hehehe..
sammmmmaaa ... saya juga udah pada di box..
males bongkarnya..
dilibrary apa lagi..
sampe 10 lantai....
faran
--
On Tue, 12 Oct 1999 23:29:14 Irwan Ariston Napitupulu wrote:
>In a message dated 10/12/99 9:52:45 PM Eastern Daylight Time,
>[EMAIL PROTECTED] writes:
>
>> hehehe..
>> nggak nangkep juga khann..
>> mengenai text book.. gimana kalo anda cari sendiri diperpustakaan sekolah
>> anda. ketik keywordnya "currency or exchange rate"
>> saya mau kasih bukunya banyak banget masssss...
>> tapi percaya deh.. saya dapetnya dari sekolahan disini kok.. :)
>
>Irwan:
>Ngga usah ngomong banyak, silahkan kasih satu buku saja
>judul + pengarangnya dan sebutkan halaman berapa yg
>memuat pernyataan bahwa suatu negara tidak akan bermasalah
>nilai tukar mata uangnya pada kurs berapa saja selama nilainya
>stabil. Coba pikirkan kenapa Jepang kurs Yen nya di Y105
>saja sudah ribut2 dan minta bantuan sewaktu di G7 lalu
>agar Yen nya jangan terlalu menguat. Coba pikirkan, apakah
>menurut anda ekonomi Jepang tidak akan mendapat masalah
>bila kurs Yen ada di Y10 per dolarnya. Kemudian, apakah ekonomi
>Jepang tidak akan bermasalah bila kursnya sekarang ada di
>Y300 per dolarnya.
>
>Coba deh anda buka buku International Finance yg sampulnya
>biru ada gambar bola dunia atau bendera2, gue lupa karena bukunya
>ada di kardus dan males bongkar. Buka deh chapter2 awal.
>Disana anda bisa baca bahwa ada titik equilibrium pada nilai tukar
>suatu mata uang. Di chapter tersebut juga diberikan salah
>satu cara untuk melihat suatu mata uang nilai tukarnya
>undervalued atau pun overvalued dengan cara melihat
>purchasing power parity nya. Standar ukurnya biasanya
>digunakan Big Mac nya Mc Donald. Dulu, tahun 1997 atau
>1998 saya lupa, KKG pernah membahas hal ini di Kompas.
>Melihat nilai rupiah berdasarkan teori Big Mac.
>Ukuran ini jelas sangat sederhana. Saya cenderung memakainya
>hanya sebagai ancar2 saja karena nilai suatu mata uang itu
>banyak faktor penentunya seperti tingkat inflasi, country risk, dll
>Nah, rupiah sekarang itu merosot sangat jauh dibanding
>Thailand dan Philipina ya karena country risk kita saat ini
>tinggi dibanding dengan Thailand dan Philipina.
>
>Mungkin hal ini sulit anda bayangkan.
>Gini aja deh biar gampangnya. Mengingat anda belum kasih
>referensi bacaan yg memuat tulisan bahwa ekonomi suatu negara
>tuh ngga akan bermasalah nilai tukar mata uangnya ada di tingkat
>mana saja selama stabil, saya kasih satu pertanyaan ke anda.
>Menurut anda, pake logika aja jawabnya untuk sementara ini,
>apakah ekonomi Indonesia tidak akan bermasalah bila kurs
>rupiah stabil di 200 ribu per dolar nya? Saya sengaja kasih contoh
>ekstrim biar sedikit kerasa bedanya.....:)
>Trus juga, menurut anda apakah ekonomi Indonesia tidak akan
>bermasalah bila kurs rupiah stabil di 100 (seratus) rupiah per dolarnya.
>Untuk dua kondisi di atas, asumsi nilai mata uang Asia lainnya adalah
>tetap seperti sekarang. Gaji pegawai dan upah buruh sama seperti
>sekarang. Kondisi lingkungan ekonomi sama seperti sekarang dalam
>artian ada ekspor dan impor barang dan jasa.
>
>Silahkan anda bayangkan dua kondisi yg saya berikan.
>Apakah benar ekonomi Indonesia menurut anda tidak akan
>bermasalah?
>
>Faran:
>> lalu kenapa saya melihat dari pelaku bisnis yah jelas saja. mereka kan
>> memang kebanyakan berbisnis dengan mata uang dollar. dan memang sangat
>> memerlukan exchange rate yang stabil.
>> demikian juga dengan investor luar negeri.
>
>Irwan:
>Ini dia anda kurang teliti melihat komponen2 barang dan
>jasa yg ada disekitar kehidupan kita sehari2 yg sebenarnya
>mengandung dolar. Anda naik taksi di Jakarta, bensin + busi +
>mobilnya + oli (dll) semuanya mengandung unsur dolar.
>Jangankan taksi, lah bajaj saja juga mengandung unsur dolar koq.
>Masyarakat belanja ke Hero, belanjaan yg dia beli banyak
>mengandung unsur dolarnya. Bisa mulai dari plastik belanjaan
>sampai barang belanjaan. Ingat, pinjaman perusahaan dalam dolar
>(cost of capitalnya) nantinya akan dibebankan ke konsumen
>
>Sadar atau tidak sadar, sebenarnya banyak sekali barang2
>dalam kehidupan sehari2 kita di Indonesia yg mengandung
>unsur dolar. Makanya, kalau rupiah merosot sampai 200 ribu
>(ambil contoh ekstrimnya) walaupun stabil di level tersebut
>maka kondisi ekonomi Indonesia akan porak poranda.
>
>Faran:
>> gituh mas...
>> kelemahan anda tau nggak apa..
>> nggak mau nerima pendapat orang laen..
>> hehehe.. pasti dicari aja kelemahannya..
>
>Irwan:
>Gimana kalau saya balik,
>kelemahan anda tuh sering sukanya menjadi oposisi
>saya dalam segala hal...hehehehe.
>
>Faran:
>> kapan2 deh kalo ada seminar kita datang dan berdebat langsung.. gimana ?
>
>Irwan:
>Ngga usah repot2 dan nunggu lama2, disini aja sekarang. Toh anda punya
>kesempatan buka2 buku referensi...:)
>Saya pribadi sih lebih senang buku referensi hanya digunakan
>untuk membuka wawasan kita saja, khususnya bidang ekonomi.
>Bidang lainnya saya ngga mau ikut campur karena ngga nguasai
>medannya....hehehhe.
>Selanjutnya, setelah baca2 teori yg ada lalu lihat kondisi lapangan.
>Sekedar anda tahu saja, teori2 di ekonomi itu biasanya menggunakan
>asumsi2. Makanya, kalau anda menggunakan satu teori ekonomi,
>jangan lupa perhatikan asumsi2 yg digunakan.
>
>Misalkan saja ada hukum ekonomi yg mengatakan bila
>harga turun maka permintaan (demand) akan bertambah
>dan penawaran akan berkurang. Atau, bila harga naik maka
>permintaan (demand) akan turun dan penwaran (supply) akan
>naik. Tampak benar bukan?....:)
>Nah, kalau diperhatikan lebih seksama, hukum di atas itu
>punya asumsi2 alias tidak berlaku pada kondisi/barang
>jenis tertentu. Itulah makanya saya ingatkan pada posting2
>yg lalu, hati2 kalau mau gunakan teori, perhatikan batasan2
>atau asumsi2 yg digunakan. Perhatikan pengucualian2 yg ada.
>
>Lha, koq jadi kayak kuliah ECO 101 sih....:)
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>
DC Email!
free email for the community - http://www.DCemail.com