On 4/4/06, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> >Memang betul perlu pengetahuan yang cukup untuk berkomentar, biar nanti
> >gak malu"in.. tapi kalau hanya sedikit orang yang boleh bersuara mengenai
> >suatu topik (mis: harus yang punya pengalaman di lapangan, dengar dari
> >sumber awal, dst), itu mengarah pada elitisme atau bahkan 'arogansi'
> >kelompok tertentu yang 'menguasai' topik tertentu.
> >
> >Karena kalau semua orang diam, maka kecurangan yang terjadi tidak akan
> >pernah terungkap apalagi dihilangkan (minimal dikurangi). Toh kalau ada
> >perbaikan, yang menikmati adalah semua orang.. termasuk mereka yang
> >'mencibir' bahkan menyebut 'provokator' pada kalangan (dan tokoh)
> tersebut.
> >Well, kecuali (mungkin) kalangan yang menjadi pendukung kepentingan
> asing..
> >atau komprador (istilah yang sering disebut KK Gie)..
> =========
>
> semua orang bebas berpendapat. tapi persis seperti kata anda,
> perlu pengetahuan biar tak mempermalukan diri sendiri.
>
> dan pada akhirnya publik menjadi juri yang adil. komentar
> tak bermutu pasti langsung diabaikan.


Publik yang (sudah sampai tahap) mana? AFAIK, tidak semua publik bisa
menjadi juri..
Maaf bukan bermaksud mengarahkan diskusi seperti pada kisah 'sapi betina',
ya bos.. :-)
Dalam paradigma tertentu sikap kritis langsung mendapat cap 'provokatif'
(orangnya
dicap provokator), misalnya..

>Ini kalau demokrasi sudah dianggap sebagai sesuatu yang mutlak
> kebenarannya..
> >Maksud aye, kalau mau benar" demokratis, berarti 'no democracy' juga
> harus
> >dihormati donk.. Artinya demokrasi sejati itu sulit, pasti ada
> asumsi/batasan juga..
> >Bukankah 'tidak memilih' juga suatu 'pilihan'? :-p
> >Apalagi kalau indikatornya yang penting 'banyak dipilih'..
> =============
>
> ribuan tahun lalu orang sudah menemukan roda. untuk apa
> kita memikirkan lagi cara mempermudah memindahkan
> barang dari satu tempat ke tempat yang lain?


'Reinvent the wheel' mungkin gak perlu..
Maksute, jangan sampai ada larangan kepada satu pihak untuk memutlakan
suatu paham/pendapat, sementara disadari/tidak terjadi 'pemutlakan' pada
hal lain.

ilmu pengetahuan dan kebajikan itu milik dan warisan
> bersama umat manusia kok.


Sepakat bos..

bukan cuma sekadar debat, praktek no democracy
> sudah pernah dijalankan orang. dan kita bisa lihat hasilnya.


Mungkin biar lebih jelas, 'no democracy' itu cuma satu atau banyak jenisnya?

Kalau ada persepsi 'democracy' adalah benar/baik, maka 'no democracy'
(apapun jenisnya) bisa diartikan salah/buruk.. Logikanya kan gitu, ya bos?

--
Wassalam,

Irwan.K
Jakarta, Indonesia


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke