On 4/3/06, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > >Apa salahnya kalau seseorang 'senang main politik', bos? > >Bukannya yang 1-for-all (multi guna) itu biasanya dicari orang, bos? > >Lebih praktis & ekonomis.. contohnya: pisau lipat swiss (swiss army?).. > :-) > ========= > > hehehe masak manusia disamakan dengan pisau lipat?
Hehehe juga.. Ya kalau contoh pisau lipat gak diterima, mungkin contoh pendekar Brama Kumbara aja deh (saudaranya Mantili).. yang (katanya) ilmu kanuragannya banyak dan bijaksana.. :D Memang betul perlu pengetahuan yang cukup untuk berkomentar, biar nanti gak malu"in.. tapi kalau hanya sedikit orang yang boleh bersuara mengenai suatu topik (mis: harus yang punya pengalaman di lapangan, dengar dari sumber awal, dst), itu mengarah pada elitisme atau bahkan 'arogansi' kelompok tertentu yang 'menguasai' topik tertentu. Khusus untuk tokoh publik, perlu dilihat apakah sebelumnya ada kalangan yang berani berbicara soal banyak hal. Kalau tidak ada sama sekali, mungkin berbicara mengenai urusan yang menyangkut kepentingan publik sifatnya menjadi 'fardu kifayah' (mis: soal kekayaan alam yang digadaikan penguasa jadul dan dibiarkan sampai sekarang).. Karena kalau semua orang diam, maka kecurangan yang terjadi tidak akan pernah terungkap apalagi dihilangkan (minimal dikurangi). Toh kalau ada perbaikan, yang menikmati adalah semua orang.. termasuk mereka yang 'mencibir' bahkan menyebut 'provokator' pada kalangan (dan tokoh) tersebut. Well, kecuali (mungkin) kalangan yang menjadi pendukung kepentingan asing.. atau komprador (istilah yang sering disebut KK Gie).. >Berarti prinsipnya ide apapun boleh berkembang dan dicoba juga donk.. > >Bukan cuma demokrasi saja.. ya bos? > >Tinggal caranya tersebut bisa diterima publik atau tidak.. > > > >CMIIW.. > ========== > > dalam demokrasi semua ide boleh dipertandingkan secara fair. > malah tak boleh ada oligopoli atau monopoli ide. supaya > rakyat bisa menilai mana ide yang paling bermutu dan > masuk akal. Ini kalau demokrasi sudah dianggap sebagai sesuatu yang mutlak kebenarannya.. Maksud aye, kalau mau benar" demokratis, berarti 'no democracy' juga harus dihormati donk.. Artinya demokrasi sejati itu sulit, pasti ada asumsi/batasan juga.. Bukankah 'tidak memilih' juga suatu 'pilihan'? :-p Apalagi kalau indikatornya yang penting 'banyak dipilih'.. tapi jangan pakai demokrasi sekali jalan. menggunakan > demokrasi, dan setelah menang memberangus demokrasi > untuk selama-lamanya. itu curang namanya. Lho bukannya itu juga salah satu ciri setiap 'kudetor' (pelaku kudeta); baik yang terang"an maupun terselubung (pake 'topeng').. :D Setelah kekuasaan didapat, semua celah (kalau bisa) ditutup - one way or another.. Kalau perlu prinsip berikut ini diterapkan: 'The Ends Justify the Means'.. CMIIW.. salam, Wassalam, Irwan.K [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

