-----Original Message-----
From: FRAREV SITORUS <[EMAIL PROTECTED]>
To: PERMIAS <[EMAIL PROTECTED]>; PMK Bandung Institut of Technology <[EMAIL PROTECTED]>; SUCIPTO KABID 1 GMKI-BANDUNG <[EMAIL PROTECTED]>; PL ers'96 "Gajah duduk" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, April 14, 1999 8:33 PM
Subject: Fwd: MALAYSIA persenjatai etnik melayu?

 
-----Original Message-----
From: FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, April 12, 1999 6:52 PM
Subject: Malaysia persenjatai etnik melayu?

>Penemuan banyaknya peluru bikinan Malaysia sedikit banyak
>menimbulkan pikiran aneh di kepala ane, jangan-jangan Malaysia
>membantu warga Melayu di Kalbar?
 
bisa - bisa aja..., tetapi dengan kecurigaan yang terus"menghantui" ini maka semakin melebar dan bukan mengkerucut pemahaman kita mengenai masalah bangsa Indonesia.

>Wah, kok serasa ada Serbia Raya yg baru di wilayah utara RI.
>Mungkin perlu dicari pula, jangan-jangan ada pelatih militer
>segala. Sementara itu suasana pembersihan etnik di Kosovo boleh
>juga dimiripkan dengan suasana pengungsian warga Madura
>dari Sambas. Warga asal Melayu dan Dayak mengawal evakuasi/
>pengungsian ini.
 
mengawal yang bagaimana? atau "mengawal" yang ini.
 
> Mirip persis dengan pengungsian warga Kosovo
>yang digiring oleh Serbia. Apakah langkah ini dapat disebut baik?
>Baik menurut siapa? Mengapa pula pengungsian warga Madura
>dibenarkan? Apakah warga Melayu dan Dayak di Sambas mempunyai
>hak untuk menolak kehadiran pasukan PHH dan PPRM DI ATAS
>hak warga Madura yang tinggal di Sambas puluhan tahun?

Memang ada benarnya melihat suatu masalah dengan menganalogikan dengan hal lain, tetapi data - data sebagai bahan analogi itu tidak mendukung maka hasilnyapun tidak akurat. Langkah itu dapat dibilang baik menurut penduduk aslinya atau masayarakat setempat, tetapi tidak baik menurut mereka yang berwawasan . Jadi, perlu diperhatikan proses" bottom up" untuk menyelesaikan masalah di setiap daerah di Indonesia. Bukan pandangan mereka yang berwawasan yang dibilang benar untuk menyelesaikannya. Kalau menurut mereka, orang Madura perlu "diusir" maka ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang yang berwawasan luas tanpa berbaur dengan mereka ( "top down").

>Bukankah ini pembenaran dari anggapan bahwa etnik ini lebih berhak
>mengklaim tanah ini, dan etnik itu lebih berhak mengklaim tanah itu?
>Dengan demikian orang lain dapat diusir seenak perutnya. Di negara
>lain warga asing boleh punya tanah, kok di Kalbar sesama WNI tidak
>boleh punya tanah dan cari penghasilan di situ. Kayaknya warga kita
>memang tidak punya nasionalisme sempit, tetapi sebaliknya warga kita
>punya etnis sempit.

Bukan di Kalbar saja, tetapi juga di seluruh tanah air yang kaya akan suku. Selama ini bangsa kita dalam pembangunannya dengan cara lama ( top down), bukannlah memenuhi kebutuhan yang benar - benar mereka perlukan, bukan kebutuhan yang dianalisa oleh orang - orang pintar di luar daerah atau desa.

>Dengan perkembangan baru ini saya kok makin tidak sreg dengan ide
>negara federasi. Klaim "ane lebih berhak" akan makin mencuat.
>Bagaimana pemerintahan BJH yang loyo mensikapi perkembangan
>ini? Wah, kalau BJH terpilih lagi gimana nih? Makin loyo aja RI ini.

Saya mau menanyakan konsep negara yang mau ditawarkan selain federasi itu apa? Negara dengan desentralisasi atau otonomi seluas-luasnya?atau yang lain...
>http://www.kompas.com/kompas-cetak/berita-terbaru/1124.html
>
>--
>               \\\|///
>             \\  - -  //
>              (  @ @  )
>------------oOOo-(_)-oOOo-----------
>FNU Brawijaya
>Dept of Civil Engineering
>Rensselaer Polytechnic Institute
>mailto:[EMAIL PROTECTED]
>--------------------Oooo------------
>           oooO     (   )
>          (   )      ) /
>           \ (      (_/
>            \_)

Windows bitmap

Kirim email ke