Saya hanya sekedar mengingatkan bahwa:
Indonesia itu bukan pulau Jawa.
Di Jawa petani memang tidak dimungkinkan memiliki lahan 
yang luas, mengingat jumlah penduduknya yang melimpah. 
Jadi pulau Jawa cocok untuk industri atau jasa.

Pulau yang lain, dimana tanah cukup luas, kita bisa 
bergerak dalam bidang pertanian/peternakan, tetapi yang 
harus diperhatikan adalah kepastian hukum.

Saya sempat jalan-jalan ke daerah transmigrasi.
Pada saat mereka menannam padi dan berhasil, tidak ada 
masalah, tetapi pada saat berkebun tanaman industri, kopi 
dll, masalah mulai muncul. Masyarakat asli melihat kok 
enak bener, tanaman tidak diurus (seandainya diurus hanya 
menguras tenaga yang sedikit) dapat panen dengan hasil 
yang banyak. Akhirnya muncul pernyataan bahwa tanah yang 
digarap para transmigran adalah tanah milik nenek moyang 
mereka (tanah ulayat), jadilah persengketaan.

Jadi disini harus ada kepastian hukum untuk menunjang masa 
depan petani tsb.

Beberapa tahun yang lalu saya membutuhkan 150 orang 
sarjana pertanian untuk ditempatkan di Sulawesi. Dari 
lamaran yang masuk, semuanya ingin ditempatkan di pulau 
Jawa dan Jakarta khususnya. Nggak ada satupun yang mau 
turun ke pelosok daerah. Jadi pemerintah perlu membuat 
suatu kebijakan dimana untuk sarjana pertanian/perkebunan 
yang rela bekerja di luar Jawa ada kompensasi tertentu, 
sehingga bisa bekerja secara maksimal sesuai dengan ilmu 
yang dimiliki.

Pengetahuan tentang penerapan teknologipun sangat 
diperlukan. Dulu banyak padi traktor yang dibeli oleh para 
petani, tetapi karena pengetahuan yang kurang, akibat 
kerusakan kecil, terpaksa traktor tersebut menjadi besi 
tua. Yang sangat menyedihkan adalah kapal-kapal ikan 
nelayan asing yang tertangkap di perairan Indonesia, 
ternyata tidak dapat dimanfaatkan para nelayan. Hal ini 
dikarenakan pada saat ditangkap, peralatan vital untuk 
menjalankan mesin diambil dan dibuang ke laut.

Kesimpulan:
1. Kepastian hukum mutlak diperlukan. Tanah kosong dapat 
dimanfaatkan jika ada kepastian hukumnya, misalkan ada 
semacam bagi hasil bagi penggarap
2. Pengetahuan praktis yang bisa diperoleh dengan kursus 
singkat perlu diberikan agar dalam proses produksi dapat 
berjalan dengan lancar
3. Teknologi pengolahan, agar produksi dapat bertahan lama 
dan memiliki kualitas baik.
4. Kepastian pasar

Mudah-mudahan ini dapat membuku wawasan pemerintah yang 
baru



On Tue, 21 Sep 2004 21:37:11 -0700 (PDT)
  A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Dulu seorang konglomerat bisa menguasai jutaan hektar 
>HPH.
>Freeport pun menguasai lahan garap separuh Irian Jaya.
> 
> Padahal jika tanah tsb dibagikan kepada jutaan rakyat 
>untuk bertani, berkebun, dan beternak, mungkin rakyat 
>Indonesia bisa makmur.
> 
> man diri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Usul bagaimana kalau pembatasan pemilikan lahan, 
>rumah, kendaraan ,
> artinya setiap orang atau badan usaha dibatasi atas 
>penguasaan lahan. Banyak dan sangat luas sekali lahan 
>yang tidur  yang tidak menghasilkan apapun (tidak 
>produktif), hal tersebut mengakibatkan  berbagai dampak 
>multi dimensi krisis sosial antara lain   harga tanah 
>melambung tinggi , lahan tidur  yang begitu luas tidak 
>termanfaatkan , pengangguran bertambah akibat para petani 
>tidak punya lahan dan akhirnya pendapatan mereka kurang 
>yang berakibat pula nilai hidup merosot dengan ditandai 
>kesehtan dan pendidikan yang sangat rendah.
> 
> Boleh saja Feodal dan Kapital hidup di tengah masyarakat 
>namun harus diatur oleh Undang-Undang  agar tidak merusak 
>tatanan kehidupan bermasyarakat.
> 
> Kenyataan dimasyarakat pada saat ini banyak lahan , 
>rumah  dan kendaraan dikuasai segelintir orang  atau org.
> 
> Bayangkan kalau satu keluarga dengan 4 anggota orang 
>yang  terdiri dari 2 anak dan ayah+ibu   menguasai 
>delapan rumah diberbagai tempat  ditambah lagi lahan 
>tidur ribuan meter persegi dan belasan mobil.
> 
> Alangkah sayangnya lahan yang tidak produktif tersebut.
> Alangkah sayangnya tujuh rumah yang kosong 
> Alangkah sayang devisa kita  untuk membeli belasan mobil 
>yang hanya sekali-kali dipanasi oleh sopir.
> 
> Kami mohon Kepada Pemerintah yang baru ini agar 
>memberikan Keadilan sosial sebagaimana yang menjadi 
>tujuan  bangsa yang tercamtum dalam Pancasila.
> 
> 
> Kami mohon Pada kalayak umum yang sependapat dengan ide 
>saya agar memberikan tanggapan sehingga menjadi isu 
>Nasional dalam rangga untuk menyelamatkan bangsa dari 
>keterpurukan sosial ekonomi akibat dari Feodalisme dan 
>kapitalisme yang belum diatur oleh Undang-undang 
> sehingga sangat  merusak  hak-hak rakyat.
> 
> Terimakasih pada rekan-rekan  yang sependapat dengan ide 
>saya ini
> 
> 
> 
> 
>     
> 
> 
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bung Redd,
> Sebenarnya mengajukan proposal ekonomi itu porsinya para 
>ekonom seperti Bung Soni dan bung Rizal Ramli. Soalnya 
>kalau Nizami ini siapa sih...? SBY mau pun inner 
>circle-nya tidak pada kenal...:)
> 
> Tapi kalau memang mau rame2, boleh juga ikutan.
> Pembukaan lahan perkebunan/peternakan untuk memenuhi 
>kebutuhan bangsa Indonesia harus dilakukan, karena selain 
>menghemat devisa juga bisa membuka lapangan pekerjaan.
> Pembuatan kapal nelayan akan membuka lapangan kerja bagi 
>pekerja kapal, mau pun para nelayan.
> Pembangunan  2 juta rumah murah untuk rakyat untuk 
>membuka lapangan kerja dan tempat tinggal yang layak bagi 
>rakyat.
> 
> Negara bisa bekerjasama dgn swasta dapat menjadi induk 
>yang memasarkan hasil produk para petani dan nelayan 
>kita.
> 
> Wassalam
> 
> 
> redd13550 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bung Nizami yg baik,
> 
> Potensi ekonomi yg dimiliki indonesia memang tidak 
>pernah 
> terbantahkan sejak dahulu kala. Namun persoalan ekonomi 
>tentunya 
> tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik. YG menjadi 
>persoalan 
> skg adl apakah masyarakat indonesia akan membiarkan 
>kekayaan alamnya 
> itu dimiliki org lain atau diabdikan utk kepentingan 
>masyarakat 
> indonesia sendiri. Dan utk itu aku pikir sudah saatnya 
>kita yg 
> mengajukan visi dan misi ini ke presiden baru. Bukan 
>sebaliknya.
> 
> 
> Salam  
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami 
><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> Jumlah penduduk Indonesia ada 220 juta jiwa. Ini adalah 
>>pasar ke 4 
> terbesar di dunia.
>> Seandainya setiap penduduk menghabiskan Rp 100 ribu per 
>>tahun untuk:
>> 1. Beras
>> 2. Gula
>> 3. Kedelai
>> 4. Ayam
>> 5. Sapi
>>  
>> Maka ada pasar senilai Rp 20 trilyun lebih untuk tiap 
>>produk 
> tersebut. Bagaimana caranya agar Indonesia bisa memenuhi 
>kebutuhan 
> dalam negerinya sendiri secara mandiri?
>>  
>> Pupuk bahannya tidak perlu dari luar, cukup pakai 
>>kotoran 
> kerbo/sapi yang dulu biasa disebut pupuk kandang.
>>  
>> Mudah2an presiden Indonesia yang baru, SBY, punya visi 
>>dan misi 
> yang jelas untuk itu.
>>  
>> Salam
>> Agus Nizami
>> 
>> 
>> rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> Bagaimana nihh pakar2 kita dibidan agrikultiral? mBah 
>>soel dan 
> adik2 
>> yang belajar dibidang ini? benarkah?
>> 
>> Salam
>> 
>> RM D Hadinoto
>> 
>> 
>> Negara Agraris Tanpa Komoditas Andalan?
>> 
>> Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan kesuksesan 
>>surplus beras 
>> para petani menjerit. Persoalan klasik kembali terulang. 
>>Panen raya 
>> tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, bencana!
>> 
>> 
>> TUGAS yang diemban Pemerintah Megawati Soekarnoputri di 
>>sektor 
>> pertanian, pada awalnya, memang tidak gampang. Sektor 
>>ini diterpa 
> dua 
>> gejolak eksternal beruntun. Anomali iklim El Nino pada 
>>1997-1998 
> dan 
>> berulang 2001 serta krisis ekonomi (1997-1999) membuat 
>>kinerja 
> sektor 
>> pertanian terpuruk. 
>> 
>> Namun, belakangan, "panen" di sektor ini bisa dituai. 
>>Setidaknya 
>> pencapaian produksi tanaman pangan - dalam hal ini beras 
>>- yang 
> cukup 
>> signifikan. Pada 2004 Indonesia surplus beras. 
>> 
>> Produksi nasional pada 2004 sebanyak 53,7 juta ton gabah 
>>kering 
>> giling (GKG), meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 
>>51,13 juta 
>> ton GKG. Jika dikonversi menjadi beras maka jumlahnya 
>>menjadi 
> sekitar 
>> 33 juta - 34 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan 
>>konsumsi beras 
>> nasional sebanyak 30 juta-31 juta ton. 
>> 
>> Menurut Dirjen Bina Produksi dan Tanaman Pangan, Deptan, 
>>Mohammad 
>> Jafar Hafsah, peningkatan produksi beras tak lepas dari 
> keberhasilan 
>> Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan 
>>(Proksimantap) 
> yang 
>> dicanangkan Deptan sejak 1 Oktober 2002.
>> 
>> Selanjutnya, pejabat Deptan dan Perum Bulog dalam 
>>berbagai 
> kesempatan 
>> menyatakan, Indonesia tengah menjajaki ekspor beras. 
>>Kondisi ini 
>> sepertinya mengulang sukses swasembada beras pada 1984, 
>>di era 
>> Pemerintahan Soeharto. Indonesia yang selama ini menjadi 
>>pengimpor 
>> beras akan segera beralih menjadi pengekspor beras. 
>>Sebuah prestasi 
>> yang membanggakan. 
>> 
>> Yang menjadi pertanyaan, apakah hal ini juga merupakan 
>>kebanggaan 
>> petani? Ketika para pejabat pemerintah mengumumkan 
>>kesuksesan 
> surplus 
>> beras, para petani menjerit. Persoalan klasik kembali 
>>terulang. 
> Panen 
>> raya tak selalu berarti berkah, bisa sebaliknya, 
>>bencana! Harga 
> gabah 
>> mereka anjlok sedemikian rupa sehingga tak lagi 
>>sebanding dengan 
>> biaya produksi. Petani tekor.
>> 
>> Hal yang sama terjadi pada komoditas pertanian lainnya, 
>>selain 
> beras. 
>> Komoditas perkebunan pun mengalami hal serupa sehingga 
>>seolah-olah 
>> negara agraris ini tak punya andalan komoditas 
>>pertanian. 
>> 
>> Jelas sudah bahwa keberhasilan atau perkembangan sektor 
>>pertanian 
> tak 
>> bisa dilihat dari ukuran angka produksi semata. Lebih 
>>penting dari 
>> itu adalah apa yang telah dinikmati petani. Hasil 
>>pertanian harus 
>> dipasarkan. Itu berarti menyangkut tata niaga yang rumit 
>>termasuk 
>> kebijakan impor komoditas serupa, bea masuk, dan 
>>seterusnya. 
>> 
>> 
>> 
>> "Subsidi pupuk dan tetek bengek subsidi lainnya serta 
>>kebijakan 
> impor 
>> jalur merah dan sebagainya tak akan ada artinya bila 
>>pemerintah 
> tutup 
>> mata terhadap penyelundupan. Ini salah satu contoh bahwa 
>>masing-
>> masing institusi di pemerintahan perlu koordinasi," kata 
>>kata Ketua 
>> Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Ir Winarno Tohir, 
>>kepada 
>> Pembaruan.
>> 
>> Bila masing-masing departemen hanya mementingkan 
>>targetnya sendiri 
>> maka yang menjadi korban adalah petani. 
>> 
>> Winarno tidak sependapat bila Indonesia yang notabene 
>>negara 
> agraris 
>> disebut tidak punya produk andalan pertanian. "Kita 
>>punya banyak 
>> produk andalan terutama dalam subsektor perkebunan, 
>>namun karena 
>> tidak di-back up pemerintah secara tepat, jadinya 
>>seolah-olah kita 
>> tak punya produk andalan," katanya. 
>> 
>> 
>> Perkebunan
>> 
>> Perkebunan merupakan potensi yang besar dalam 
>>meningkatkan 
> pendapatan 
>> negara dan kesejahteraan rakyat. Potensi itu dapat 
>>dilihat dari 
>> beragamnya komoditas yang dihasilkan perkebunan besar 
>>maupun 
>> perkebunan rakyat, mulai dari tebu, kelapa, kelapa 
>>sawit, karet 
> alam, 
>> kakao, teh, tembakau, kopi, dan lada. Sayang, 
>>peningkatan nilai 
>> tambah dari keunggulan komparatif yang seharusnya dapat 
>>diolah dari 
>> sektor perkebunan belum dapat dioptimalkan. 
>> 
>> Perkebunan di Indonesia ternyata masih berkutat pada 
>>peningkatan 
>> produksi primer dan ekspansi areal tanpa diimbangi 
>>dengan 
> peningkatan 
>> nilai tambah dan pemasaran yang kuat. Indonesia pun 
>>hanya berperan 
>> sebagai penyedia bahan baku bagi negara-negara maju. 
>>Ironisnya 
> lagi, 
>> ekspansi perkebunan dengan redistribusi lahan melalui 
>>Perkebunan 
> Inti 
>> Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) ternyata belum 
>>membuahkan hasil 
> yang 
>> baik. Kredit yang dikucurkan untuk pengelolaan 
>>perkebunan inti dan 
>> petani plasma dalam pola PIR-Trans ternyata hanya 
>>menelantarkan 
>> ribuan petani dan kredit macet dari ratusan perusahaan 
>>perkebunan. 
>> 
>> Sampai saat ini, disinyalir sejumlah perkebunan swasta 
>>yang 
>> bermasalah dan ditangani oleh Badan Penyehatan Perbankan 
>>Nasional 
>> (BPPN) justru kembali lagi kepada pemilik lama yang 
>>dijual dengan 
>> harga murah. 
>> 
>> Sekalipun data Deptan menyebutkan ada pertumbuhan sektor 
> perkebunan, 
>> itu harus dilihat sebatas pada produktivitas, bukan pada 
> peningkatan 
>> nilai tambah atau pengolahan. Dengan demikian, 
>>peningkatan produksi 
>> selama periode lima tahun terakhir tidak terlalu 
>>memberikan 
>> kontribusi peningkatan nilai yang berarti karena masih 
>>mengandalkan 
>> produk primer dan dipengaruhi oleh harga internasional. 
>> 
>> Kondisi ini seharusnya diikuti dengan perubahan 
>>kebijakan 
> pemerintah 
>> untuk mendorong lebih banyak peningkatan nilai tambah 
>>dan industri 
>> pengolahan komoditas perkebunan di dalam negeri. 
>> 
>> Ke depan, pembangunan pertanian sudah waktunya tidak 
>>lagi terfokus 
>> pada usaha bercocok tanam saja (on-farm), tetapi juga 
>>diimbangi 
>> dengan pengembangan usaha hulu pertanian. Hal ini sudah 
>>mulai 
>> dirintis. 
>> 
>> Usaha sub sektor on-farm adalah mengubah cara bertani 
>>dari usaha 
>> bercocok tanam komoditas tunggal menjadi usaha dengan 
>>komoditas 
> yang 
>> beragam dan bernilai ekonomis tinggi. 
>> 
>> Sedangkan usaha hulu antara lain dengan mengembangkan 
>>usaha 
>> perbenihan. Logikanya, dengan perkembangan pertanian 
>>tentu saja 
>> kebutuhan benih dengan kualitas terjamin terus 
>>meningkat. 
>> 
>> Sebagai contoh, menurut Menteri Pertanian Bungaran 
>>Saragih, impor 
>> benih hortikultura masih cukup besar yakni rata-rata 
>>mencapai 2.600 
>> ton per tahun.
>> 
>> On-farm juga diimbangi dengan usaha hilir pertanian 
>>(downstream 
>> agribusiness) dan kegiatan penunjang (supporting system 
>>of 
>> agribusiness). 
>> 
>> 
>> PEMBARUAN/HERI S SOBA 
>> 
>> dan DWI ARGO SANTOSA
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
> **********************************************************************
> *****
>> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
>>Menuju 
> Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
>Destiny. 
> www.ppiindia.shyper.com
>> 
> **********************************************************************
> *****
>> 
> ______________________________________________________________________
> ____
>> Mohon Perhatian:
>> 
>> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
>>(kecuali sbg 
> otokritik)
>> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
>>dikomentari.
>> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
>> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
>> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>> 7. kembali menerima email: 
>>[EMAIL PROTECTED]
>> 
>> 
>> 
>> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>> 
>> 
>> ---------------------------------
>> Yahoo! Groups Links
>> 
>>    To visit your group on the web, go to:
>> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>>   
>>    To unsubscribe from this group, send an email to:
>> [EMAIL PROTECTED]
>>   
>>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
>>Terms of 
> Service. 
>> 
>> 
>> 
>> Bacalah artikel tentang Islam di:
>> http://www.geocities.com/nizaminz
>>             
>> ---------------------------------
>> Do you Yahoo!?
>> New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
>> 
>> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
>Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
>Destiny. www.ppiindia.shyper.com
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
>(kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
>dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: 
>[EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>   To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>  
>   To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>  
>   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
>Terms of Service. 
> 
> 
> 
> Bacalah artikel tentang Islam di:
> http://www.geocities.com/nizaminz
>            
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
>Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
>Destiny. www.ppiindia.shyper.com
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
>(kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
>dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: 
>[EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>   To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>  
>   To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>  
>   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
>Terms of Service. 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
>around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
>Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
>Destiny. www.ppiindia.shyper.com
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
>(kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
>dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: 
>[EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>   To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>  
>   To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>  
>   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! 
>Terms of Service. 
> 
> 
> 
> Bacalah artikel tentang Islam di:
> http://www.geocities.com/nizaminz
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. 
>Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared 
>Destiny. www.ppiindia.shyper.com
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA 
>(kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan 
>dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: 
>[EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

===========================================================================================
"Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat 
akses Internet Gratis..
Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : 
TELKOM Jatim 0-800-1-467826 "
===========================================================================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke