--------------------------------------------------------------- 
Surat Terbuka Untuk Para Calon Presiden 
Katakan 'Tidak' Pada Teror, Sekarang Juga! 
--------------------------------------------------------------- 
 
Surat ini ditulis oleh seorang warga negara dalam keadaan gelisah, 
gundah, kesal, namun tidak kehilangan arah. Beberapa jam yang lalu 
bom meledak di depan pagar Kedutaan Besar Australia, Jl. Rasuna 
Said, dan Menteri Polkam Ad Interim Hari Sabarno memberi pernyataan 
lewat media elektronik bahwa masyarakat harus waspada dan secepatnya 
melaporkan kepada pihak yang berwajib bila menyaksikan atau 
mendengar dan menerima sesuatu yang mencurigakan - Terima kasih Pak 
Hari, semoga Gusti memberkati kau senantiasa dan melindungi mereka-
mereka yang memiliki kesadaran yang sama seperti dirimu.
 
Tindakan-tindakan teroris yang sudah sering terjadi di negeri kita 
menuntut kita supaya melakukan perenungan yang lebih dalam. Mereka 
yang kita tangkap dan jadikan terdakwa, barangkali sekedar 
eksekutor. Mereka hanyalah "alat hidup" yang digunakan secara keji 
untuk mencapai suatu tujuan. Siapa yang menciptakan "mesin-mesin 
perusak ini", dan apa motif mereka? 
 
 1.  Amrozi, Ali Imron, Imam Samudera dan lain-lain bukanlah 
kelahiran kemarin dulu, kemudian langsung menerima pelajaran untuk 
membuat bom dan kemarin meledakannya. Orang-orang ini diciptakan 
sejak puluhan tahun yang lalu. Dan yang menciptakan mereka adalah 
individu-individu yang masih berkeliaran bebas. Namun individu-
individu ini tidak bekerja sendiri. Mereka menggunakan suatu sistem 
untuk menciptakan zombie-zombie seperti Amrozi dan kawan-kawan.
 
 2.  Sistem yang mereka gunakan adalah pendidikan yang diberikan 
sejak usia kecil. Orang-orang seperti Amrozi sejak kecil diajar 
untuk membenci. Sayangnya pendidikan seperti itu, sistem seperti itu 
masih berlangsung hingga saat ini. Sementara satu Amrozi belum dapat 
kita selesaikan, ribuan Amrozi sedang dicetak di seluruh pelosok 
Nusantara. Hanya beberapa hari yang lalu, seorang wartawan di Bali 
menuturkan pengalamannya yang sangat mengejutkan - bagi dia dan 
tentu bagi saya. Wartawan perempuan ini sudah tinggal di Bali sejak 
lama bersama suaminya - dua-duanya beragama Islam dan keduanya tidak 
bermasalah sama sekali dengan tetangga atau lingkungan. Kemudian 
lahirlah anak mereka yang sekarang duduk di TK. Pada suatu hari anak 
ini baru pulang dari sekolah dan memberi tahu ibunya bahwa dia tidak 
boleh bermain dengan anak-anak di sekitarnya, karena "mereka adalah 
pemakan babi dan kafir".
 
 3.  Pendidikan seperti ini diberikan tidak hanya oleh para ustad 
dari satu agama tertentu, tetapi barangkali juga oleh guru-guru 
agama yang lainnya. 
 
 4.  Untuk membenarkan sistem pendidikan seperti ini, ada fatwa-
fatwa yang sering digunakan sebagai dalih. Misalnya salah satu fatwa 
dari MUI yang melarang umat Islam untuk mengucapkan "Selamat Natal" 
kepada umat nasrani. Ada pula fatwa yang melarang umat Islam untuk 
menjawab salam yang diucapkan oleh orang yang beragama lain, bila 
salam itu dalam bahasa arab "Assalamu alaikum". Fatwa tersebut entah 
apa maksudnya, entah siapa yang menciptakannya, dan bila orangnya 
sudah meninggal semoga arwahnya diampuni oleh Sang Gusti, karena ia 
dalam ketidaksadarannya telah menamam benih kebencian dalam jiwa 
manusia Indonesia yang polos, lugu, dan sopan. Pemerintah harus 
secara tegas meminta kepada MUI dan majelis-majelis agama lainnya 
yang mungkin juga memiliki fatwa-fatwa serupa untuk membatalkan 
fatwa-fatwa itu yang jelas tidak selaras dengan jiwa dan budaya 
Indonesia.
 
 5.  Salah satu contoh terdekat yang melintas di benak saya adalah 
kasus Irene Handono yang mengaku pernah menjadi biarawati dan 
sekarang menjelek-jelekkan agama yang pernah dipeluk sebelumnya dan 
menyebarluaskan kebencian di antara umat Islam terhadap umat-umat 
beragama lain, khususnya Nasrani. 
 
 6.  Menurut pengamatan saya para ekstremis seperti Amrozi sering 
kali digunakan, dengan menggunakan dalih agama, untuk tujuan-tujuan 
yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan agama. Sebab itu orang-
orang yang sangat ambisius, ingin mendapatkan kekuasaan dengan cara 
apapun - yang barangkali juga ada di sekitar saudara-saudara calon 
presiden dan calon wakil presiden yang saya cintai - mereka harus 
segera diperiksa. 
 
 7.  Kenapa seorang pejabat tinggi merasa berkepentingan untuk 
mendatangi seorang terdakwa dalam kasus terorisme di rumah 
tahanannya? Apakah ia bersikap serupa terhadap semua terdakwa dalam 
kasus apapun? 

 8.  Dengan segala hormat, saya juga mengharapkan bahwa saudara-
saudara Capres dan Cawapres agar sunguh berhati-hati dalam 
memperoleh dukungan dari partai-partai politik lain. Misalnya, 
partai-partai yang masih memperjuangkan syariat agama sebagai dasar 
hukum - jelas menantang konsensus nasional yang sudah dicapai saat 
kita memproklamasikan negara kita. Para penantang konsensus itu 
harus dibuat sadar bahwa cerita yang mereka ungkit kembali saat ini 
sudah selesai di saat kita menerima Pancasila sebagai dasar untuk 
mempersatukan negara dan bangsa. Lebih dari itu, dari pengalaman 
saya pribadi, seorang anggota dari salah satu partai politik yang 
sekarang mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres pernah 
menyatakan secara implisit bahwa orang yang berseberangan pendapat 
dengan dirinya harus dihukum  mati. Pernyataan itu dilaporkan oleh 
media cetak yang mencantumkan nama salah seorang menteri sebagai 
pembinanya. Apabila kita masih ingin memperoleh dukungan dari partai 
tersebut, hendaknya kita dapat menjelaskan terlebih dahulu pandangan 
kebangsaan kita - di mana perbedaan itu tidak selalu diselesaikan 
dengan mengeluarkan fatwa maut.
 
 9.  Ketika Bali dibom, saya pernah menyampaikan seruan kepada warga 
Bali lewat media elektronik dan cetak bahwa Amrozi dan kawan-kawan 
adalah korban dari salah satu sistem yang keliru, suatu pandangan 
yang sesat, mereka harus disadarkan, harus dimaafkan. Sekarang saya 
mengubah pernyataan itu: "Siapa pun yang menjadi presiden dan 
menjadi wakil presiden harus memiliki political will yang kuat untuk 
segera dalam 24 jam sejak ia disumpah menjadi presiden untuk 
mengeluarkan undang-undang ataupun landasan hukum lain yang dapat 
menjatuhkan hukuman mati terhadap para terdakwa yang sudah terbukti 
bersalah. Shock therapy ini dibutuhkan sehingga "Amrozi-Amrozi lain" 
yang masih berkeliaran di luar mendapatkan pesan yang jelas bahwa 
kita serius melawan terorisme.
 
Fanatisme terjadi dalam semua agama. 
 
Teriakan-teriakan di TV oleh para ulama Kristen yang merasa 
Kebenaran hanya ada dalam agama mereka, harus juga dihentikan. 
Masyarakat Hindu di Bali sudah mulai memikirkan barikade untuk 
melawan terorisme. Barikade seperti ini, ada baiknya - tetapi ada 
jeleknya juga. Sebab, kita bisa terpecah-belah. Negara Kesatuan 
Republik Indonesia bisa menjadi catatan sejarah saja. Saudara-
saudaraku yang kucintai apakah ini yang kita inginkan?
 
Siapa pun yang terpilih menjadi presiden saya mengharapkan kerja 
sama yang baik antara Soesilo Bambang Yudhoyono dan Megawati 
Soekarnoputri. Dua-duanya adalah aset nasional. Wiranto, Abdurachman 
Wahid, Nurcholis Madjid (semoga segera sembuh), Emha Ainun Nadjib, 
dan mereka-mereka yang memiliki wawasan kebangsaan harus duduk dan 
bekerja bersama. Bangsa ini tidak boleh dipimpin oleh orang-orang 
yang selain agama, ingin mengimpor budaya asing, entah budaya itu 
berasal dari Timur Tengah, India, Cina, Barat atau mana saja.

 
Para pemimpin dan siapapun yang masih sadar, marilah kita sama-sama 
mengutuk dan mengatakan "tidak, tidak, tidak" terhadap terorisme dan 
upaya-upaya picik dari orang-orang atau kelompok manapun, yang 
mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran. Terorisme akan mencapai 
tujuannya, bila kita hanya berdiam diri dan membiarkan rasa takut 
menggerogoti jiwa bangsa ini. Ingatlah bahwa terorisme berakar dari 
pikiran. Dengan secara lantang mengutuk tindakan itu, kita  akan 
menutup ruang gerak "pikiran tentang teror" untuk tumbuh dan 
berkembang. Bicaralah sekarang, sebelum ia menjadi pohon raksasa 
yang kelak akan sangat sulit kau tebang. 
 
Dengan menulis surat ini dan menjadikannya surat terbuka, saya 
menyadari telah mengambil resiko menjadi sasaran para teroris, 
pendukung, serta allies mereka. Resiko ini saya ambil dengan penuh 
kesadaran - biarlah setiap tetes darahku tertumpahkan bagi Ibu 
Pertiwi. Aku takkan mati, tak bisa mati. Air tidak dapat 
melarutkanku, api tidak dapat membakarku, pedang tidak dapat 
menyayatku - aku akan menjelma kembali untuk mempersembahkan nyawa 
dan ragaku di atas altar Ibu Pertiwi. Aku takkan berhenti berkarya 
sampai tujuanku tercapai - Indonesia Satu.
 
Ibu Megawati yang sangat kuhormati. Atas nama Bapak kita, Bung Karno 
yang bagiku tidak kurang dari seorang nabi - hindari pengaruh yang 
justru menjatuhkan citramu - walau pengaruh itu datang dari orang 
yang paling dekat denganmu.
 
Saudaraku Soesilo Bambang Yudhoyono - komitmenmu terhadap kebangsaan 
harus kau pegang erat. Siapapun yang mendukungmu bila tidak memiliki 
komitmen yang sama tidak boleh duduk bersamamu. Jagalah terus hal 
ini.
 
Sembah sujudku pada Ibu Pertiwi - Bende Mataram!
 
Salam Indonesia , 
Anand Krishna
 
CC: 
-         Hasyim Muzadi
-         Jusuf Kalla
-         Abdurrahman Wahid 
-         Wiranto 
-         Emha Ainun Nadjib 
-         Nurcholis Madjid 
-         Da'i Bachtiar (Kapolri) 
-         Endriartono Sutarto (Panglima TNI) 
-         I Made Mangku Pastika (Kapolda Bali) 
-         Komaruddin Hidayat (Ketua Panwaslu Pusat) 
-         Prof. Dr. Nasaruddin Umar (UIN)
-         Media Massa

Surat Terbuka juga bisa dibaca dari link dibawah ini:
http://www.anandkrishna.org/english/archives.php?
isi=archive/2004/09_sur
atterbuka.lbi 







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke