Wah, saya berusaha selalu terbuka untuk koreksi kok. Sebetulnya kecuali email
terakhir, sama sekali tidak ada rasa emosi atau menantang rasa marah. Sejak
beberapa bulan ini saya sendiri berupaya sekuat tenaga tidak mengikutkan
emosi. Ini berbeda dengan 2.5 tahun yg lalu waktu pertama kali ikut milis.
Cuma kepada satu orang saja di milis ini yang saya selalu bersikap harsh
karena sudah sulit sekali untuk mencari titik temu bahkan lewat jalur pribadi.
Untuk yang lainnya dari pihak saya sudah tidak pernah lagi.

Mengenai posting Bing Hadeer, saya hanya mengajak untuk melihat segi positif
saja. Di balik kesinisan posting Bung Hadeer kan ada nilai dan info positif juga.
Untuk itu saya mengajak anda (sebetulnya lebih ditujukan kepada Bung Efron)
untuk melihat hal itu, sekalian mengingatkan bahwa tulisan anda, tulisan kita
semua juga tidak bersih dari kesalahan. Itu saja.

Ya sudah kita saling memaafkan.

Note:
* Ciak = makan (bahasa cina), kebetulan di komunitas saya sudah menjadi
        bahasa umum.
* Siah = bagian dari makian bahasa sunda.
* Cya = tahu setelah saya kira-kira sendiri, sorry nggak tahu sebelumnya.
        Major saya di sini hanya memungkinkan berinteraksi dengan sedikit
        orang saja, dan lebih bersifat belajar sendiri, tidak berdiskusi. Berbeda
        dengan program MBA atau sejenisnya yg menguntungkan untuk
        berinteraksi dengan banyak orang. Maaf.
*  Akan saya pelajari site-site anda. Semoga bermanfaat bukan untuk saya saja.
*  Mengenai BI, kebetulan saya pernah ambil kuliah Ek. Moneter, sayang saya
   kehilangan kesempatan untuk mengetahui hal itu. Seingat saya memungkinkan
   untuk pinjam dengan jumlah minimum ttt saja, dan itu untuk proyek strategis saja.
   Ini lebih sebagai case khusus, dan saya belum pernah mendengar terdapat proyek
   swasta yg menggunakannya. (Mungkin pas saya bolos kali).
* Setelah membaca sekilas site yang anda tawarkan, belum menemukan statement
  yg menyatakan bank BUMN tidak konservatif (relatif thd bank swasta). Akan saya
  baca lebih baik lagi.
* Sebetulnya dari yg saya pelajari dan saya lihat, sampai tahun 1988 (eh 1989?
  dan sebatas yg saya tahu masih berlangsung setelah masa itu) memang bank
  BUMN lebih konservatif dalam memberikan pinjaman. Paling tidak ini berlaku di
  tingkat consumer banking dan juga corporate banking sampai tingkat tertentu.
  Bila sudah di atas itu sebatas yg saya tahu tergantung negosiasi, sangat fleksibel.
  Mungkin ini yang anda maksud bahwa bank BUMN malah TIDAK konservatif
  dibandingkan dg bank swasta? Bukankah ini disebabkan oleh praktek kotor bank
  swasta yang meminjamkan dana hanya kepada perusahaan di dalam holding
  company mereka atau ke kelompok mereka saja? Dengan demikian dana
  masyarakat yang tersedot tidak bersisa lagi untuk dipinjamkan ke kelompak atau
  pihak lain. Setahu saya justru di sini sumber penyakit atau ekses dari liberalisasi
  perbankan (Gebrakan Sumarlin? Lupa...) yang tidak dibarengi oleh perundangan
  yang memadai. Di antara bank-bank yang terlibat di sini memang termasuk bank
  yang sebagian sahamnya dimiliki keluarga Suharto, tetapi bank-bank tersebut
  tergolong bank yg relatif kecil, bukan yang kelas kakap. Saya merasa fakta ini
  sedang ditutup-tutupi di masa sekarang ini untuk tujuan yg saya sendiri tidak
  tahu. Saya ingin agar rekan-rekan tetap ingat & waspada, ada apa di balik ini.
* Memang saya dengar bahkan ada bank BUMN yang assetnya sudah negatif. Ini
  tentu saja informasi informal pra bank mandiri dsb itu. Data kongkrit jelas tidak
  ada, dan saya berani taruhan tidak ada yang punya data tsb. Mengenai
  selentingan siapa-siapa yg bertanggung jawab juga ada. Tetapi namanya juga
  selentingan sulit untuk ditelusuri kebenarannya. Yang model ini tentu kita tidak
  bisa beberkan kan?
* Untuk kasus Summa, setahu saya lebih diakibatkan policy ekspansif dari Edward
  Suryajaya, yang bahkan tidak sepaham dengan ayahnya. Bahkan sedemikian
  ekspansifnya, sampai-sampai berani menjadi satu-satunya bank swasta yang
  berani mengikutkan modal pada super mega proyek jembatan suramadu. Kalo
  yg ini ada data kongkrit, berbentuk hard copy, (tetapi di Indonesia).


'-------------------------------------
Yohanes Sulaiman wrote:

> Hallo, M. Brawijaya,
>
> Nah, sekarang kita bisa serius khan.
> Kalau begitu dengan senang hati saya akan balasnya dan dengan
> tulus hati juga.
>
> Pertama-tama karena anda sudah serius, saya minta maaf karena
> sudah menyinggung anda dalam sehari ini. Masalahnya saya juga
> terus terang saja cukup panas membaca tanggapan anda yang
> terkesan asal-asalan kepada saya. Saya bukannya tak tahu diri
> dan saya sendiri sekarang saja mengaku bahwa saya banyak
> sekali salahnya juga. Selain itu juga sangat tak sopan terutama
> dalam tulisan terakhir berhubung anda sendiri kesannya menantang
> saya untuk marah. Coba anda periksa lagi tulisan terakhir anda dan
> nada-nada didalamnya. Tapi sudahlah, saya dengan tulisan ini mau
> mengajak damai dan minta maaf daripada membuat keributan berlarut-
> larut. Lagian juga kalau sekarang saya retropeksi diri setelah melihat
> anda serius begini, kesalahan terbesar justru ada di saya juga.
>
> >1. Siapa nyang pertama nulis pake sebutan 'bray', pake ngeles lagi...
> >    Dari pertama memang niatnya sudah nggak bener nih...
>
> Sekali lagi saya minta maaf soal yang ini. Saya memang sangat tak
> sopan, dan kalau saya baca lagi tulisan anda yang pertama sebetulnya
> sudah cukup fair, apalagi di situasi sekarang. Tapi yang membuat saya
> mengeluarkan kata seperti itu adalah bahwa anda tidak melihat posting-
> posting M/Mme Hadeer yang selama ini memang sudah cenderung
> berat sebelah dan penuh prejudice; dan langsung seakan-akan memvonis
> bahwa saya yang di pihak yang salah. Tapi saya rasa itu bukan alasan
> untuk kekurangajaran itu. Karena itu saya sekali lagi minta maaf.
>
> >2. Kalo memang ingin bukti konkrit kenapa anda juga nggak ngasih tiap
> >   anda bikin statement?
> Memang sulit kalau kita memberi persentase untuk angka korupsi,
> karena terus terang saya sendiri mendapat banyak sekali angka.
> Contohnya saja, menurut Richard Borsuk,
> 'In a loan scam revealed in 1994, the state-owned BAPINDO lost twice
> its capital.' Karena itu memang sulit mendapat bukti yang betul-betul
> akurat 100%.
> Tapi yang saya kritik dari tulisan anda adalah anda sering menyatakan
> satu hal tanpa fakta. Contohnya: 'Lho, masak Bung YS nggak tahu
> kalo bank bumn lebih konservatif ngasih pinjaman?' Kalau begitu kenapa
> BAPINDO bisa kebobolan dan ditambah ini:
>
> Salah satu bukti akademia bahwa bank-bank negara yang TIDAK konservatif:
> <http://www.pacific.net.id/pakar/sj/india.html>http://www.pacific.net.id/pa
> kar/sj/india.html
>
> Let me summarize how banking restructuring was conducted in Indonesia
> with a view to the principles mentioned before. Before the current banking
> crisis, the most recent experience of dealing with problematic banks was
> the closure of Bank Summa, a sizable bank, at the end of 1992.
> A significant number of banks, including most state banks,
>                                              ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
> were faced with serious non-performing loans, partly due to the drastic
> monetary policy implemented during 1991-1992 to halt the overheating
> of the economy. The IMF classified the condition of Indonesian banks
> then as experiencing significant problems. The closure of Bank Summa
> was a distressing experience since it took a long time to be resolved.
> However, in the course of time, conditions improved as shown by the
>  national average of non-performing loans, which declined from 25%
> of total lending in 1993 to 12% in 1995. 13
>
> 13 See, Carl-Johan Lindgren, et al., Bank Soundness���, table 2,
> page 26. On the main issues confronting Indonesia in coping with banking
> system management and banking reform prior to the present crisis, see
> my paper, The Banking Sector in Emerging Markets : The Case of
> Indonesia, published in Charles Enoch and John H. Green, eds., Banking
> Soundness���, pp 335-352.
>
> Dari sekilas ini saja, saya sudah bisa menaksir bahwa paling tidak trilliunan
> rupiah sudah habis ditilep atau digunakan tidak bener.
>
> >3. Kalo BI bisa ngasih pinjaman, mbok kita dikasih tahu gimana caranya.
> >    Siapa yg bisa minjam, berapa minimum & maksimum jumlah pinjaman.
> >    Apakah benar keluarga cendana pinjam uang ke BI? Ane ndak pernah
> >    denger tuh? Tapi kalo emang ada kasus begitu silakan dibuka infonya.
> >    Ndak perlu komentar orang nggak ngerti struktur lah. Sopo sing mbelit
> >    tho, ente atau ane? Mbok langsung saja dikasih tahu gimana gitu...
> >    Saya terbuka kok kalo dikoreksi, apa lagi yg cuman mbaca.....
>
> Bank Indonesia diberi authorization untuk memberi pinjaman terutama ke
> projek-projek besar yang dananya tak bisa dicukupi oleh bank-bank biasa
> saja; terutama yang menyangkut tentang pembangunan.
> Sebagai salah satu contoh adalah Krakatau Steel di Cilegon dan IPTN di
> Bandung. Kalau menurut peraturan perbankan yang baru itu, Bank Indonesia
> tidak boleh lagi memberikan kredit. (Peraturan yang lama: Undang-Undang
> nomor 13 tahun 1968 mengenai bank sentral)
>
> Mengenai datanya, seperti sudah saya katakan di e-mail yang lalu, bahwa
> sebagian besar data-data saya sayangnya itu ada di Indo. Terserah kalau
> anda mau menyatakan itu alasan atau bagaimana lagi. Tapi itu faktanya.
> Makanya waktu itu saya minta kalau Bung Irwan atau siapa yang tahu
> tolong supply datanya. Tapi anda menganggap saya main-main.
>
> >4. Siapa yang pake bahasa 'otak diservis' segala macem.
> E-mail terakhir kita kalau sudah lihat bahasanya itu memang sudah
> mengarah ke arah keributan. Ditambah lagi kalau anda baca tulisan
> anda yang terakhir itu juga sudah cukup panas dan yang saya tulis
> seakan-akan anda permainkan.
>
> >5. Ente mencoba bermain bahwa seakan-akan ane nuduh tulisan
> >   anda nggak pernah bener, tulisan Hadeer selalu bener, dan tulisan
> >   ane ada yg salah. Mbok dilihat lagi apa yg saya tulis.
> >   Sopo sing muter-muter? Nih, posting asli ane:
> >
> Saya rasa saya sudah bahas keberatan saya di e-mail-email sebelumnya.
> Karena itu masalah ini saya tutup juga, karena hal ini lebih cenderung ke
> permainan kata dan logika. Tapi kalau anda masih tersinggung juga, saya
> sekalian saja minta maaf juga mengenai soal ini.
>
> >5. Ente itu bukannya berterima kasih diingatkan agar mau melihat segi yang
> positif
> >   dari tulisan Bung Hadeer malah jadi sok pintar bener. Sok meng-klaim
> tulisannya
> >   pasti bener 100 persen.
> Kalau saya melihat tulisan anda yang sekarang ini, saya banyak melihat segi
> positifnya
> dan juga sejujurnya tulisan pertama anda yang menyebabkan meletusnya perang
> mulut ini juga saya lihat banyak positifnya. Tapi kalau tentang tulisan Hadeer
> itu,
> saya jauh lebih banyak melihat segi prejudicenya, apalagi kalau dilihat secara
> konteks
> keseluruhan yakni menjelek-jelekkan PDI-P. Kalau argumentasinya itu adalah
> bankir
> banyak yang tak jujur dan dia mau bahas secara terpisah tanpa
> menjelek-jelekkan
> pihak yang sebetulnya tak terlalu banyak hubungan (PDI-P), saya akan
> melihatnya
> dengan kacamata yang lain. BTW: kapan saya claim tulisan saya benar 100%?
>
> Heran ane... Hehe...lama-lama panas juge pan ane...
> >    Pake nyuruh ane nanya arti kiasan ke orang sekolah lagi...buset....
>
> 'Pot calls kettle black' itu adalah istilah yang cukup sering dipakai di US.
> Saya tak merasa hal itu keterlaluan.
>
> >6. Yang melebar kemana-mana ane ato ente? Buka lagi folder 'Sent' ente ah....
> Sedikit membela diri: e-mail pertama saya memang kurang sopan buat anda. Itu
> saya mengerti. Tapi dari isinya saya rasa itu berhubungan erat sekali dengan
> e-mail anda dan e-mail Hadeer yang saya kritik itu. Tapi kalau anda merasa
> saya
> yang melebar-lebarkan masalah, saya minta maaf juga soal ini kalau begitu.
>
> >7. Salam baik yg mana? Cya? Opo iku? See you? Bisa aja ane terjemahin 'siah'
> kan?
>
> Cya itu adalah singkatan untuk 'see you' dan biasanya digunakan untuk
> teman-teman
> baik. Anda sekolah di US tapi kok belum pernah dengar kata itu. Tapi sudahlah,
> saya tak mau lagi mencari ribut dengan anda. Apalagi dengan suasana super
> panas seperti ini.
>
> >    Kok maksa ane untuk ngerti kata informal kayak gitu sementara anda nggak
> >    ngerti apa itu 'ciak'? Sekarang ane gantian minta anda nanya ke teman
> sekolah
> >    anda. Itu kalo perlu, kan ente pinter banget, wong tulisan aja perfect 10
> kok...
> 'Ciak' itu saya tak pernah dengar, secara informal pun.
> Kalau cya itu saya rasa sangat populer.
>
> >
> >Nah, mari kita bicara bukti konkrit di sini. Monggo....
> >Karena tulisan anda mengesankan bahwa anda rekan Bung Irwan (yg udah ngaku
> >dulu kerja di BUMN), mungkin anda juga (pernah) bekerja di BUMN. Ane juga
> >berasumsi ente bekerja di sektor keuangan. Boleh deh dibagi-bagi infonya,
> berikut
> >bukti kongkrit. Tentunya kalo ente punya.
>
> Saya tak pernah menyatakan bahwa saya rekan Bung Irwan. Saya 'mengikutkan' dia
> di sini karena saya menganggap dia punya banyak pengetahuan tentang ekonomi
> dan mungkin bisa membantu menengahi dengan kemampuannya itu. Saya sejujrunya
> saja belum pernah kerja di BUMN; dan pengalaman saya kebanyakan di bidang
> akademia
> research. Coba kalau anda baca tulisan saya, yang mana yang mengesankan saya
> rekan Bung Irwan dan sama-sama pekerja di BUMN.
>
> >Padahal kalo secara informal kan itu bukan berita baru juga. Pegimane sih
> >logikane sampeyan? Memang susah kalo ngomong sama orang pinter, ane
> >nyang nggak sampe-sampe.....gile bener....100% perfect cing....
>
> Saya tak menyatakan anda perlu data yang 100% akurat, tapi justru kalau ada
> argumen tentang sesuatu, tolong ada juga buktinya.
>
> Tapi sebelum saya lupa tujuan e-mail ini lagi, saya mau menuntaskan saja ini.
>
> Saya dengan setulus hati meminta maaf kepada M. FNU Brawijaya atas serangan-
> serangan saya secara verbal kepada dia. Banyak serangan yang saya tulis di
> e-mail
> kepada dia sebetulnya tidak cocok dan tidak sesuai kaidah yang berlaku, dari
> segi
> ejekan sampai pernyataan yang menantang. Walau sebagian ada dasarnya, tapi
> itu bukan alasan untuk melanggar etika yang ada di pergaulan sosial kita.
> Karena
> itu, saya sekali lagi meminta maaf dan meminta agar M. FNU Brawijaya sudi
> memaafkan saya dan menganggap pertengkaran antara kita berdua terselesaikan.
> Jika anda tak memaafkan saya, itu adalah hak anda, dan saya tak bisa berbuat
> apapun lagi. Kalau isi e-mail ini ternyata menyinggung anda, saya juga sekali
> lagi meminta maaf atas keteledoran ini.
>
> Anyway, saya secara pribadi menunggu balasan anda, karena sebelum anda
> menjawab permintaan maaf saya ini, saya tak bisa menyatakan pertengkaran
> ini selesai.
>
> I am waiting for your reply
>
> Yohanes Sulaiman
>
> Man make mistakes as long as they strive.
>                                                         God in "Faust" by Goethe

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke