Karena itulah saya menganggap keputusan KPU untuk menurunkan kembali kualitas
minimal SMA menjadi SMP adalah tidak tepat dalam rangka meningkatkan ekonomi
yang lesu dan sosial politik yang penuh krisis ini.
Orang-orang partai tentunya terbuka untuk semua lapisan, tetapi sudah sewajarnya
yang dikirim untuk mewakili rakyat adalah golongan yang mengerti betul apa yang
akan dikerjakan dan memiliki pengetahuan yang luas.
Indonesia tidak akan menjadi Indonesia Baru yang lebih baik jika setiap partai
hanya berusaha mencari kemenangan dan mengisi pembangunan seadanya. Setiap
partai dan anggota partai harus mau berkorban demi kepentingan rakyat dan
konsisten dengan perjuangan untuk membangun rakyat. Jika wakil rakyat dengan
kualifikasi minimal sarjana akan sulit untuk membangun negara, maka akan lebih
sulit lagi mencapai Indonesia Baru yang lebih baik jika wakil rakyat minimal
SMP.

Blucer

Rama Indrayana wrote:

> REALITAS YANG ADA, SBB:
>
> SATU :
> Ada CAPRES 'populer' yg hanya lulusan SMA.
> Sementara kita masih menggunakan sistem pemerintahan/kabinet presidensil
> (Possibilitiesnya ??, presiden dan pemerintahan/kabinet ORBA bisa jadi salah
> satu rujukan, saya tdk perlu menggunakan konsep Bung Blucer bhw "Image
> rakyat terhadap Presiden masih seperti melihat raja")

> DUA :
> KPU telah menetapkan bhw CALEG cukup lulusan SLTP.
> Lalu, (sbg contoh konkrit lho, dari parpol yg secara de facto katanya
> "paling populer" ) mengenai CALEG PDI-P yg pernah diposting:
>
>  Caleg DKI Jakarta PDIP
> >
> >  1. Roy B. Bejanis
> >  2. Drs. Kwik Kian Gie
> >  3. Sabam Sirait
> >  4. Aberson Marley Sihalolo
> >  5. H. Syaifulloh Yusuf
> >  6. H. Julius Usman SH
> >  7. Hobbes Sinaga
> >  8. KH. Ahmad Aries Munandar
> >  9. Drs. Robert Tambunan
> >  10. dr. Radjin Sihombing
> >> ------------------------------------>   sepuluh besar
>
> >  11. Sukarjo SH.
> >  12. Roseli Adriyana Jartini
> >  13. Andi Jani Sungkono
> >  14. Ir. Hendarso Hadiparmono
> >  15. Ir. Nanik Juliawati Santoso
> >  16. Juli Prasanti Sudarto
> >  17. Drs. Retor W. Kaligis
> >  18. Dr. Safrida
> >  19. Uzt. Satiri AB.
> >  20. Syarif Muda Harahap
> >  21. Andreas Sunarto
> >  22. Robert Pangaribuan
> >  23. Juliari Batu Bara
> >  24. Lumban Tobing Silitonga
> >  25. Dr. Pudiyanto
> >  26. Sugeng Pranoto
> >  27. Hamad Ginting
> >  28. Drs. Sukarji
> >  29. Mingkit
> >  30. H. Ramli Harahap
> >  31. Afendi Simbolon
> >  32. Suwanto Ongli
> >  33. Dra. Nurmarheini.
>
> Sekitar 60%nya bukan sarjana.
> DAN, sebagian besar dari mereka tidak pernah terdengar kiprahnya (saya ini
> penduduk DKI JKT lho, -------> anybody can share information about MOST OF
> THEM ???? Please do)
> Sementara, kita tahu bhw tugas pokok caleg adalah memilih Presiden dan
> membuat UU,dsb.
> (Menurut Bung Blucer: "Jika tokoh rakyat yang hanya tamat SMA kebawah
> memaksakan dirinya untuk menjadi wakil rakyat, maka akibat langsungnya juga
> akan kerakyat")
>
> Apa kira2 yang bisa kita simpulkan dari realitas di atas ??
> Apakah kita memang sedang menuju "INDONESIA BARU"??
>
> RI
>
> > ----------
> > From:         Blucer Rajagukguk[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:         Monday, May 31, 1999 4:04 AM
> > To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:      Re: 200 kursi di MPR/DPR
> >
> > Untuk kondisi sekarang: ya.
> > Image rakyat terhadap Presiden masih seperti melihat raja. Jadi Presiden
> > haruslah seorang yang bisa mewakili semua golongan dan dipercaya rakyat.
> > Namun
> > para akademisi, cendikia ataupun masyrakat bisnis mengerti betul bahwa
> > Presiden
> > haruslah didukung dengan sistem yang solid serta tim yang tangguh. Karena
> > itu
> > bukan hanya anggota legislatif, tetapi badan lain seperti DPA, Bepeka, MA
> > haruslah terdiri dari manusia-manusia yang tangguh yang mengerti benar apa
> > yang
> > dibidanginya. Kondisi yang terjadi sampai saat ini adalah background para
> > pejabat tsb masih tidak terarah. Dari sipilnya masih ada yang tamat SMP,
> > sedangkan dari ABRInya masih banyak yang menduduki bidang yang tidak
> > dikuasainya. Walhasil, tujuan negara untuk mensejahterakan masyarakat
> > tidak
> > tercapai. Presiden adalah image, sedangkan mesin yang bergerak dibelakang
> > Presiden, tim-tim yang selalu mengikuti kecepatan pembangunan dan
> > membackupnya
> > dengan peraturan, fraksi-fraksi yang cepat tanggap dalam mendengar suara
> > dan
> > keluhan rakyat dan mencari solusinya, haruslah ditempati oleh
> > manusia-manusia
> > yang qualified.
> > Ini semua hanya sekedar pendapat sederhana yang diambil dari realitas yang
> > ada.
> >
> > Rama Indrayana wrote:
> >
> > > Jadi, apakah bisa disimpulkan bahwa menurut anda Capres boleh saja
> > lulusan
> > > SMA, tapi Caleg harus sarjana....... Begitu??
> > >
> > > RI
> > >
>         ----------deleted---------------

Kirim email ke