>Penemuan banyaknya peluru bikinan Malaysia sedikit
banyak
>menimbulkan pikiran aneh di kepala ane, jangan-jangan
Malaysia
>membantu warga Melayu di Kalbar?
bisa - bisa aja..., tetapi dengan
kecurigaan yang terus"menghantui" ini maka semakin melebar dan
bukan mengkerucut pemahaman kita mengenai masalah bangsa
Indonesia.
>Wah, kok serasa
ada Serbia Raya yg baru di wilayah utara RI.
>Mungkin perlu dicari
pula, jangan-jangan ada pelatih militer
>segala. Sementara itu suasana
pembersihan etnik di Kosovo boleh
>juga dimiripkan dengan suasana
pengungsian warga Madura
>dari Sambas. Warga asal Melayu dan Dayak
mengawal evakuasi/
>pengungsian ini.
mengawal yang
bagaimana? atau "mengawal" yang ini.
> Mirip persis dengan pengungsian warga Kosovo
>yang digiring
oleh Serbia. Apakah langkah ini dapat disebut baik?
>Baik menurut
siapa? Mengapa pula pengungsian warga Madura
>dibenarkan? Apakah warga
Melayu dan Dayak di Sambas mempunyai
>hak untuk menolak kehadiran
pasukan PHH dan PPRM DI ATAS
>hak warga Madura yang tinggal di Sambas
puluhan tahun?
Memang
ada benarnya melihat suatu masalah dengan menganalogikan dengan hal lain,
tetapi data - data sebagai bahan analogi itu tidak mendukung maka
hasilnyapun tidak akurat. Langkah itu dapat dibilang baik menurut penduduk
aslinya atau masayarakat setempat, tetapi tidak baik menurut mereka yang
berwawasan . Jadi, perlu diperhatikan proses" bottom up" untuk
menyelesaikan masalah di setiap daerah di Indonesia. Bukan pandangan mereka
yang berwawasan yang dibilang benar untuk menyelesaikannya. Kalau menurut
mereka, orang Madura perlu "diusir" maka ada masalah yang tidak
dapat diselesaikan oleh orang yang berwawasan luas tanpa berbaur dengan
mereka ( "top down").
>Bukankah ini pembenaran dari anggapan bahwa etnik ini lebih
berhak
>mengklaim tanah ini, dan etnik itu lebih berhak mengklaim
tanah itu?
>Dengan demikian orang lain dapat diusir seenak perutnya.
Di negara
>lain warga asing boleh punya tanah, kok di Kalbar sesama
WNI tidak
>boleh punya tanah dan cari penghasilan di situ. Kayaknya
warga kita
>memang tidak punya nasionalisme sempit, tetapi sebaliknya
warga kita
>punya etnis sempit.
Bukan di Kalbar saja, tetapi
juga di seluruh tanah air yang kaya akan suku. Selama ini bangsa kita dalam
pembangunannya dengan cara lama ( top down), bukannlah memenuhi kebutuhan
yang benar - benar mereka perlukan, bukan kebutuhan yang dianalisa oleh
orang - orang pintar di luar daerah atau desa.
>Dengan perkembangan baru ini saya kok makin tidak sreg dengan
ide
>negara federasi. Klaim "ane lebih berhak" akan makin
mencuat.
>Bagaimana pemerintahan BJH yang loyo mensikapi
perkembangan
>ini? Wah, kalau BJH terpilih lagi gimana nih? Makin loyo
aja RI ini.
Saya mau menanyakan
konsep negara yang mau ditawarkan selain federasi itu apa? Negara dengan
desentralisasi atau otonomi seluas-luasnya?atau yang
lain...
>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/berita-terbaru/1124.html>
>--
>
\\\|///
>
\\ - -
//
>
( @ @ )
>------------oOOo-(_)-oOOo-----------
>FNU
Brawijaya
>Dept of Civil Engineering
>Rensselaer Polytechnic
Institute
>
mailto:[EMAIL PROTECTED]>--------------------Oooo------------
>
oooO (
)
>
( ) )
/
> \
(
(_/
>
\_)