Dibanyak negara maju, misal US, Korsel, Singapore para calon pemimpin digodok
diuniversitas yang berkualitas. Tidak perlu sampai doktor (ini buat dosen baru
cocoklah), tetapi minimal sarjana. Dipercaya oleh rakyat itu penting, karena
dengan kepercayaanlah seorang pemimpin bisa menjalankan tugasnya. Tetapi untuk
anggota DPR/MPR kalau pendidikan dibawah sarjana, maka ini akan merepotkan dewan
sendiri dalam memback-up pembangunan yang akan pesat dalam beberapa tahun
mendatang. Para tokoh yang dipercaya rakyat harus mau merelakan dirinya untuk
tidak menjadi wakil rakyat langsung, tetapi tetap konsisten menjadi kontrol
sosial dalam masyarakat. Jika tokoh rakyat yang hanya tamat SMA kebawah
memaksakan dirinya untuk menjadi wakil rakyat, maka akibat langsungnya juga akan
kerakyat. Walaupun demikian saya pribadi tetap mengusulkan, untuk kelompok
tertentu ini bisa saja menjadi wakil rakyat melalui 3% persentase wakil rakyat
yang diangkat langsung oleh Presiden terpilih.
Demi kepentingan bangsa, maka sebaiknya yang terbaiklah yang memimpin bangsa.
Jika ada segelintir S1, S2, S3 yang ngaco, tentunya ada lebih banyak dibawah S1
yang ngaco. Seorang Presiden bisa saja seorang yang kharismatik, tetapi anggota
MPR/DPR selaku wakil rakyat yang bertanggung jawab dalam membentuk
perundang-undangan dan harus mampu melihat Indonesia secara makro, secara umum
diperlukan pendidikan minimal sarjana.

Rama Indrayana wrote:

> Betul,
> saya pikir kita hrs konsistenlah. Kalau utk caleg kita syaratkan
> berpendidikan tinggi, tentunya capres juga gitu dong. (Emangnya......).
> Nah, berhubung ada segolongan orang yg punya capres bukan lulusan pendidikan
> tinggi, jangan nuntut terlalu tinggilah utk calegnya.
> Jangan2 krn alasan ini KPU merubah persyaratan caleg menjadi cukup lulusan
> SLTP saja ???
>
> RI
>
> > ----------
> > From:         bRidWaN[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:         Friday, May 28, 1999 1:07 AM
> > To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:      Re: 200 kursi di MPR/DPR
> >
> > Pendidikan tinggi tidak menjamin kepiawian seorang
> > Pemimpin yang membela kepentingan Rakyatnya.
> > Buktinya ada Prof Dr yang begitu..., dan tokoh2 S2
> > yang terkadang 'mbelit'...
> >
> > Yang penting untuk menjadi Pemimpin saat ini adalah
> > tokoh yang 'dipercaya' dan didukung oleh Rakyatnya.
> >
> > Salam,
> > bRidWaN
> >
> > At 04:09 PM 5/27/99 +0700, Lutfi M. wrote:
> > >Kalau menurut saya, secara logika, memang semakin tinggi pendidikan akan
> > >semakin luas juga wawasannya (kecuali untuk yg. otodidak spt. yg.
> > disebutkan
> > >bung Blucer).
> > >Lha, kalau jenjang pendidikan itu tidak esensial, mengapa ketika seleksi
> > >kerja di swasta menuntut pendidikan yg. cukup?
> > >Kalau wakil rakyatnya saja cuma lulusan SMA (atau malah SMP), bagaimana
> > bisa
> > >mereka memahami persoalan-persoalan poleksosbudhankam.  Nanti malah lebih
> > >parah dari ORBA.  Kerja mereka cuma menerawang, menghayal sambil
> > >terkantuk-kantuk atau tidur.
> > >Di pendidikan tinggi kan mahasiswa dibiasakan untuk berpikiran kritis
> > >terhadap suatu masalah dan skeptis terhadap suatu kemungkinan solusi.
> > >Sementara di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, pelajar masih
> > dicekoki
> > >dan didikte dg. segepok pelajaran.  Bagaimana nantinya mereka ketika
> > menjadi
> > >anggota legislatif?  Yah...bisa dibayangkan, hukum akan makin amburadul,
> > >ekonomi makin nggak jelas dsb.
> > >
> > >> ----------
> > >> From:         Blucer Rajagukguk[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > >> Sent:         Wednesday, May 26, 1999 4:28 AM
> > >> Subject:      Re: 200 kursi di MPR/DPR
> > >>
> > >> Untuk faktor pendidikan mungkin perlu diresearch. Jika dunia PNS dan
> > >> swasta
> > >> sudah memberikan porsi penting untuk pendidikan pada jabatan seseorang,
> > >> sebaiknya didunia legislatif hal ini sangat perlu dipertimbangkan.
> > hal-hal
> > >> yang
> > >> berkaitan dengan ekonomi, perbankan, UU dan berbagai macam produk
> > DPR/MPR
> > >> lainnya memerlukan pengetahuan yang cukup mendalam mengenai masalah
> > tsb.
> > >> Saya
> > >> tidak tahu pasti berapa banyak anggota DPR/MPR yang tidak mengerti UU
> > yang
> > >> mereka setujui ataupun yang hanya tidur-tidur dan ketawa-ketiwi karena
> > >> memang
> > >> tidak sanggup berpikir soal hal yang
> > >> dibicarakan. Tentu ada beberapa kekecualian untuk orang-orang tertentu
> > >> yang
> > >> secara otodidak mampu menguasai masalah secara jernih dibantu dengan
> > >> pengalaman
> > >> langsung dilapangan. Tetapi secara keseluruhan, tetap saya pribadi
> > >> berpendapat,
> > >> peningkatan kualitas DPR akan sejalan dengan jika pendidikan Caleg
> > minimum
> > >> sarjana.
> > >> Jika ada yang mau membuat research soal ini, saya kira akan berguna
> > buat
> > >> bangsa
> > >> kita. Misalnya, melalui pengetesan-pengetasan UU dihubungkan dengan
> > >> background
> > >> pendidikan suatu anggota fraksi.
> > >> Pemikiran sederhana ini tercetus dari banyaknya pihak yang meyakini
> > bahwa
> > >> semakin tinggi pendidikan seseorang, maka orang tersebut akan dibayar
> > >> lebih
> > >> mahal karena dianggap kemampuannya lebih tinggi.
> > >>
> > >> Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
> > >>
> > >> > Kalau dibilang tidak fair, juga tidak. Ini 'kan ada disebutkan dalam
> > UUD
> > >> 45.
> > >> > Untuk menghilangkan kesan "tidak fair" itu memang ada usulan agar
> > para
> > >> > anggota yang diangkat itu hanya mempunyai "hak bicara" tapi tidak
> > untuk
> > >> "hak
> > >> > suara" termasuk yang dari "partai serdadu".
> > >> >
> > >> > Kalau syarat pendidikan, menurut saya sih bukan suatu yang esensial.
> > >> >
> > >> > Efron
> > >> >
> > >> > -----Original Message-----
> > >> > From:   Blucer Rajagukguk [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > >>
> > >
> > >
> >

Kirim email ke