Saya mulai tergelitik juga nih, barangkali juga lantaran RI1nya baru? Yang jelas, RizalRamli kek siapapun kek, lha wong teman dekat saja ya lupa tuh. Saya pikir jangan lagi berwacana 'mintabantu' pemerintahlah. Mulai saja, betapapun kecil. Ada teman dokter mulai peternakan,bersama rakyat, gagal. Tapi tak jera, itu guru pengalaman. Di network kimia saya, semula hanya berbakti pada perush besar dan negeri/pem, kini masing2 inovasikan karya penelitiannya tertaut agro dan mineral. Wooo, ternyata tak cukup waktu buat handle. Terlalu banyak, artinya optimis. Persoalan, implementasi hasilkarya di lapangan. Nah ini dia, kalau orang 'kimiatis' saja pasti takmungkiin. Ayo, mau apa sesuai daerah anda, kita garap bareng. Hahaha, yang berani dan konkret-rinci, silakan japri. Network kami juga punya 'stok judul' garapan loh. Oya, tg 23-25 kami pameran inovasi di kampus ganesha bandung. Tanpa embel2 rezim manapun hehehe. Di sela-sela waktu kerja, tak mustahil kita kerjakan sesuatu yang lain yang sungguh berakar. Istilah karuhun/moyang : "ngunduri tuwa" alias persiapan pension. Bosan omong makro nggedabrus melulu, yang mikro tuh menanti tangan- otak-hatimu. Tak musim lagi 'eker-ekeran' rebutan tulang gariiiing! Salam, selamat bekerja (jangan 'njongos' doank)
--- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bung Redd, > Sebenarnya mengajukan proposal ekonomi itu porsinya para ekonom seperti Bung Soni dan bung Rizal Ramli. Soalnya kalau Nizami ini siapa sih...? SBY mau pun inner circle-nya tidak pada kenal...:) > > Tapi kalau memang mau rame2, boleh juga ikutan. > Pembukaan lahan perkebunan/peternakan untuk memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia harus dilakukan, karena selain menghemat devisa juga bisa membuka lapangan pekerjaan. > Pembuatan kapal nelayan akan membuka lapangan kerja bagi pekerja kapal, mau pun para nelayan. > Pembangunan 2 juta rumah murah untuk rakyat untuk membuka lapangan kerja dan tempat tinggal yang layak bagi rakyat. > > Negara bisa bekerjasama dgn swasta dapat menjadi induk yang memasarkan hasil produk para petani dan nelayan kita. > > Wassalam > > > redd13550 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bung Nizami yg baik, > > Potensi ekonomi yg dimiliki indonesia memang tidak pernah > terbantahkan sejak dahulu kala. Namun persoalan ekonomi tentunya > tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik. YG menjadi persoalan > skg adl apakah masyarakat indonesia akan membiarkan kekayaan alamnya > itu dimiliki org lain atau diabdikan utk kepentingan masyarakat > indonesia sendiri. Dan utk itu aku pikir sudah saatnya kita yg > mengajukan visi dan misi ini ke presiden baru. Bukan sebaliknya. > > > Salam > > --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Jumlah penduduk Indonesia ada 220 juta jiwa. Ini adalah pasar ke 4 > terbesar di dunia. > > Seandainya setiap penduduk menghabiskan Rp 100 ribu per tahun untuk: > > 1. Beras > > 2. Gula > > 3. Kedelai > > 4. Ayam > > 5. Sapi > > > > Maka ada pasar senilai Rp 20 trilyun lebih untuk tiap produk > tersebut. Bagaimana caranya agar Indonesia bisa memenuhi kebutuhan > dalam negerinya sendiri secara mandiri? > > > > Pupuk bahannya tidak perlu dari luar, cukup pakai kotoran > kerbo/sapi yang dulu biasa disebut pupuk kandang. > > > > Mudah2an presiden Indonesia yang baru, SBY, punya visi dan misi > yang jelas untuk itu. > > > > Salam > > Agus Nizami > > > > > > rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bagaimana nihh pakar2 kita dibidan agrikultiral? mBah soel dan > adik2 > > yang belajar dibidang ini? benarkah? > > > > Salam > > > > RM D Hadinoto > > > > > > Negara Agraris Tanpa Komoditas Andalan? > > > > Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan kesuksesan surplus beras > > para petani menjerit. Persoalan klasik kembali terulang. Panen raya > > tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, bencana! > > > > > > TUGAS yang diemban Pemerintah Megawati Soekarnoputri di sektor > > pertanian, pada awalnya, memang tidak gampang. Sektor ini diterpa > dua > > gejolak eksternal beruntun. Anomali iklim El Nino pada 1997-1998 > dan > > berulang 2001 serta krisis ekonomi (1997-1999) membuat kinerja > sektor > > pertanian terpuruk. > > > > Namun, belakangan, "panen" di sektor ini bisa dituai. Setidaknya > > pencapaian produksi tanaman pangan - dalam hal ini beras - yang > cukup > > signifikan. Pada 2004 Indonesia surplus beras. > > > > Produksi nasional pada 2004 sebanyak 53,7 juta ton gabah kering > > giling (GKG), meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 51,13 juta > > ton GKG. Jika dikonversi menjadi beras maka jumlahnya menjadi > sekitar > > 33 juta - 34 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan konsumsi beras > > nasional sebanyak 30 juta-31 juta ton. > > > > Menurut Dirjen Bina Produksi dan Tanaman Pangan, Deptan, Mohammad > > Jafar Hafsah, peningkatan produksi beras tak lepas dari > keberhasilan > > Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksimantap) > yang > > dicanangkan Deptan sejak 1 Oktober 2002. > > > > Selanjutnya, pejabat Deptan dan Perum Bulog dalam berbagai > kesempatan > > menyatakan, Indonesia tengah menjajaki ekspor beras. Kondisi ini > > sepertinya mengulang sukses swasembada beras pada 1984, di era > > Pemerintahan Soeharto. Indonesia yang selama ini menjadi pengimpor > > beras akan segera beralih menjadi pengekspor beras. Sebuah prestasi > > yang membanggakan. > > > > Yang menjadi pertanyaan, apakah hal ini juga merupakan kebanggaan > > petani? Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan kesuksesan > surplus > > beras, para petani menjerit. Persoalan klasik kembali terulang. > Panen > > raya tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, bencana! Harga > gabah > > mereka anjlok sedemikian rupa sehingga tak lagi sebanding dengan > > biaya produksi. Petani tekor. > > > > Hal yang sama terjadi pada komoditas pertanian lainnya, selain > beras. > > Komoditas perkebunan pun mengalami hal serupa sehingga seolah- olah > > negara agraris ini tak punya andalan komoditas pertanian. > > > > Jelas sudah bahwa keberhasilan atau perkembangan sektor pertanian > tak > > bisa dilihat dari ukuran angka produksi semata. Lebih penting dari > > itu adalah apa yang telah dinikmati petani. Hasil pertanian harus > > dipasarkan. Itu berarti menyangkut tata niaga yang rumit termasuk > > kebijakan impor komoditas serupa, bea masuk, dan seterusnya. > > > > > > > > "Subsidi pupuk dan tetek bengek subsidi lainnya serta kebijakan > impor > > jalur merah dan sebagainya tak akan ada artinya bila pemerintah > tutup > > mata terhadap penyelundupan. Ini salah satu contoh bahwa masing- > > masing institusi di pemerintahan perlu koordinasi," kata kata Ketua > > Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Ir Winarno Tohir, kepada > > Pembaruan. > > > > Bila masing-masing departemen hanya mementingkan targetnya sendiri > > maka yang menjadi korban adalah petani. > > > > Winarno tidak sependapat bila Indonesia yang notabene negara > agraris > > disebut tidak punya produk andalan pertanian. "Kita punya banyak > > produk andalan terutama dalam subsektor perkebunan, namun karena > > tidak di-back up pemerintah secara tepat, jadinya seolah-olah kita > > tak punya produk andalan," katanya. > > > > > > Perkebunan > > > > Perkebunan merupakan potensi yang besar dalam meningkatkan > pendapatan > > negara dan kesejahteraan rakyat. Potensi itu dapat dilihat dari > > beragamnya komoditas yang dihasilkan perkebunan besar maupun > > perkebunan rakyat, mulai dari tebu, kelapa, kelapa sawit, karet > alam, > > kakao, teh, tembakau, kopi, dan lada. Sayang, peningkatan nilai > > tambah dari keunggulan komparatif yang seharusnya dapat diolah dari > > sektor perkebunan belum dapat dioptimalkan. > > > > Perkebunan di Indonesia ternyata masih berkutat pada peningkatan > > produksi primer dan ekspansi areal tanpa diimbangi dengan > peningkatan > > nilai tambah dan pemasaran yang kuat. Indonesia pun hanya berperan > > sebagai penyedia bahan baku bagi negara-negara maju. Ironisnya > lagi, > > ekspansi perkebunan dengan redistribusi lahan melalui Perkebunan > Inti > > Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) ternyata belum membuahkan hasil > yang > > baik. Kredit yang dikucurkan untuk pengelolaan perkebunan inti dan > > petani plasma dalam pola PIR-Trans ternyata hanya menelantarkan > > ribuan petani dan kredit macet dari ratusan perusahaan perkebunan. > > > > Sampai saat ini, disinyalir sejumlah perkebunan swasta yang > > bermasalah dan ditangani oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional > > (BPPN) justru kembali lagi kepada pemilik lama yang dijual dengan > > harga murah. > > > > Sekalipun data Deptan menyebutkan ada pertumbuhan sektor > perkebunan, > > itu harus dilihat sebatas pada produktivitas, bukan pada > peningkatan > > nilai tambah atau pengolahan. Dengan demikian, peningkatan produksi > > selama periode lima tahun terakhir tidak terlalu memberikan > > kontribusi peningkatan nilai yang berarti karena masih mengandalkan > > produk primer dan dipengaruhi oleh harga internasional. > > > > Kondisi ini seharusnya diikuti dengan perubahan kebijakan > pemerintah > > untuk mendorong lebih banyak peningkatan nilai tambah dan industri > > pengolahan komoditas perkebunan di dalam negeri. > > > > Ke depan, pembangunan pertanian sudah waktunya tidak lagi terfokus > > pada usaha bercocok tanam saja (on-farm), tetapi juga diimbangi > > dengan pengembangan usaha hulu pertanian. Hal ini sudah mulai > > dirintis. > > > > Usaha sub sektor on-farm adalah mengubah cara bertani dari usaha > > bercocok tanam komoditas tunggal menjadi usaha dengan komoditas > yang > > beragam dan bernilai ekonomis tinggi. > > > > Sedangkan usaha hulu antara lain dengan mengembangkan usaha > > perbenihan. Logikanya, dengan perkembangan pertanian tentu saja > > kebutuhan benih dengan kualitas terjamin terus meningkat. > > > > Sebagai contoh, menurut Menteri Pertanian Bungaran Saragih, impor > > benih hortikultura masih cukup besar yakni rata-rata mencapai 2.600 > > ton per tahun. > > > > On-farm juga diimbangi dengan usaha hilir pertanian (downstream > > agribusiness) dan kegiatan penunjang (supporting system of > > agribusiness). > > > > > > PEMBARUAN/HERI S SOBA > > > > dan DWI ARGO SANTOSA > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > www.ppiindia.shyper.com > > > ********************************************************************** > ***** > > > ______________________________________________________________________ > ____ > > Mohon Perhatian: > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > > > > --------------------------------- > > Yahoo! Groups Links > > > > To visit your group on the web, go to: > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > > > To unsubscribe from this group, send an email to: > > [EMAIL PROTECTED] > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service. > > > > > > > > Bacalah artikel tentang Islam di: > > http://www.geocities.com/nizaminz > > > > --------------------------------- > > Do you Yahoo!? > > New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > ********************************************************************** ***** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > ********************************************************************** ***** > ______________________________________________________________________ ____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > Bacalah artikel tentang Islam di: > http://www.geocities.com/nizaminz > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

