Setuju Mbah. Beginilah seharusnya pemerintah. Pemerintah gak usah ikut2an mengeluarkan fatwa haram dan halal dalam urusan agama dan gak usah memihak komunitas apapun. Biarkan itu menjadi hak MUI utk umat Islamnya saja. Pemerintah tinggal ciduk/caplok siapa yang melakukan kekerasan. Biarkan saja kelompok GD berpolemik dengan kelompok MUI, namanya juga sparing partner buat ngasah otak, biar saling kenal.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kondisi Indonesia yang multi kultur/ras ini serupa dengan kondisi Arab ketika Nabi SAW hidup. Jadi, sebaiknya kita bisa mengambil contoh bagaimana Nabi SAW menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut. Ketika Kota Mekah dibebaskan dari kaum Musyrikin, Bilal (budak hitam), sahabat Nabi SAW naik keatas Ka'bah utk mengumandangkan adzan. Beberapa orang berkomentar,"Mengapa budak hitam ini yang mengumandangkan adzan?". Kabarnya, karena situasi seperti inilah dimana perbedaan individu, etnis, kelompok, keturunan, kedudukan sangat besar, diturunkan ayat AlHujuraat 13,"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". Dalam ayat ini (beserta konteksnya), setidaknya ada dua teori: satu, Teori persamaan hak. Kedua, Teori pengakuan atas eksistensi bangsa- bangsa dan suku. Keberadaan suku dan bangsa memang telah menjadi kehendakNya, namun bukan untuk dibangga-banggakan. Kelebihan suatu etnis tidak berarti apa-apa dihadapan Allah. Sepanjang sepengetahuan saya, dalam AlQur'an tak ada penjelasan AlQur'an tersirat dan tersurat tentang keberadaan agama-agama (agama yang banyak) yang memang atas kehendakNya sebagaimana keberadaan suku dan bangsa tsb, makanya saya menjadi tambah yakin bahwa agama dimana Tuhan berkehendak atasnya itu cuma SATU meski budaya, suku, dan bangsa buanyak. Kalaupun disebut Nashara dan Yahudi dalam AlQur'an, itu menunjukkan pada sebuah bangsa or suku, yang telah diturunkan kepada mereka Taurat dan Injil. Kembali dalam konteks bernegara, Nabi SAWpun tidak pernah menyatakan secara formal bahwa Madinnah adalah Negara Islam karena multi kultur/ras/agama disana. Tapi, Nabi SAW mampu berlaku adil disana, melindungi minoritas, dan mampu bertindak tegas kepada seseorang penipu semacam Musailamah AlKadzab(laknatullah)-cmiiw-yang mengaku sebagai nabi pula pada saat itu. [Lalu kalau ada fatwa terhadap Mirza Ghulam Ahmad AlKadzab, adalah suatu hal wajar, karena sudah bagus manusia itu tidak dibunuh] Bagaimana perilaku/akhlak Nabi SAW terhadap orang Nasrani dan Yahudi? Oooh sangat indahnya. Salah satunya, beliau mempersilakan rombongan Nasrani Najran melakukan kebaktian di dalam masjid. Kemudian mereka berdiskusi masalah keimanan. Salah duanya beliau memberi makan (menyuapi) seorang buta Yahudi (yang duduk dipasar dan selalu memaki dan menghina Nabi SAW). Salah tiganya adalah keakraban beliau dengan seorang pendeta Yahudi Mukhairiq. Ketika terjadi perang Uhud antara umat Islam dan Musyrikin. Mukhairiq ikut berperang membela Nabi SAW. Ia berwasiat seandainya ia gugur dalam perang Uhud, maka segala hartanya akan diserahkan kepada Nabi SAW. Dan gugurlah ia. Kemudian Nabi SAWpun berkomentar bahwa "Mukhairiq adalah sebaik-baiknya orang Yahudi". Kalaupun ada gesekan terhadap Yahudi (pengevakuasian Yahudi Bani Nadhir), itu karena sikap Yahudi yang membatalkan perjanjian sepihak (ingkar janji) bukan karena keyahudiannya. Jadi kita harus mengambil pelajaran bagaimana Nabi SAW berfikir sangat rasional dan proporsional sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Sekarang orang harus memisahkan antara pemimpin agama dengan pemimpin negara. Ini memang kenyataan, karena tak ada orang yang sesempurna beliau. Demikian unek-unek yang uenak. wassalam, --- In [email protected], Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sangat sangat benar: > > --->Namun, pemerintah dalam sistem demokrasi berdiri di tengah. Pemerintah tidak membela salah satu komunitas dan menyalahkan komunitas lainnya. Yang dibela pemerintah hanyalah prinsip konstitusi. Sejauh tak ada yang menyalahi konstitusi, pemerintah tak pernah ikut campur mengharamkan atau melarang eksistensi pemahaman agama mana pun. Sekali pemerintah memihak sebuah komunitas dan meninggalkan prinsip konstitusinya, pemerintah itu justru memulai bencana. > > --->Ketiga, intervensi pemerintah terhadap keberagaman pemahaman agama hanyalah dalam upaya menjalankan hukum yang berlaku saja. Pemerintah membolehkan setiap kelompok membuat panduan bagi umatnya dan mempublikasi panduan itu. Namun pemerintah mencegah dan menghukum siapa pun yang melakukan kekerasan untuk memaksakan pemahaman agamanya sendiri. Sekali pemerintah membiarkan kekerasan terjadi, dasar dari konstitusi modern dikhianati oleh pemerintah sendiri. > > Pemerintah akan kehilangan wibawa. > > ------------------ > > Ya, kehilangan wibawa, dan pemerintah akan dijadikan badutan ala Srimulat.. > > Salam danardono > > Ambon <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/08/index.html > > > SUARA PEMBARUAN DAILY > Pemerintah dalam Kontroversi Fatwa MUI > > > Denny JA > > DUA kubu itu sama-sama memahami agama Islam, dan kita asumsikan sama-sama ingin memajukan Islam di Indonesia sebagai percontohan di Asia Tenggara bahkan di dunia. Kubu pertama adalah para kiai yang dihormati di MUI. Kubu kedua adalah para kiai yang juga dihormati beserta cendekiawan seperti Gus Dur dan Masdar Mas'udi. Di kubu MUI banyak yang menjadi pimpinan ormas Islam terbesar NU. Namun, Gus Dur dan Masdar Mas'udi juga pimpinan ormas terbesar NU. Gus Dur sendiri bahkan oleh banyak pendukungnya dianggap "jimat" NU. > > Dua kelompok itu berbeda sangat diametral mengenai fatwa yang baru saja dikeluarkan MUI. Yang satu mengharamkan banyak hal seperti ajaran Ahmadiyah, liberalisme, pluralisme, sekularisme, dan melarang mengamini pemimpin agama lain dalam doa bersama. Sementara kubu yang satu lagi menentang fatwa pengharaman itu dan menganggapnya sebagai langkah mundur. > > Publik luas bertanya. Mengapa dua kubu yang sama-sama ahli Islam, membaca buku suci yang sama, menjadi pimpinan ormas Islam terbesar yang sama, namun berbeda pendapat mengenai fatwa yang sangat substansial itu? Bagaimana pula pemerintah seharusnya berperan dalam kerangka demokrasi konstitusional menghadapi perbedaan pemahaman agama di masyarakat? > > Perbedaan paham agama dalam perspektif sejarah dan kasus dunia tak hanya terjadi di komunitas Islam. Begitu banyak tokoh yang cerdik pandai dan memiliki komitmen dengan agama yang dipeluknya juga saling berbeda. Itu sebabnya mengapa misalnya agama Kristen, Hindu, Buddha dan Islam sendiri saat ini terbagi-bagi dalam banyak sekali kelompok pemahaman. > > Di Amerika Serikat sendiri misalnya, ada sampai ratusan kelompok pemahaman agama Kristen yang memiliki gerejanya sendiri. Komunitas agama Islam di AS juga terbagi dalam banyak kelompok mulai dari kelompok Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Nation of Islam, Rasyad Khalifah, Black Moslem, dan sebagainya. > > Respons atas keberagaman itu juga beragam. Ada kelompok yang menganggap hanya pemahaman kelompoknya yang diridai dan pemahaman kelompok lain dianggap penyimpangan. Ada kelompok yang ingin lebih jauh lagi menganggap pemahaman kelompok lain sebagai kejahatan. Namun tak sedikit pula yang merasa bahwa perbedaan itu tak terhindari dan sebaiknya hidup bersama secara berdampingan. > > Mengapa konflik atas ratusan bahkan ribuan pemahaman agama di AS itu sangat minim tingkat kekerasannya? Jawabannya adalah peran pemerintah yang sangat tegas dalam menjalankan konstitusi negara demokrasi. > > > Pemerintah > > Ada empat prinsip yang seharusnya pemerintah pegang dalam menghadapi keberagaman pemahaman agama warga negara. Pertama, pemerintah mencoba melindungi keberagaman itu dan mencantumkan hak warga negara untuk beragam dalam konstitusi negara. Negara dengan penduduk yang sangat besar dan heterogen, mustahil hanya memiliki satu paham agama. Apalagi di era modern yang sangat terdiversifikasi, perbedaan pemahaman agama tak bisa dicegah oleh kekuatan mana pun. > > Keberagaman itu dianggap kenyataan sosiologis yang eranya sudah datang. Ratusan bom atom dapat dikerahkan untuk mencegahnya. Jutaan polisi dapat dikerahkan untuk menahannya. Jutaan ahli agama dapat dikerahkan untuk menangkalnya. Namun, seperti dikatakan pepatah, tak ada yang lebih kuat dari sebuah realitas yang waktunya telah datang. > > Desainer politik modern tak punya pilihan lain selain mengakomodasi keberagaman itu dan melindunginya. Memiliki persepsi mengenai metafisika, Tuhan, rasul, tujuan hidup, adalah hak paling dasar warga negara. Kepercayaan terhadap suatu iman dan pandangan metafisika tak dapat dipaksakan. > > Kedua, pemerintah tidak ikut campur dan tidak memihak dalam perbedaan pemahaman itu. Setiap komunitas pemahaman tak terhindari menganggap hanya pemahamannya yang benar. Tak terhindarkan pula pimpinan komunitas itu perlu memberikan pedoman kepada pengikutnya untuk mengkonfirmasi kebenaran pemahaman kelompoknya dan kesalahan pemahaman kelompok lain. > > Karena setiap pemahaman memiliki komitmen yang kuat menyelamatkan dunia dan manusia, tak jarang masing-masing komunitas itu ekspansi dan mempengaruhi kelompok lain untuk meninggalkan pemahaman agamanya atau bahkan menukar imannya. Dalam masyarakat yang lebih keras lagi tingkat konfliknya, tindakan saling mengharamkan antarkomunitas dan pimpinan komunitas itu terjadi. > > Namun, pemerintah dalam sistem demokrasi berdiri di tengah. Pemerintah tidak membela salah satu komunitas dan menyalahkan komunitas lainnya. Yang dibela pemerintah hanyalah prinsip konstitusi. Sejauh tak ada yang menyalahi konstitusi, pemerintah tak pernah ikut campur mengharamkan atau melarang eksistensi pemahaman agama mana pun. Sekali pemerintah memihak sebuah komunitas dan meninggalkan prinsip konstitusinya, pemerintah itu justru memulai bencana. > > Ketiga, intervensi pemerintah terhadap keberagaman pemahaman agama hanyalah dalam upaya menjalankan hukum yang berlaku saja. Pemerintah membolehkan setiap kelompok membuat panduan bagi umatnya dan mempublikasi panduan itu. Namun pemerintah mencegah dan menghukum siapa pun yang melakukan kekerasan untuk memaksakan pemahaman agamanya sendiri. Sekali pemerintah membiarkan kekerasan terjadi, dasar dari konstitusi modern dikhianati oleh pemerintah sendiri. Pemerintah akan kehilangan wibawa. > > Untuk melindungi konstitusi dan hukum pula, pemerintah dapat melarang sebuah pemahaman agama jika mengarah kepada tindakan kriminal dan pornografi saja. Misalnya, ada sekte yang menumpuk senjata dan menciptakan polisi bagi komunitasnya sendiri. Atau ada sekte yang mempraktikkan seks bebas bagi anak-anak di bawah umur. Intervensi itu dilakukan bukan karena pemerintah ingin terlibat dalam pemahaman agama tetapi melindungi hak warga negara dari potensi kekerasan pihak lainnya. > > Keempat, pemerintah juga membedakan kehidupan publik dan kehidupan pribadi. Untuk kehidupan publik (wilayah publik, public sphere), harus ada konsensus bersama mengenai apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang. Konsensus itu dibangun berdasarkan prinsip kesamaan warga negara dan diikat dalam aturan hukum nasional. Misalnya, semua warga negara, apa pun pemahaman agamanya, dan apa pun warna kulitnya memiliki hak yang sama untuk menggunakan fasilitas negara. > > Namun, untuk kehidupan pribadi masing-masing warga negara, pemerintah membiarkan warga itu sendiri yang menentukan. Warga negara itu dibolehkan memiliki gagasan apa pun, atau memercayai pemahaman agama apa pun sejauh tidak melakukan kekerasan dan tidak mengerjakan tindakan kriminal. > > Pro dan kontra fatwa MUI tak terhindari sebagai bagian dari keberagaman persepsi warga negara Indonesia modern. Yang penting, pemerintah berkomitmen hanya menundukkan diri kepada konstitusi negara yang melindungi keberagaman pemahaman agama warga nega- ra. * > > > Penulis adalah Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia > > > Last modified: 8/8/05 > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ********************************************************************* ****** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org > ********************************************************************* ****** > _____________________________________________________________________ _____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > SPONSORED LINKS > Indonesian languages Indonesian language learn Cultural diversity Indonesian > > --------------------------------- > YAHOO! GROUPS LINKS > > > Visit your group "ppiindia" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > --------------------------------- > > > > > ********************************************************************* ************** > > It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; > they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against > misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled. > > Sidharta Gautama > > > > > --------------------------------- > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hoidk9r/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123589874/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

