Hal lain yg perlu dipikirkan adalah sistem FRAKSI di DPR/MPR yad.

Kalau masih diberlakukan:
*       akan mereduksi kiprah/kemampuan individual anggota MPR/DPR karena yg
akan berperan adalah FRAKSI (baca: pimpinan2 fraksi).
*       ruwet, kalau tiap partai menjadi fraksi.

RI



> ----------
> From:         Blucer Rajagukguk[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Wednesday, June 02, 1999 6:12 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: 200 kursi di MPR/DPR
>
> Karena itulah saya menganggap keputusan KPU untuk menurunkan kembali
> kualitas
> minimal SMA menjadi SMP adalah tidak tepat dalam rangka meningkatkan
> ekonomi
> yang lesu dan sosial politik yang penuh krisis ini.
> Orang-orang partai tentunya terbuka untuk semua lapisan, tetapi sudah
> sewajarnya
> yang dikirim untuk mewakili rakyat adalah golongan yang mengerti betul apa
> yang
> akan dikerjakan dan memiliki pengetahuan yang luas.
> Indonesia tidak akan menjadi Indonesia Baru yang lebih baik jika setiap
> partai
> hanya berusaha mencari kemenangan dan mengisi pembangunan seadanya. Setiap
> partai dan anggota partai harus mau berkorban demi kepentingan rakyat dan
> konsisten dengan perjuangan untuk membangun rakyat. Jika wakil rakyat
> dengan
> kualifikasi minimal sarjana akan sulit untuk membangun negara, maka akan
> lebih
> sulit lagi mencapai Indonesia Baru yang lebih baik jika wakil rakyat
> minimal
> SMP.
>
> Blucer
>
> Rama Indrayana wrote:
>
> > REALITAS YANG ADA, SBB:
> >
> > SATU :
> > Ada CAPRES 'populer' yg hanya lulusan SMA.
> > Sementara kita masih menggunakan sistem pemerintahan/kabinet presidensil
> > (Possibilitiesnya ??, presiden dan pemerintahan/kabinet ORBA bisa jadi
> salah
> > satu rujukan, saya tdk perlu menggunakan konsep Bung Blucer bhw "Image
> > rakyat terhadap Presiden masih seperti melihat raja")
>
> > DUA :
> > KPU telah menetapkan bhw CALEG cukup lulusan SLTP.
> > Lalu, (sbg contoh konkrit lho, dari parpol yg secara de facto katanya
> > "paling populer" ) mengenai CALEG PDI-P yg pernah diposting:
> >
> >  Caleg DKI Jakarta PDIP
> > >
> > >  1. Roy B. Bejanis
> > >  2. Drs. Kwik Kian Gie
> > >  3. Sabam Sirait
> > >  4. Aberson Marley Sihalolo
> > >  5. H. Syaifulloh Yusuf
> > >  6. H. Julius Usman SH
> > >  7. Hobbes Sinaga
> > >  8. KH. Ahmad Aries Munandar
> > >  9. Drs. Robert Tambunan
> > >  10. dr. Radjin Sihombing
> > >> ------------------------------------>   sepuluh besar
> >
> > >  11. Sukarjo SH.
> > >  12. Roseli Adriyana Jartini
> > >  13. Andi Jani Sungkono
> > >  14. Ir. Hendarso Hadiparmono
> > >  15. Ir. Nanik Juliawati Santoso
> > >  16. Juli Prasanti Sudarto
> > >  17. Drs. Retor W. Kaligis
> > >  18. Dr. Safrida
> > >  19. Uzt. Satiri AB.
> > >  20. Syarif Muda Harahap
> > >  21. Andreas Sunarto
> > >  22. Robert Pangaribuan
> > >  23. Juliari Batu Bara
> > >  24. Lumban Tobing Silitonga
> > >  25. Dr. Pudiyanto
> > >  26. Sugeng Pranoto
> > >  27. Hamad Ginting
> > >  28. Drs. Sukarji
> > >  29. Mingkit
> > >  30. H. Ramli Harahap
> > >  31. Afendi Simbolon
> > >  32. Suwanto Ongli
> > >  33. Dra. Nurmarheini.
> >
> > Sekitar 60%nya bukan sarjana.
> > DAN, sebagian besar dari mereka tidak pernah terdengar kiprahnya (saya
> ini
> > penduduk DKI JKT lho, -------> anybody can share information about MOST
> OF
> > THEM ???? Please do)
> > Sementara, kita tahu bhw tugas pokok caleg adalah memilih Presiden dan
> > membuat UU,dsb.
> > (Menurut Bung Blucer: "Jika tokoh rakyat yang hanya tamat SMA kebawah
> > memaksakan dirinya untuk menjadi wakil rakyat, maka akibat langsungnya
> juga
> > akan kerakyat")
> >
> > Apa kira2 yang bisa kita simpulkan dari realitas di atas ??
> > Apakah kita memang sedang menuju "INDONESIA BARU"??
> >
> > RI
> >
> > > ----------
> > > From:         Blucer Rajagukguk[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > > Sent:         Monday, May 31, 1999 4:04 AM
> > > To:   [EMAIL PROTECTED]
> > > Subject:      Re: 200 kursi di MPR/DPR
> > >
> > > Untuk kondisi sekarang: ya.
> > > Image rakyat terhadap Presiden masih seperti melihat raja. Jadi
> Presiden
> >         ----------deleted---------------
>

Kirim email ke