On Wed, 14 Apr 1999, FNU Brawijaya wrote:
> Wah, latihan ngewarna ya mas. Lain kali jangan pake warna kuning
> ah. Endak kebaca.
:-)
> FRAREV SITORUS wrote:
>
> > -----Original Message-----
> > From: FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Monday, April 12, 1999 6:52 PM
> > Subject: Malaysia persenjatai etnik melayu?
> > >Penemuan banyaknya peluru bikinan Malaysia sedikit banyak
> > >menimbulkan pikiran aneh di kepala ane, jangan-jangan Malaysia
> > >membantu warga Melayu di Kalbar? bisa - bisa aja..., tetapi dengan kecurigaan
>yang terus"menghantui" ini maka semakin melebar dan bukan mengkerucut pemahaman kita
>mengenai masalah bangsa Indonesia.
> >
> > BJ:
> > Peluru yg dimaksud bukan peluru biasa. Ini spesial yg mampu
> > membunuh beberapa orang sekaligus. Jadi yg mesti diingat,
> > (1) susah nyari, dan (2) mahal.
> > >Wah, kok serasa ada Serbia Raya yg baru di wilayah utara RI.
> > >Mungkin perlu dicari pula, jangan-jangan ada pelatih militer
> > >segala. Sementara itu suasana pembersihan etnik di Kosovo boleh
> > >juga dimiripkan dengan suasana pengungsian warga Madura
> > >dari Sambas. Warga asal Melayu dan Dayak mengawal evakuasi/
> > >pengungsian ini. mengawal yang bagaimana? atau "mengawal" yang ini.
> >
> > BJ:
> > Benar-benar mengawal. Nah, biarpun begitu, kalau kita mau menarik
> > kesimpulan, maka di wilayah lainpun kita berhak menolak
> > keberadaan PHH dan PPRM. Di sini orang yg mengawal
> > tentunya bawa senjata, masak mau bawain makanan.
> > Artinya keberadaan milisi (orang bersenjata) dibenarkan
> > oleh Polri. Bila ditarik lebih panjang lagi, berarti boleh
> > dong kita mempersenjatai diri? Kalau kita kaya boleh dong
> > beli senapan mesin? Apa bedanya parang dengan senapan
> > mesin kalau fungsinya untuk membunuh (bukan untuk ngarit)?
> >
> > Saya sedang mempersoalkan suatu kelompok
> > masyarakat yang berbuat kejahatan, tetapi masih diberi
> > kebebasan untuk melanjutkan kejahatannya itu. Endak tahu
> > kalau anda menganggap membunuh dan mengusir orang dari
> > rumahnya bukanlah kejahatan.
> >
> > Mangkanya ane dulu masalahin kejahatan kolektif yang
> > selalu diberi ampun. Contone kalau di suatu kampung ada
> > seseorang disangka tukang santet, lalu sekampung
> > mengeroyok sampai mati. Bahkan dipotong-potong dan
> > dibakar. Herannya endak ada yg dihukum tuh.
> > (Lihat kasus di Jatim, bukan yg kemarin itu. Juga kasus di
> > sekitar Medan tahun silam). Dulu, orang sekampung nuntut
> > dimasukin bareng-bareng ke penjara. Herannya manjur.
> > Ndak ada yg dihukum. Kejahatan pembunuhan dianggap
> > selesai karena masyarakat merestui. Ini kan nggak bener.
> > Dalam kasus Ambon dan Sambas, kejadian ini menjadi
> > demikian besar skalanya. Tapi esensinya tetap sama. Dan
> > perangkat hukum kita tetap memble. Wong ngurusin
> > skala kampung aja nggak kelar kok mau ngurusin kecamatan
> > yg luasnya mirip satu kabupaten.
> > > Mirip persis dengan pengungsian warga Kosovo
> > >yang digiring oleh Serbia. Apakah langkah ini dapat disebut baik?
> > >Baik menurut siapa? Mengapa pula pengungsian warga Madura
> > >dibenarkan? Apakah warga Melayu dan Dayak di Sambas mempunyai
> > >hak untuk menolak kehadiran pasukan PHH dan PPRM DI ATAS
> > >hak warga Madura yang tinggal di Sambas puluhan tahun?
> > Memang ada benarnya melihat suatu masalah dengan menganalogikan dengan hal lain,
>tetapi data - data sebagai bahan analogi itu tidak mendukung maka hasilnyapun tidak
>akurat. Langkah itu dapat dibilang baik menurut penduduk aslinya atau masayarakat
>setempat, tetapi tidak baik menurut mereka yang berwawasan . Jadi, perlu diperhatikan
>proses" bottom up" untuk menyelesaikan masalah di setiap daerah di Indonesia. Bukan
>pandangan mereka yang berwawasan yang dibilang benar untuk menyelesaikannya. Kalau
>menurut mereka, orang Madura perlu "diusir" maka ada masalah yang tidak dapat
>diselesaikan oleh orang yang berwawasan luas tanpa berbaur dengan mereka ( "top
>down").
> >
> > BJ:
> > Nah, ini dia. Dengan dasar apa masyarakat setempat berhak
> > mengusir kaum pendatang? Mereka sah mempunyai rumah
> > dan mencari penghasilan di sana. Kalau boleh ditarik kesimpulan
> > seperti itu, mengapa kita tidak boleh mengusir dan membunuh
> > WNI Keturunan Cina kan? Mengapa orang Betawi nggak boleh
> > ngusir semua orang non-betawi di Jakarta termasuk ane? Setiap orang kan
> > berhak tinggal di suatu tempat asal sah. Ini lain konsep dengan
> > masalah bottom-up dan top-down, (kalau saya boleh bilang gitu).
> > Ini masalah sekelompok masyarakat yang berwawasan sempit,
> > dan membunuhi dan mengusiri sekelompok masyarakat yang
> > lain. Jangan dibalik-balik ah, kok justru yg berwawasan sempit
> > yang malah benar. Justru yg sempit ini yg mesti dibikin lebar.
> > >Bukankah ini pembenaran dari anggapan bahwa etnik ini lebih berhak
> > >mengklaim tanah ini, dan etnik itu lebih berhak mengklaim tanah itu?
> > >Dengan demikian orang lain dapat diusir seenak perutnya. Di negara
> > >lain warga asing boleh punya tanah, kok di Kalbar sesama WNI tidak
> > >boleh punya tanah dan cari penghasilan di situ. Kayaknya warga kita
> > >memang tidak punya nasionalisme sempit, tetapi sebaliknya warga kita
> > >punya etnis sempit.
> > Bukan di Kalbar saja, tetapi juga di seluruh tanah air yang kaya akan suku. Selama
>ini bangsa kita dalam pembangunannya dengan cara lama ( top down), bukannlah memenuhi
>kebutuhan yang benar - benar mereka perlukan, bukan kebutuhan yang dianalisa oleh
>orang - orang pintar di luar daerah atau desa.
> >
> > BJ:
> > Memang benar, walaupun tidak sepenuhnya benar. Cara lama
> > tidak sepenuhnya top-down juga. Semua lihat potensi dan
> > aspirasi, walaupun karena keterbatasan dana dan aspirasi
> > demikian luas dan beragam, lalu lebih banyak muncul policy
> > "silakan terima jadi saja". Eh, ini kok jadi ngomongin planning.
> >
> > Hehe.... Anda orang planning kok malah ikut-ikutan mikir kayak gitu
> > tho? Jelas yg mesti mikirn dan nganalisis tentunya orang seperti
> > anda, bukan lurah Kampung Anu. Dan tugas anda kan bukan hanya
> > mikirin daerah atau kampuang ente saja tho? Gimana dapatin planning
> > terintegrasi kalau semua tuntutan orang mesti dipenuhi. Mbok ya
> > dicoba buat skripsi bikin planning buat suatu kampung deh. Tapi coba
> > masukin semua input dari semua masy., tetanggane, dll.
> > Entar kan anda semaput.
> >
> > Sebetulnya saya punya contoh aktual desentralisasi yg jadi nggak
> > karuan karena: (1) SDM nggak siap, (2) infrastruktur belum siap.
> > (3) Diselewengkan oleh yg melaksanakan itu.
> >
> > Jadi, kalau selama ini dg top-down, kebocoran dana (dari dulu kan
> > ini doang yg jadi biang kerok) dimulai dari ujung, sampe ke
> > bawah juga tetap ada lubang. Nah, contoh aktual saya ini,
> > ndak ada kebocoran di "ujung" wong sudah didesentralisasi.
> > Tapi hasilnya luar biasa. Yang netes ke bawah yang dengan
> > sentralisasi netes 1 baskom, dengan desentralisasi yg sampe ke
> > masy. malah cuman 1 cc. Hal ini dapat terjadi karena pusat
> > melonggarkan pengawasan (sejalan dg semangatnya itu),
> > tapi yg dikasih kuasa ngatur diri sendiri malah nggak karuan.
> > Serasa nerima rejeki nomplok sendiri. Saya yakin bayak juga
> > anda-anda yg mengetahui kasus-kasus spt ini.
> > >Dengan perkembangan baru ini saya kok makin tidak sreg dengan ide
> > >negara federasi. Klaim "ane lebih berhak" akan makin mencuat.
> > >Bagaimana pemerintahan BJH yang loyo mensikapi perkembangan
> > >ini? Wah, kalau BJH terpilih lagi gimana nih? Makin loyo aja RI ini.
> > Saya mau menanyakan konsep negara yang mau ditawarkan selain federasi itu apa?
>Negara dengan desentralisasi atau otonomi seluas-luasnya?atau yang lain...
> >
> > BJ:
> > Wah, mas, konsep otonomi itu bagaimana sih? Luasnya
> > seberapa maunya? Ndak ada konsep yg jelas dan tegas mengenai
> > hal ini. Semuanya custom-made. Makanya waktu dibilang Timtim
> > dikasih otonomi seluas-luasnya saya cenderung menterjemahkan
> > sebagai melepaskan statusnya, lalu jadi protektorat saja. Macam
> > Puerto Rico, atau Mariana. Temtunya bukan Dina Mariana.
> >
> > Kalau ane boleh usul, perbaiki aja struktur yg ada.
> > Lha sudah dari dulu desentralisasi itu direncanakan. Yang endak
> > ada kan pelaksanaannya (taon berapa ya, 1974?). Jadi yang mestinya
> > kita tuntut dan perjuangkan ya agar itu dilaksanakan. Bukan ngambek
> > lalu minta barang lain yang endak jelas juntrungannya. Kalau mesti
> > nurutin orang ngambek ya repot. Kalau cewek ngambek ya dikasih
> > senyum, endak mempan ya dikasih bunga. Endak mempan lagi ya
> > ditinggal pergi aja. Entar kan baek sendiri. Hehehe........
> > Lha ini kan lain. Konsekuensinya bersifat permanen. Sekali dikasih
> > otonomi, ya udah selamanya gitu.
> >
> > Nah, sekarang pemerintah bikin baru lagi nih rencana desentralisasi.
> > Kita lihat gimana pelaksanaannya. Nurut ane mestinya endak
> > perlu bikin baru. Tapi berhubung buat ningkatin
> > moral orang 'kali, makanya dibikin baru. Ya sudah endak apa-apa.
> >
> > Weleh-weleh, warna-warni posting anda bener-bener ngasih hard time.
> > Tobat deh.
>
> --
> \\\|///
> \\ - - //
> ( @ @ )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
> oooO ( )
> ( ) ) /
> \ ( (_/
> \_)
>