In a message dated 10/9/99 7:09:16 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> hehehehehe....
> saya tetap dengan angka "stabil" dalam jangka panjang.
> angka 10,000 bila dihitung secara harfiah memang terkesan modar.
> tapi bila kita memang menetapkan 10,000 untuk angka stabil, awalnya
terlihat
> berat, tapi para pelaku bisnis akan dapat menghitung proyek2 yang akan
> dilaksanakan.
> minimal bila memang membutuhkan pinjaman luar negeri mereka akan dapat
> menghitung jumlah biaya yang akan dikeluarkan dan berapa lama break even
yang
> akan dicapai.
Irwan:
Kelemahan anda adalah selalu melihat dari sudut pelaku
bisnis yg pengusaha (menghitung proyek2).
Padahal pelaku bisnis atau ekonomi itu tidak hanya pengusaha2
yg kerjaannya ngitung2 proyek saja tapi juga masyarakat
atau konsumen dari barang2 produksi atau pun jasa.
Kita tidak bisa membangun ekonomi yg baik bila daya beli
masyarakat rendah. Perhatikan bagaimana kebijakan tim ekonomi
presiden Clinton untuk memacu ekonominya. Padahal salah satu
kebijakan ekonominya adalah mempertahankan atau menaikkan
pajak. Berbeda dengan pesainnya dari Republik yg justru
menawarkan program ekonomi dengan pemotongan pajak.
Mbok ya kalau menganalisa itu jangan dari satu sisi saja
tapi coba lihat secara lebih makro lagi.
> mudah2an text book saya ini dapat dimengerti oleh mas alex.
> terakhir, sejak sd saya nggak pernah melihat analisa yang tidak pakai text
> book.
> mungkin hanya analisa orang indonesia yang cuman pake asbun or even "orang
> pinter"
Irwan:
Teks book mana yg anda gunakan dalam menyampaikan
pemikiran di atas? Saya koq belum pernah baca tuh teks
book yg mengatakan bahwa pada level berapun nilai tukar
suatu mata uang tidak akan bermasalah selama nilai tukar
itu stabil.
Ditambah lagi, hati2 dengan teori2 ekonomi yg ada di buku.
Jangan terlalu cepat menerapkan apa yg ditulis dibuku ke
dunia nyata tanpa memperhatikan situasinya terlebih dahulu
khususnya hal2 yg berkaitan dengan ekonomi.
Masih ingat ketika IMF menyarankan penerapan suku bunga
tinggi dan kenaikan pajak untuk meredam laju inflasi yg ada
dan juga penurunan nilai tukar rupiah beberapa waktu yg lalu?
Buntut2 nya bukan inflasinya yg turun dan mata uangnya
menguat tapi malah sebaliknya.
Padahal kalau kita baca teori2 yg ada tertulis kalau suku bunga
dinaikan maka inflasi bisa diredam dan nilai tukar mata uangnya
bisa menguat. Kenapa koq yg terjadi malah sebaliknya?
Saat itu saya termasuk yg paling keras menentang kebijakan ini
bahkan memberikan analisa bila pemerintah mau inflasi turun
dan kurs rupiah menguat, maka caranya adalah dengan
menurunkan suku bunga yg sudah tinggi tersebut.
Ketika saya menyampaikan pemikiran ini, banyak yg protes
karena saya dianggap gila, karena apa yg saya sampaikan
bertentangan dengan teori. Tapi dasarnya saya memang
bukan tipe text book minded, akhirnya saya ajak mereka
yg protes untuk melihat akar masalahnya kenapa inflasi
tinggi dan kenapa kurs menurun. Intinya kenali dulu
permasalah yg ada baru cari solusinya. Jangan langsung
sebentar2 nerapin teori yg ada dibuku tanpa melihat
lagi permasalahan yg terjadi.
Saya tidak berniat menulis ulang apa yg dulu saya sampaikan.
Yang perlu saya ingatkan lagi, berhatilah menerapkan suatu
teori khususnya bila itu berkaitan dengan masalah sosial.
Suatu teori dibuat berdasarkan kejadian disatu atau beberapa
tempat dengan kondisi2 tertentu. Karenanya, bila suatu teori
berhasil di satu tempat bukan jaminan akan berhasil pula
ditempat lain yg bisa jadi punya karakter yg berbeda.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu