In a message dated 10/12/99 9:52:45 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> hehehe..
> nggak nangkep juga khann..
> mengenai text book.. gimana kalo anda cari sendiri diperpustakaan sekolah
> anda. ketik keywordnya "currency or exchange rate"
> saya mau kasih bukunya banyak banget masssss...
> tapi percaya deh.. saya dapetnya dari sekolahan disini kok.. :)
Irwan:
Ngga usah ngomong banyak, silahkan kasih satu buku saja
judul + pengarangnya dan sebutkan halaman berapa yg
memuat pernyataan bahwa suatu negara tidak akan bermasalah
nilai tukar mata uangnya pada kurs berapa saja selama nilainya
stabil. Coba pikirkan kenapa Jepang kurs Yen nya di Y105
saja sudah ribut2 dan minta bantuan sewaktu di G7 lalu
agar Yen nya jangan terlalu menguat. Coba pikirkan, apakah
menurut anda ekonomi Jepang tidak akan mendapat masalah
bila kurs Yen ada di Y10 per dolarnya. Kemudian, apakah ekonomi
Jepang tidak akan bermasalah bila kursnya sekarang ada di
Y300 per dolarnya.
Coba deh anda buka buku International Finance yg sampulnya
biru ada gambar bola dunia atau bendera2, gue lupa karena bukunya
ada di kardus dan males bongkar. Buka deh chapter2 awal.
Disana anda bisa baca bahwa ada titik equilibrium pada nilai tukar
suatu mata uang. Di chapter tersebut juga diberikan salah
satu cara untuk melihat suatu mata uang nilai tukarnya
undervalued atau pun overvalued dengan cara melihat
purchasing power parity nya. Standar ukurnya biasanya
digunakan Big Mac nya Mc Donald. Dulu, tahun 1997 atau
1998 saya lupa, KKG pernah membahas hal ini di Kompas.
Melihat nilai rupiah berdasarkan teori Big Mac.
Ukuran ini jelas sangat sederhana. Saya cenderung memakainya
hanya sebagai ancar2 saja karena nilai suatu mata uang itu
banyak faktor penentunya seperti tingkat inflasi, country risk, dll
Nah, rupiah sekarang itu merosot sangat jauh dibanding
Thailand dan Philipina ya karena country risk kita saat ini
tinggi dibanding dengan Thailand dan Philipina.
Mungkin hal ini sulit anda bayangkan.
Gini aja deh biar gampangnya. Mengingat anda belum kasih
referensi bacaan yg memuat tulisan bahwa ekonomi suatu negara
tuh ngga akan bermasalah nilai tukar mata uangnya ada di tingkat
mana saja selama stabil, saya kasih satu pertanyaan ke anda.
Menurut anda, pake logika aja jawabnya untuk sementara ini,
apakah ekonomi Indonesia tidak akan bermasalah bila kurs
rupiah stabil di 200 ribu per dolar nya? Saya sengaja kasih contoh
ekstrim biar sedikit kerasa bedanya.....:)
Trus juga, menurut anda apakah ekonomi Indonesia tidak akan
bermasalah bila kurs rupiah stabil di 100 (seratus) rupiah per dolarnya.
Untuk dua kondisi di atas, asumsi nilai mata uang Asia lainnya adalah
tetap seperti sekarang. Gaji pegawai dan upah buruh sama seperti
sekarang. Kondisi lingkungan ekonomi sama seperti sekarang dalam
artian ada ekspor dan impor barang dan jasa.
Silahkan anda bayangkan dua kondisi yg saya berikan.
Apakah benar ekonomi Indonesia menurut anda tidak akan
bermasalah?
Faran:
> lalu kenapa saya melihat dari pelaku bisnis yah jelas saja. mereka kan
> memang kebanyakan berbisnis dengan mata uang dollar. dan memang sangat
> memerlukan exchange rate yang stabil.
> demikian juga dengan investor luar negeri.
Irwan:
Ini dia anda kurang teliti melihat komponen2 barang dan
jasa yg ada disekitar kehidupan kita sehari2 yg sebenarnya
mengandung dolar. Anda naik taksi di Jakarta, bensin + busi +
mobilnya + oli (dll) semuanya mengandung unsur dolar.
Jangankan taksi, lah bajaj saja juga mengandung unsur dolar koq.
Masyarakat belanja ke Hero, belanjaan yg dia beli banyak
mengandung unsur dolarnya. Bisa mulai dari plastik belanjaan
sampai barang belanjaan. Ingat, pinjaman perusahaan dalam dolar
(cost of capitalnya) nantinya akan dibebankan ke konsumen
Sadar atau tidak sadar, sebenarnya banyak sekali barang2
dalam kehidupan sehari2 kita di Indonesia yg mengandung
unsur dolar. Makanya, kalau rupiah merosot sampai 200 ribu
(ambil contoh ekstrimnya) walaupun stabil di level tersebut
maka kondisi ekonomi Indonesia akan porak poranda.
Faran:
> gituh mas...
> kelemahan anda tau nggak apa..
> nggak mau nerima pendapat orang laen..
> hehehe.. pasti dicari aja kelemahannya..
Irwan:
Gimana kalau saya balik,
kelemahan anda tuh sering sukanya menjadi oposisi
saya dalam segala hal...hehehehe.
Faran:
> kapan2 deh kalo ada seminar kita datang dan berdebat langsung.. gimana ?
Irwan:
Ngga usah repot2 dan nunggu lama2, disini aja sekarang. Toh anda punya
kesempatan buka2 buku referensi...:)
Saya pribadi sih lebih senang buku referensi hanya digunakan
untuk membuka wawasan kita saja, khususnya bidang ekonomi.
Bidang lainnya saya ngga mau ikut campur karena ngga nguasai
medannya....hehehhe.
Selanjutnya, setelah baca2 teori yg ada lalu lihat kondisi lapangan.
Sekedar anda tahu saja, teori2 di ekonomi itu biasanya menggunakan
asumsi2. Makanya, kalau anda menggunakan satu teori ekonomi,
jangan lupa perhatikan asumsi2 yg digunakan.
Misalkan saja ada hukum ekonomi yg mengatakan bila
harga turun maka permintaan (demand) akan bertambah
dan penawaran akan berkurang. Atau, bila harga naik maka
permintaan (demand) akan turun dan penwaran (supply) akan
naik. Tampak benar bukan?....:)
Nah, kalau diperhatikan lebih seksama, hukum di atas itu
punya asumsi2 alias tidak berlaku pada kondisi/barang
jenis tertentu. Itulah makanya saya ingatkan pada posting2
yg lalu, hati2 kalau mau gunakan teori, perhatikan batasan2
atau asumsi2 yg digunakan. Perhatikan pengucualian2 yg ada.
Lha, koq jadi kayak kuliah ECO 101 sih....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu