--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Mas Ikhsan, maaf mas, apa pun status saya, saya suka atau tidak 
>terhadap poligami. Tidak akan mempengaruhi dan merubah status hukum 
>perbolehan poligami dari Allah. Jadi abaikan apa pun status 
aris.......



DH: Allah lagi, Allah lagi di-bawa bawa..

---> "Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga 
mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," 
pungkas dia..."


Suami Berpoligami Rentan Tularkan Penyakit Seksual
Melly Febrida - detikcom

Jakarta - Alasan suami berpoligami agar terhindar dari penyakit 
seksual sepertinya bakal usang. Sebab suami berpoligami justru rentan 
4-5 kali menularkan penyakit kelamin dan kanker mulut rahim kepada 
para istrinya.

Minimal, si istri kerap dihampiri si putih alias keputihan. Pendapat 
tersebut, kata Musdah Mulia dari Yayasan Jurnal Perempuan, 
disampaikan seorang dokter dalam buku 'Berbagi Suami'.

"Perempuan yang suaminya berpoligami itu bisa ditularkan penyakit 
seksual," kata Musdah dalam jumpa pers mengenai poligami di Yayasan 
Jurnal Perempuan, Jalan Tebet Barat 8, Jakarta Selatan, Sabtu 
(9/12/2006).

Musdah juga menyatakan, selain menyebabkan penyakit kelamin, poligami 
juga bisa menimbulkan konflik internal di keluarga, serta 
meningkatkan angka kekerasan domestik.

Selama ini suami yang berpoligami selalu beralasan mencari ridho 
Allah. Namun apakah itu hanya bisa dicapai dengan poligami?

"Suami yang berpoligami biasanya melakukan kebohongan kepada 
istrinya. Kalau poligami dianggap sunnah Rasul tapi dilakukan dengan 
kebohongan, jelas itu haram," katanya.

Menurut dia, suami yang memilih berpoligami umumnya untuk memenuhi 
kepentingan biologisnya. Perempuan hanya dianggap sebagai obyek 
seksual, dan budaya seperti itu perlu diubah.

"Kalau seperti itu, yang perlu dibangun adalah manajemen syahwat, 
supaya suami-suami tidak menghambur-hamburkan spermanya dan menjaga 
supaya tidak affair," kata dia.

Lalu apa yang harus dilakukan ke depan? Selain mengubah pandangan 
budaya patriarki yang memandang istri hanya sebagai obyek seksual, 
kata Musdah, juga harus ditanamkan pandangan terhadap perempuan untuk 
berkata "tidak untuk laki-laki yang sudah menikah".

"Karena itu tidak etis. Dan perlu juga diubah pandangan tidak takut 
menjadi perawan tua. Jadi silakan berpoligami, tapi jangan pernah 
menggunakan agama sebagai legitimasi," tegas Musdah.

Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga 
mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," 
pungkas dia. (umi/sss)




Kirim email ke