hehehe..
nggak nangkep juga khann..
mengenai text book.. gimana kalo anda cari sendiri diperpustakaan sekolah anda. ketik 
keywordnya "currency or exchange rate"
saya mau kasih bukunya banyak banget masssss...
tapi percaya deh.. saya dapetnya dari sekolahan disini kok..  :)

lalu kenapa saya melihat dari pelaku bisnis yah jelas saja. mereka kan memang 
kebanyakan berbisnis dengan mata uang dollar. dan memang sangat memerlukan exchange 
rate yang stabil.
demikian juga dengan investor luar negeri.

gituh mas...
kelemahan anda tau nggak apa..
nggak mau nerima pendapat orang laen..
hehehe.. pasti dicari aja kelemahannya..

:)

kapan2 deh kalo ada seminar kita datang dan berdebat langsung.. gimana ?


faran

--

On Tue, 12 Oct 1999 20:28:51   Irwan Ariston
>
>Irwan:
>Kelemahan anda adalah selalu melihat dari sudut pelaku
>bisnis yg pengusaha (menghitung proyek2).
>Padahal pelaku bisnis atau ekonomi itu tidak hanya pengusaha2
>yg kerjaannya ngitung2 proyek saja tapi juga masyarakat
>atau konsumen dari barang2 produksi atau pun jasa.
>Kita tidak bisa membangun ekonomi yg baik bila daya beli
>masyarakat rendah. Perhatikan bagaimana kebijakan tim ekonomi
>presiden Clinton untuk memacu ekonominya. Padahal salah satu
>kebijakan ekonominya adalah mempertahankan atau menaikkan
>pajak. Berbeda dengan pesainnya dari Republik yg justru
>menawarkan program ekonomi dengan pemotongan pajak.
>
>Mbok ya kalau menganalisa itu jangan dari satu sisi saja
>tapi coba lihat secara lebih makro lagi.
>
>
>>  mudah2an text book saya ini dapat dimengerti oleh mas alex.
>>  terakhir, sejak sd saya nggak pernah melihat analisa yang tidak pakai text
>> book.
>>  mungkin hanya analisa orang indonesia yang cuman pake asbun or even "orang
>> pinter"
>
>Irwan:
>Teks book mana yg anda gunakan dalam menyampaikan
>pemikiran di atas? Saya koq belum pernah baca tuh teks
>book yg mengatakan bahwa pada level berapun nilai tukar
>suatu mata uang tidak akan bermasalah selama nilai tukar
>itu stabil.
>
>Ditambah lagi, hati2 dengan teori2 ekonomi yg ada di buku.
>Jangan terlalu cepat menerapkan apa yg ditulis dibuku ke
>dunia nyata tanpa memperhatikan situasinya terlebih dahulu
>khususnya hal2 yg berkaitan dengan ekonomi.
>
>Masih ingat ketika IMF menyarankan penerapan suku bunga
>tinggi dan kenaikan pajak untuk meredam laju inflasi yg ada
>dan juga penurunan nilai tukar rupiah beberapa waktu yg lalu?
>Buntut2 nya bukan inflasinya yg turun dan mata uangnya
>menguat tapi malah sebaliknya.
>Padahal kalau kita baca teori2 yg ada tertulis kalau suku bunga
>dinaikan maka inflasi bisa diredam dan nilai tukar mata uangnya
>bisa menguat. Kenapa koq yg terjadi malah sebaliknya?
>Saat itu saya termasuk yg paling keras menentang kebijakan ini
>bahkan memberikan analisa bila pemerintah mau inflasi turun
>dan kurs rupiah menguat, maka caranya adalah dengan
>menurunkan suku bunga yg sudah tinggi tersebut.
>Ketika saya menyampaikan pemikiran ini, banyak yg protes
>karena saya dianggap gila, karena apa yg saya sampaikan
>bertentangan dengan teori. Tapi dasarnya saya memang
>bukan tipe text book minded, akhirnya saya ajak mereka
>yg protes untuk melihat akar masalahnya kenapa inflasi
>tinggi dan kenapa kurs menurun. Intinya kenali dulu
>permasalah yg ada baru cari solusinya. Jangan langsung
>sebentar2 nerapin teori yg ada dibuku tanpa melihat
>lagi permasalahan yg terjadi.
>
>Saya tidak berniat menulis ulang apa yg dulu saya sampaikan.
>Yang perlu saya ingatkan lagi, berhatilah menerapkan suatu
>teori khususnya bila itu berkaitan dengan masalah sosial.
>Suatu teori dibuat berdasarkan kejadian disatu atau beberapa
>tempat dengan kondisi2 tertentu. Karenanya, bila suatu teori
>berhasil di satu tempat bukan jaminan akan berhasil pula
>ditempat lain yg bisa jadi punya karakter yg berbeda.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>


DC Email!
free email for the community - http://www.DCemail.com

Kirim email ke