Hallo, M. Brawijaya,
Nah, sekarang kita bisa serius khan.
Kalau begitu dengan senang hati saya akan balasnya dan dengan
tulus hati juga.
Pertama-tama karena anda sudah serius, saya minta maaf karena
sudah menyinggung anda dalam sehari ini. Masalahnya saya juga
terus terang saja cukup panas membaca tanggapan anda yang
terkesan asal-asalan kepada saya. Saya bukannya tak tahu diri
dan saya sendiri sekarang saja mengaku bahwa saya banyak
sekali salahnya juga. Selain itu juga sangat tak sopan terutama
dalam tulisan terakhir berhubung anda sendiri kesannya menantang
saya untuk marah. Coba anda periksa lagi tulisan terakhir anda dan
nada-nada didalamnya. Tapi sudahlah, saya dengan tulisan ini mau
mengajak damai dan minta maaf daripada membuat keributan berlarut-
larut. Lagian juga kalau sekarang saya retropeksi diri setelah melihat
anda serius begini, kesalahan terbesar justru ada di saya juga.
>1. Siapa nyang pertama nulis pake sebutan 'bray', pake ngeles lagi...
>��� Dari pertama memang niatnya sudah nggak bener nih...
Sekali lagi saya minta maaf soal yang ini. Saya memang sangat tak
sopan, dan kalau saya baca lagi tulisan anda yang pertama sebetulnya
sudah cukup fair, apalagi di situasi sekarang. Tapi yang membuat saya
mengeluarkan kata seperti itu adalah bahwa anda tidak melihat posting-
posting M/Mme Hadeer yang selama ini memang sudah cenderung
berat sebelah dan penuh prejudice; dan langsung seakan-akan memvonis
bahwa saya yang di pihak yang salah. Tapi saya rasa itu bukan alasan
untuk kekurangajaran itu. Karena itu saya sekali lagi minta maaf.
>2. Kalo memang ingin bukti konkrit kenapa anda juga nggak ngasih tiap
>�� anda bikin statement?
Memang sulit kalau kita memberi persentase untuk angka korupsi,
karena terus terang saya sendiri mendapat banyak sekali angka.
Contohnya saja, menurut Richard Borsuk,
'In a loan scam revealed in 1994, the state-owned BAPINDO lost twice
its capital.' Karena itu memang sulit mendapat bukti yang betul-betul
akurat 100%.
Tapi yang saya kritik dari tulisan anda adalah anda sering menyatakan
satu hal tanpa fakta. Contohnya: 'Lho, masak Bung YS nggak tahu
kalo bank bumn lebih konservatif ngasih pinjaman?' Kalau begitu kenapa
BAPINDO bisa kebobolan dan ditambah ini:
Salah satu bukti akademia bahwa bank-bank negara yang TIDAK konservatif:
<http://www.pacific.net.id/pakar/sj/india.html>http://www.pacific.net.id/pa
kar/sj/india.html
Let me summarize how banking restructuring was conducted in Indonesia
with a view to the principles mentioned before. Before the current banking
crisis, the most recent experience of dealing with problematic banks was
the closure of Bank Summa, a sizable bank, at the end of 1992.
A significant number of banks, including most state banks,
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
were faced with serious non-performing loans, partly due to the drastic
monetary policy implemented during 1991-1992 to halt the overheating
of the economy. The IMF classified the condition of Indonesian banks
then as experiencing significant problems. The closure of Bank Summa
was a distressing experience since it took a long time to be resolved.
However, in the course of time, conditions improved as shown by the
national average of non-performing loans, which declined from 25%
of total lending in 1993 to 12% in 1995. 13
13 See, Carl-Johan Lindgren, et al., Bank Soundness���, table 2,
page 26. On the main issues confronting Indonesia in coping with banking
system management and banking reform prior to the present crisis, see
my paper, The Banking Sector in Emerging Markets : The Case of
Indonesia, published in Charles Enoch and John H. Green, eds., Banking
Soundness���, pp 335-352.
Dari sekilas ini saja, saya sudah bisa menaksir bahwa paling tidak trilliunan
rupiah sudah habis ditilep atau digunakan tidak bener.
>3. Kalo BI bisa ngasih pinjaman, mbok kita dikasih tahu gimana caranya.
>��� Siapa yg bisa minjam, berapa minimum & maksimum jumlah pinjaman.
>��� Apakah benar keluarga cendana pinjam uang ke BI? Ane ndak pernah
>��� denger tuh? Tapi kalo emang ada kasus begitu silakan dibuka infonya.
>��� Ndak perlu komentar orang nggak ngerti struktur lah. Sopo sing mbelit
>��� tho, ente atau ane? Mbok langsung saja dikasih tahu gimana gitu...
>��� Saya terbuka kok kalo dikoreksi, apa lagi yg cuman mbaca.....
Bank Indonesia diberi authorization untuk memberi pinjaman terutama ke
projek-projek besar yang dananya tak bisa dicukupi oleh bank-bank biasa
saja; terutama yang menyangkut tentang pembangunan.
Sebagai salah satu contoh adalah Krakatau Steel di Cilegon dan IPTN di
Bandung. Kalau menurut peraturan perbankan yang baru itu, Bank Indonesia
tidak boleh lagi memberikan kredit. (Peraturan yang lama: Undang-Undang
nomor 13 tahun 1968 mengenai bank sentral)
Mengenai datanya, seperti sudah saya katakan di e-mail yang lalu, bahwa
sebagian besar data-data saya sayangnya itu ada di Indo. Terserah kalau
anda mau menyatakan itu alasan atau bagaimana lagi. Tapi itu faktanya.
Makanya waktu itu saya minta kalau Bung Irwan atau siapa yang tahu
tolong supply datanya. Tapi anda menganggap saya main-main.
>4. Siapa yang pake bahasa 'otak diservis' segala macem.
E-mail terakhir kita kalau sudah lihat bahasanya itu memang sudah
mengarah ke arah keributan. Ditambah lagi kalau anda baca tulisan
anda yang terakhir itu juga sudah cukup panas dan yang saya tulis
seakan-akan anda permainkan.
>5. Ente mencoba bermain bahwa seakan-akan ane nuduh tulisan
>�� anda nggak pernah bener, tulisan Hadeer selalu bener, dan tulisan
>�� ane ada yg salah. Mbok dilihat lagi apa yg saya tulis.
>�� Sopo sing muter-muter? Nih, posting asli ane:
>
Saya rasa saya sudah bahas keberatan saya di e-mail-email sebelumnya.
Karena itu masalah ini saya tutup juga, karena hal ini lebih cenderung ke
permainan kata dan logika. Tapi kalau anda masih tersinggung juga, saya
sekalian saja minta maaf juga mengenai soal ini.
>5. Ente itu bukannya berterima kasih diingatkan agar mau melihat segi yang
positif
>�� dari tulisan Bung Hadeer malah jadi sok pintar bener. Sok meng-klaim
tulisannya
>�� pasti bener 100 persen.
Kalau saya melihat tulisan anda yang sekarang ini, saya banyak melihat segi
positifnya
dan juga sejujurnya tulisan pertama anda yang menyebabkan meletusnya perang
mulut ini juga saya lihat banyak positifnya. Tapi kalau tentang tulisan Hadeer
itu,
saya jauh lebih banyak melihat segi prejudicenya, apalagi kalau dilihat secara
konteks
keseluruhan yakni menjelek-jelekkan PDI-P. Kalau argumentasinya itu adalah
bankir
banyak yang tak jujur dan dia mau bahas secara terpisah tanpa
menjelek-jelekkan
pihak yang sebetulnya tak terlalu banyak hubungan (PDI-P), saya akan
melihatnya
dengan kacamata yang lain. BTW: kapan saya claim tulisan saya benar 100%?
Heran ane... Hehe...lama-lama panas juge pan ane...
>��� Pake nyuruh ane nanya arti kiasan ke orang sekolah lagi...buset....
'Pot calls kettle black' itu adalah istilah yang cukup sering dipakai di US.
Saya tak merasa hal itu keterlaluan.
>6. Yang melebar kemana-mana ane ato ente? Buka lagi folder 'Sent' ente ah....
Sedikit membela diri: e-mail pertama saya memang kurang sopan buat anda. Itu
saya mengerti. Tapi dari isinya saya rasa itu berhubungan erat sekali dengan
e-mail anda dan e-mail Hadeer yang saya kritik itu. Tapi kalau anda merasa
saya
yang melebar-lebarkan masalah, saya minta maaf juga soal ini kalau begitu.
>7. Salam baik yg mana? Cya? Opo iku? See you? Bisa aja ane terjemahin 'siah'
kan?
Cya itu adalah singkatan untuk 'see you' dan biasanya digunakan untuk
teman-teman
baik. Anda sekolah di US tapi kok belum pernah dengar kata itu. Tapi sudahlah,
saya tak mau lagi mencari ribut dengan anda. Apalagi dengan suasana super
panas seperti ini.
>��� Kok maksa ane untuk ngerti kata informal kayak gitu sementara anda nggak
>��� ngerti apa itu 'ciak'? Sekarang ane gantian minta anda nanya ke teman
sekolah
>��� anda. Itu kalo perlu, kan ente pinter banget, wong tulisan aja perfect 10
kok...
'Ciak' itu saya tak pernah dengar, secara informal pun.
Kalau cya itu saya rasa sangat populer.
>
>Nah, mari kita bicara bukti konkrit di sini. Monggo....
>Karena tulisan anda mengesankan bahwa anda rekan Bung Irwan (yg udah ngaku
>dulu kerja di BUMN), mungkin anda juga (pernah) bekerja di BUMN. Ane juga
>berasumsi ente bekerja di sektor keuangan. Boleh deh dibagi-bagi infonya,
berikut
>bukti kongkrit. Tentunya kalo ente punya.
Saya tak pernah menyatakan bahwa saya rekan Bung Irwan. Saya 'mengikutkan' dia
di sini karena saya menganggap dia punya banyak pengetahuan tentang ekonomi
dan mungkin bisa membantu menengahi dengan kemampuannya itu. Saya sejujrunya
saja belum pernah kerja di BUMN; dan pengalaman saya kebanyakan di bidang
akademia
research. Coba kalau anda baca tulisan saya, yang mana yang mengesankan saya
rekan Bung Irwan dan sama-sama pekerja di BUMN.
>Padahal kalo secara informal kan itu bukan berita baru juga. Pegimane sih
>logikane sampeyan? Memang susah kalo ngomong sama orang pinter, ane
>nyang nggak sampe-sampe.....gile bener....100% perfect cing....
Saya tak menyatakan anda perlu data yang 100% akurat, tapi justru kalau ada
argumen tentang sesuatu, tolong ada juga buktinya.
Tapi sebelum saya lupa tujuan e-mail ini lagi, saya mau menuntaskan saja ini.
Saya dengan setulus hati meminta maaf kepada M. FNU Brawijaya atas serangan-
serangan saya secara verbal kepada dia. Banyak serangan yang saya tulis di
e-mail
kepada dia sebetulnya tidak cocok dan tidak sesuai kaidah yang berlaku, dari
segi
ejekan sampai pernyataan yang menantang. Walau sebagian ada dasarnya, tapi
itu bukan alasan untuk melanggar etika yang ada di pergaulan sosial kita.
Karena
itu, saya sekali lagi meminta maaf dan meminta agar M. FNU Brawijaya sudi
memaafkan saya dan menganggap pertengkaran antara kita berdua terselesaikan.
Jika anda tak memaafkan saya, itu adalah hak anda, dan saya tak bisa berbuat
apapun lagi. Kalau isi e-mail ini ternyata menyinggung anda, saya juga sekali
lagi meminta maaf atas keteledoran ini.
Anyway, saya secara pribadi menunggu balasan anda, karena sebelum anda
menjawab permintaan maaf saya ini, saya tak bisa menyatakan pertengkaran
ini selesai.
I am waiting for your reply
Yohanes Sulaiman
Man make mistakes as long as they strive.
God in "Faust" by Goethe