Saya menulis disini bukan mau membela siapa-siapa. Hanya saja saya
ingin menulis apa yang muncul dibenak saya sekarang ini ketika
membaca Tuhan distalinkan...:-)

Andaikan benar bencana pada suatu daerah adalah adzab,
Apakah Tuhan sama dengan Stalin? Atau hanya karena hati kita merasa
tersayat melihat bayi-bayi tak berdosa dikatakan kena adzab?

Maunya kita adalah bayi-bayi tersebut dipisahkan dulu dari orang2
berdosa disekitarnya yang berbuat dosa, barulah dikenakan adzab. Itu
baru Tuhan Maha Adil.

Saya kembali merenung tentang Asmaul Husna. Salah satu sifat Allah
adalah Maha Penyiksa (Al-Muntaqim), Maha Pemberi Bahaya (Al-Dharr).
Tentu, sifat Allah ini bukan tanpa pertimbangan dan peringatan.
Masalahnya, mungkin manusia (dewasa) tidak peka akan peringatan-
peringatanNya. Manusia hanya tahu Allah Maha Pengasih & Penyayang,
Maha Pemaaf (segala yang menyenangkan hati manusia tok!).

Dan sayapun teringat, sebuah hadist atau rujukan lainnya (maaf
lupa), yang mengatakan bahwa dosa kemaksiatan disuatu daerah itu
mempunyai radius hingga 40 rumah disekitarnya (seperti itulah kira2
bunyinya). Jadi bila di kelurahan kita ada yang melakukan
kemaksiatan dan kita membiarkannya, maka satu kelurahan itu akan
kena sialnya (=adzab?).

Saya belum lagi mempelajari apa tingkatan hadist itu, namun bisa
dijadikan peringatan bagi para pemimpin untuk menjaga warganya agr
tidak melakukan tindakan maksiat disekitar daerah yang dipimpinnya.
Karena kalau benar hadist tersebut, bayi2 tak berdosapun menjadi
ikut menanggung kelalaian para pemimpin. Menurut pertimbangan kita,
itu memang tidak adil. Sama saja ketika terjadi perang, sungguh
tidak adil kalau sipil menjadi korban. Namun peluru maupun adzab tak
punya mata, kecuali Allah menghendaki lain (dan kita membacanya sbg
mukjizat). Namun Tuhan berkata,"Ive warned you many times...".
Bukankah berat menjadi seorang pemimpin?

Pikiran saya melanglang lagi, bukankah banyak daerah yang lebih
maksiat (menurut pandangan kita, tentunya) namun tidak kena adzab?
Mungkin diderah tersebut, masih banyak juga orang yang melakukan
kebaikan, masih banyak yang mau berdzikir, masih banyak yang mau
berinfak kepada dhuafa, dll. Hanya Allah yang Maha Melihat (Al-
Bashir), Maha Mengawasi (Al-Raqib), Maha Mengetahui (AL-Khabir),
Maha Penghitung (Al-Hasib). Kita hanya bisa melihat, mengawasi,
menghitung (tapi tidak Maha), tidak mutlak-hanya mendiagnosa.
Kalaupun tak juga terjawab semua pertanyaan dalam benak kita, itu
berarti pengetahuan kita belum mampu menangkap apa KehendakNya.

Pikiran saya semakin menggila, mengapa di Indonesia ini terjadi di
daerah2 muslim (mayoritas)nya?. Tak heran lah karena mereka berani
mengaku muslim tapi tidak menjalankan perintahNya dan meninggalkan
laranganNya sebagai muslim. Itu kan namanya berkhianat kepada
dirinya dan kepada Tuhannya. Lain cerita kalau mereka memang mengaku
musyrik, tentu Tuhan juga mikir "ah wajar aja kamu melakukan begini
begono karena kamu kan gak percaya Aku. Kamu cukup gentle kok!
Adzabmu ku tunda di hari akherat aja". Yang nyebelin itu kan ngaku
muslim tapi kelakuan musyrik. Gitu.

Tolong dimengerti tulisan saya ini bukan ingin menyumpah-nyumpahi
dan mensyukur-syukuri kepada suatu bencana yang sedang terjadi
Tapi saya ingin mengajak untuk saling mengingatkan untuk tidak
melakukan kemaksiatan/kemunkaran kalau memang kita yakin adzab itu
turun karena dosa. Bagi yang tidak mempercayai anggap saja ini
pepesan kosong.

Inikah yang dikatakan agama menjawab pertanyaan yang dimulai
dengan "mengapa"...:-?

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun"

wassalamu'alaikum,

--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>
>
> kasihan Tuhan disamakan dengan stalin yang suka
> menghukum orang, termasuk anak kecil, yang tak
> jelas apa salahnya....






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke