Sorry, lama gak nengok milis langsung nimbrung.

Menurut pemahaman saya, pertanian atau pekerjaan manusia itu adalah
muamalah. Niatnya memang ibadah karena segala sesuatu niatan muslim
adalah untuk ibadah (konteks iman), tetapi siyasah dan ilmunya adalah
dinamis, kontekstual, dan harus diusahakan manusia itu sendiri. 

  Aris:
  Benar mbakyu.  Untuk teknologi dan pengembangannya diserahkan pada manusia 
dengan tetap berstandar pada aturan Islam. Regulasi yang berkaitan pertanian 
dan Islam mengatur pada tataran itu maka akan diatur.
  Kita perlu melihat wilayah mana syariat Islam mengatur. Biasanya terkait 
dengan pengaturan di masyarakat.
   
  Mbakyu Fau:
  
kalau cuma mau dilihat literally dari Quran dan Hadits, ya mandeg
dong.. zamannya Nabi kan blom ada rekayasa biogenetika dsb. Nah ntar
mikir gak ada hukumnya, padahal konteks hukumnya ada. Bagaimana pula
dg nelayan? Apakah Nabi juga mengatur tentang ikan umur berapa yg
boleh ditangkap? Bagaimana jika negara tsb tidak layak lagi ditanami
bahan pangan spt Singapore? Tidak punya ketahanan negara? 

   
  Aris:
   Sepehaman aris diatas terkait teknologi, monggo manusia berkreasi.
   
  Mbakyu Fau:
 semuanya adalah trade-off berdasarkan strategi yang
disepakati oleh suatu negara. Kalau mau menjadi negara pengekspor
beras, ya stoplah impor kalau perlu penduduk jangan makan beras tapi
kentang, beras produksi kita ekspor saja. 

Kalau mau jadi negara pengekspor minyak, ya dari dulu teknologi
eksplorasi dan eksploitasi itu dipelajari serius dan kalau perlu bikin
strategi spy jml mobil dalam negeri tidak membludak kayak sekarang.
Jadi minyaknya kita jual dan duwitnya kita beliin kereta api.

Kalau mau jadi negara industri, ya lihat dimana competitive advantage
kita trus digenjot disana. Ini yang telah dan sedang dilakukan oleh
Jepang, Amerika, Eropa, Korea, Taiwan, Cina. Dan itu dinamis, mereka
berpindah dari satu stage ke stage berikutnya.. spt flying geese.
  
Aris:
  Tepat sekali, sayangnya... dalam pemenuhan semua itu kita berinteraksi dengan 
negara lain. Dan sayangnya pula, ada banyak  kepentingan negara lain yang tidak 
fair dipaksakan dalam negara lain yang itu  bertentangan dengan syariat Islam. 
Banyak kesepakatan dalam WTO yang tidak fair. cenderung memihak pada sebagian 
kecil negara berkapital besar.
   
  Misalnya penghapusan subsidi pertanian pada negara berkembang dan subsidi 
penuh pertanian pada negara maju. Sedangkan dalam ISlam tugas negara mensubsidi 
kepentingan umum. Tentu saja negara yang bertugas pula mengelola kepemilikan 
umum terkait tambang, migas dll. Dimana hasil dari pengelolaan ini dikembalikan 
pada masyarakat dalam bentuk salah satunya subsidi sektor publik seperti 
pertanian, kesehatan dan pendidikan. 
   
   
   
   
  Mbakyu Fau:
Apakah strategi tsb ada di Quran dan sunnah? Spiritnya ya. Tapi
detilnya, saya percaya sabda Nabi yang mengatakan "kamu lebih tahu
urusan duniamu" (maaf kalau redaksinya tidak tepat).

  Aris:
  Ada bagian spiritnya. Ada sisi hukum terkait regulasi pemerintah yang 
seharusnya diadopsi.
   
  Bagian yang tidak ada aturannya dalam syariat Islam atau syariat Islam tak 
secara jelas mengaturnya silakan berkreasi.  
   
  Pakai bioteknologi, rekayasa genetik, kloning hewan dan tumbuhan silakan 
saja. Tapi khusus untuk kloning pada manusia Islam melarangnya. Kecuali 
pembuatan bayi tabung bagi pasangan suami istri yang sah. Agak membingungkan ya 
mbak. Kita perlu memilah syariat Islam mengatur bagian apa saja dan jika tidak 
ada pengaturannya itulah wilayah yang boleh manusia berkreasi. misalnya, 
Strategi membuahi kurma, membuahi hewan pakai kawin suntik atau apa pun ya 
silakan. 
   
  Tapi kalau membuahi pada manusia, Islam telah mengaturnya dalam institusi 
pernikahan sehingga, maka teknologi yang dikembangkan harus jeli.
   
  Secara ringkasnya Islam sangat menganjurkan pengembangan teknologi dan sains 
yang didalamnya tak bertentangan dengan syariat Islam.  Hal ini malah membuat 
orang makin kreatif bukan?
   
  Mbakyu Fau:
Impor beras hanyalah satu tindakan yang bisa dilihat dari berbagai
framework dan detil. Kapan itu mempunyai sisi alasan yang bisa
dijustifikasi, kapan juga itu mempunyai alasan yg tidak kuat atau
strategi yang salah. Kalau soal money politic, gak usah repot2
berdebat soal impor beras, ekspor (jualan) beras juga tetap salah kalo
pake kecurangan. Artinya ya yg salah tetap salah terlepas dari konteks
perbuatannya, dan itu hal yg beda dlm kerangka analisis strategi yg sehat.

  Aris:
  Aris secara pribadi, hanya menguraikan sedikit alasan mengenai impor beras. 
Ada banyak alasan kenapa impor beras harus di tolak. aris sendiri sering ikut 
seminar dan diskusi mengenai hal ini. Ada banyak hal yang perlu dipertanyakan? 
salah satunya adalah validkah data statistik pemerintah mengenai kebutuhan 
beras dan stoknya?
   
  Strategi mengenai pertanian dll bisa saja diambil  juga, karena termasuk 
hal-hal terkait cara yang diperbolehkan manusia berkreasi di dalamnya asal 
sesuai Islam. 
   
   
  Mbakyu Fau:
Menurut saya yang dilakukan Nabi dg penduduk Yahudi itu adalah suatu
strategi yang sangat pintar. Apakah karena yg melakukannya Yahudi maka
dianggap kaum muslimin tidak punya kepintaran apa2? Saya kira cuma
strategi, pertanian akan optimal jika diusahakan oleh suku tsb,
perdagangan oleh suku lainnya, industri (jaman tsb) oleh kaum mana...
sangat pintar. Kalau dalam konteks ekonomi modern, bisa dilihat gaya
negara2 Barat: imigran pintar diberi prioritas. Dg demikian suatu
negara scr dinamis berkembang mencari strategi optimalnya. 

Mengenai hadits tanah tidak boleh menganggur saya melihatnya bukan
pada literal pertanian, tetapi pada konteks "optimal resource
allocation": efisiensi sumber daya termasuk lahan. Kalau pernah baca
buku Hernando de Soto "Mystery of Capital" maka kita bisa melihat
pentingnya property dalam pembangunan (walau di buku tsb saya kira
terlalu menyederhanakan masalah).

Pengaturan soal ijon, tata niaga dsb adalah suatu strategi buat
mencapai trade off antara efisiensi dan equity (hasil yang maksimal
dan fairness). Dalam konteks ilmu public economics, ini adalah salah
satu sentral issue: dimana peran pemerintah untuk memberikan trade off
antara keuntungan pemodal dan kesejahteraan sosial. 

salam,

fau
   
  Aris:
  Mbakyu Fau, sesungguhnya itulah secuil pengaturan Islam dalam pertanian.   
Adapun bila hal tersebut tak bertubrukan dengan ilmu modern, dimana aturan 
mengenai hal tersebut malah sama (dengan dasar alasan berbeda), iya berarti 
itulah kehebatannya syariat Islam telah memprediksi jauh hari. 
   
  Kalau ijon sendiri dalam Islam tak diperbolehkan maka, ya, pada kondisi 
apapun ijon ini tak boleh diadopsi, jadi bukan masuk dalam strategi. Strategi 
silakan dibuat dan dikembangkan namun mempertimbangkan jangan sampai melanggar 
aturan Islam yang sudah ada. Adapun ternyata dalam ilmu ekonomi modern ada 
manfaatnya luar biasa. Itulah hikmah dari salah satu aturan Allah.
   
  Syariat Islam mengenai pertanian tak bisa dipisahkan dengan syariat di bidang 
lain, makanya sebenarnya agak sulit membuat perbidang. Karena bentuknya satu 
paket mencakup seluruh bidang. Namun pembagian per bidang ini dipandang perlu 
untuk memudahkan memahami bahwa syariat Islam mengatur segala aspek. 
wallahu'alam bishawab
   
  salam,
  aris
  

--- In [email protected], aris solikhah wrote:
>
> Mas Ari,
> sayang sekali, syariat Islam mengatur juga tentang pertanian.
Karena syariat Islam mencakup all aspek. Impor beras bila itu
menghancurkan pertanian dalam negeri maka harus ditolak. Karena itu
terkait dengan ketahanan sebuah negara. apalagi jika impor beras penuh
dengan money politic. Di buku Ekonomi Islam itu bahkan diatur tentang
ijarah (perburuhan) juga. 
> salam,
> aris
> --------------------------------------
> http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=226508&kat_id=14
> Memuliakan Pertanian 
> 
> 
> 
> 
> Begitu mulianya pertanian di mata Islam. Bayangkan, penduduk
Yahudi Khaibar yang memerangi Nabi Muhammad SAW serta negara Madinah
dimaafkan dan tidak sampai terusir dari negerinya hanya lantaran
memiliki kemampuan bertani. Nabi membuat perjanjian bagi hasil
perkebunan kurma dengan mereka, kecuali dengan pemimpin perang dan
yang enggan menyesali pengkhianatannya. (Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim).







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links











pustaka tani 
  nuraulia

                
---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke