mempertanyakan
> pihak-pihak yang masih bicara soal HAM, yang untuk
> kasus ini tidak pada
> tempatnya. Masih banyak yang bisa dilakukan oleh para
> LSM-HAM untuk ikut
> membantu meringankan beban para pengungsi. Bila
> memang ada LSM-HAM masih juga
> mencela tindakan ini, saya kira justru titik terang
> siapa yg mendalangi
> kejadian-kejadian terusirnya para pendatang di
> berbagai tempat di
> wilayah-wilayah Indonesia ini. Sungguh mengherankan
> karena pada peristiwa
> Ambon pihak LSM tidak berbunyi sama sekali. Makin
> mengherankan bila untuk
> kasus Sambas mereka akan berbunyi. Piala berujud
> kepala yang ditampilkan di
> harian Waspada kemarin itulah yang merupakan
> pelanggaran HAM.
>
> Saya malah merasa agak lucu dengan sikap gojak-gajik
> (salting) dari petinggi
> ABRI untuk menyelesaikan masalah ini.
>
>
> Salam,
> Jaya
>
>
> On Mar 23,  1:29pm, Dodo D. wrote:
> > Subject: Re: [Berita sangat buruk tentang
> Indonesia]
> > Contoh sedikit nih, mungkin rekan2 yang lain bisa
> memberikan argumen
> > tentang bagaimana harus menyikapinya. Contoh berita
> di Kompas ini saya
> > rasa bisa memberikan gambaran tentang dilema yang
> dihadapi oleh
> > aparat. Di suatu sisi aparat merasa punya kewajiban
> moral untuk
> > melindungi mereka yang dalam bahaya, bayangkan
> seandainya aparat
> > membiarkan warga asli menyerang orang madura yang
> berlindung dihutan,
> > berapa nyawa yang akan melayang. Seandainya juga
> dalam tugas
> > perlindungan tersebut aparat hanya bertahan, tanpa
> memberikan tindakan
> > represif, saya yakin warga asli akan berani
> menyerang dan membunuh
> > aparat, sehingga korbanpun akan banyak berjatuhan
> di pihak aparat.
> > Dalam hal ini, menurut saya, tindakan represif
> dengan memberikan
> > tembakan yang akhirnya memakan 4 korban jiwa di
> pihak penyerang, sudah
> > cukup adil secara moral, karena bisa mencegah
> jatuhnya korban yang
> > lebih besar. Tentunya aparat tidak asal menembak
> dengan membabi buta.
> > Tapi sebenar benarnya tindakan ini, pasti akan
> mendapatkan penilaian
> > negatif dari berbagai pihak, karena bagaimanapun
> ada masyarakat sipil
> > yang terbunuh. Nah ini kan dilema...
> >
> > Baca sendiri deh berita di bawah ini (nggak usah
> mikir biasnya dulu,
> > ini hanya sekedar contoh kasus).
> >
> > Rabu, 24 Maret 1999
> >
> >                        Situasi Sambas Berangsur
> Normal
> >
> >                        Sambas, Kompas
> >
> >                        Situasi kota-kota kecil di
> pesisir utara
> > Kalimantan Barat seperti
> >                        Pemangkat, Tebas dan Sambas,
> hari Selasa (23/3)
> > berangsur-angsur
> >                        normal. Tetapi menjelang
> malam, terlihat
> > kelompok-kelompok massa
> >                        yang berkumpul di pinggir
> jalan.
> >
> >                        Laporan terakhir
> menyebutkan, situasi yang
> > berangsur normal
> >                        tersebut diwarnai bentrokan
> antara pasukan
> > keamanan yang hendak
> >                        menyelamatkan warga Madura
> yang sembunyi di
> > dalam hutan di
> >                        Samalantan dengan penduduk
> asli setempat.
> >
> >                        Massa bersenjata api rakitan
> dan senjata tajam
> > mencoba menyerang
> >                        petugas yang datang dengan
> belasan truk.
> > Pasukan keamanan
> >                        melepaskan tembakan ke arah
> massa, dan
> > diperkirakan sedikitnya
> >                        empat pelaku penyerangan
> tewas.
> >
> >                        Dalam penyapuan (sweeping)
> yang dilakukan
> > pasukan keamanan di
> >                        Samalantan, ditemukan
> potongan-potongan jenazah
> > yang tak utuh
> >                        lagi. Kondisi mereka sudah
> membusuk.
> >
> >                        Sesuai laporan Pemda Kalbar,
> kerusuhan yang
> > meledak sejak awal
> >                        pekan lalu di tujuh
> kecamatan di Kabupaten
> > Sambas,
> >                        sekurang-kurangnya
> menyebabkan 165 korban
> > tewas. Angka ini
> >                        belum termasuk empat korban
> tewas di Samalantan.
> >
> >                        Penindak kerusuhan
> >
> >                        Di Jakarta hari Selasa,
> Kepala Staf Umum ABRI
> > Letjen TNI Sugiono
> >                        melepas pemberangkatan
> Pasukan Penindak
> > Kerusuhan Massal
> >                        berkekuatan enam Satuan
> Setingkat Kompi.
> >
> >                        Pasukan yang terdiri dari
> unsur TNI AD dan
> > Brigade Mobil Polri itu
> >                        diterbangkan lima pesawat
> Hercules TNI AU ke
> > Kalbar, untuk
> >                        memperkuat aparat keamanan
> dalam upaya melerai
> > pertikaian dan
> >                        kerusuhan yang terjadi di
> sana. Sekitar pukul
> > 18.50 pasukan itu tiba
> >                        di depan Markas Kepolisian
> Resor Sambas di
> > Singkawang.
> >
> >                        Sugiono menyatakan, dalam
> menangani kerusuhan,
> > ada tiga aspek
> >                        yang harus ditangani secara
> bersamaan dan
> > teliti. Pertama,
> >                        menghentikan kerusuhan;
> kedua, menegakkan hukum
> > dengan
> >                        menindak para pelaku
> pelanggaran hukum di
> > lapangan. Ketiga,
> >                        menindak aktor intelektual
> yang mendalangi
> > kerusuhan.
> >
> >                        Pengungsi
> >
> >                        Ribuan pengungsi warga
> Madura masih menunggu
> > dievakuasi di
> >                        Desa Sabaran, Kecamatan
> Tebas. Sejak Rabu pekan
> > lalu hingga
> >                        Selasa, sudah diangkut
> sekitar 7.000 warga
> > Madura, yang kemudian
> >                        diberangkatkan ke Pontianak
> dengan KM Anugerah
> > Makmur, KM
> >                        Kaap Bol, KM Mekar Niaga, KM
> Ikaguri, dan KRI
> > Teluksabang.
> >
> >                        Pelabuhan Sintete di
> Pe-mangkat (Kalbar) sejak
> > seminggu terakhir
> >                        ini ikut terganggu. Menurut
=== message truncated ===

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke