Salam kenal .... Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Sisingamangaraja X. Soal keluarga Istana pagaruyung penjelasannya sebagai berikut :
1803 Gerakan Paderi bermula di Minangka-bau, dan mendapatkan tentangan yang cukup keras dari masyarakat. Haji Muhammad Arief akhirnya pindah ke Lintau, Haji Miskin pindah ke Ampat Angkat, dan hanya Haji Abdur Rahman yang tidak mendapatkan perlawanan. Perpindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat disambut hangat oleh Tuanku nan Renceh dari Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Padang Lawas, Tuanku di Koto Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk Aur. Mereka berbai'ah, kemudian kelompok ini dikenal sebagai Harimau nan Salapan. Mereka mengharapkan dukungan dari Tuanku nan Tuo di Ampat Angkat; namun ditolak dan akhirnya mengangkat Tuanku di Mansiangan putera dari Tuanku nan Tuo sebagai pemimpin. Pada kenyataannya kelompok tersebut dipimpin oleh Tuanku nan Renceh. Pasukan Paderi ini mengenakan pakaian putih-putih sebagai lambang perjuangan suci mereka. Kaum adat menantang gerakan Paderi ini dengan mengadakan perhelatan adat yang penuh dengan kemaksiatan, seperti : menyabung ayam, berjudi, minum minuman keras, madat, dan sebagainya bertempat antara Bukit Batabuah dengan Sungai Puar (sebagian kisah menyebutkan Pandai Sikek) di lereng Gunung Merapi. Tantangan ini ditanggapi oleh Pasukan Paderi sehingga menyerbu tempat tersebut, dan ini memulai Perang Paderi (tahap pertama) yang meliputi peperangan antara Pasukan Paderi dengan Kaum Adat. 1804 Peperangan Paderi berlanjut ke Kamang, Tilatang, Padang Rarab, Guguk, Candung, Matur, sehingga pada tahun 1804 seluruh Luhak Tanah Agam telah berada dalam kekuasaan Paderi. Tahun-tahun setelah itu Pasukan Paderi menguasai Luhak Lima Puluh Koto, dengan tanpa perlawanan yang berarti. Operasi Pasukan Paderi ke Luhak Tanah Datar mengalami perlawanan yang berimbang, terutama karena di luhak ini merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Minangkabau yang bertempat di Pagarruyung. Dan keterangan yang lain sebagai berikut : 1806 Republik Batavia Belanda berubah kembali menjadi Kerajaan Belanda, tapi masih dalam pengaruh Perancis. Tahun 1807 Belanda menunjuk H.W. Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Inggris mulai agresif menguasai wilayah-wilayah jajahan. 1808 Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808 dilakukan perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung di Koto Tangah. Raja Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama staf kerajaan dan sanak keluarga, sedangkan dari Pasukan Paderi hadir Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh pasukannya. Karena terjadi perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf kerajaan, akhirnya terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja terbunuh. Sebuah versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa penghulu dan cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan Kuantan Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh sangat marah kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar berhasil dikuasai oleh Pasukan Paderi. Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan muridnya, Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara Kota Lubuk Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada di tepi jalan lintas Sumatera. 1815 Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang cukup besar. Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya Pasukan Paderi mengarahkan perjuangannya ke Tapanuli Selatan. Tuanku Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao, sedangkan Tuanku Tambusai memimpin benteng di Dalu-dalu. 1818 Sutan Muning Alam Syah (raja Minangkabau di wilayah pelarian) mengutus Tuanku Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles di Padang. Namun Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Calcutta India menolak campur tangan terhadap permasalahan di Minangkabau. 1819 Belanda masuk ke Padang. Raffles yang sebelumnya menjadi Gubernur Jenderal Inggris di Bengkulu dan pindah ke Singapura, mulai menghasut rakyat Minangkabau untuk membenci Belanda. Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam meminta Tuanku Imam Bonjol untuk menarik pasukannya dari Tapanuli untuk menghadapi Belanda di Padang. Namun keinginan ini ditolak oleh Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, dan Tuanku Lelo, sehingga Tuanku Imam Bonjol hanya memantau gerakan Belanda dari kejauhan. 1820 Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan Pasukan Paderi diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol. Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau. 1821 Mulainya perang Paderi (tahap kedua) di Minangkabau, yang meliputi peperangan antara Pasukan Paderi melawan Belanda, yang kemudiannya Belanda dibantu oleh Kaum Adat. Peperangan sengit berlangsung di 3 tempat, yaitu : Simawang untuk menyerang kubu Pasukan Paderi di Sulit Air, Air Bangis, dan Lintau. Peperangan di Air Bangis mengakibatkan Tuanku Rao gugur dalam pertempuran. Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang mengatasnamakan Yang Dipertuan Minangkabau mengikat perjanjian dengan Residen Belanda di Padang bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari 1821. Belanda kemudian mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. Dengan susah payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung. Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi. Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng Fort van der Capellen. 1822 Belanda menyerang Pagarruyung, sehingga Pasukan Paderi mundur ke Lintau. Penyerangan Belanda ke Lintau dapat dipatahkan. Selanjutnya Belanda memblokade Lintau, dan secara bertahap merebut Tanjung Alam, Koto Lawas, Pandai Sikat, dan Gunung dalam rangka menguasai Luhak Agam. Tuanku Pamansiangan dapat ditangkap, selanjutnya dihukum gantung oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol melancarkan serangan balasan ke Air Bangis, walau gagal, selanjutnya melancarkan serangan ke Luhak Agam, dan berhasil menguasai kembali Sungai Puar, Gunung, Sigandang, dan daerah lainnya. Juli, sekitar 13.000 Pasukan Paderi merebut pos Belanda di Tanjung Alam. 15 Agustus, Pasukan Paderi merebut Penampung, Kota Baru, dan Lubuk Agam. 1823 Dengan adanya tambahan pasukan dari Batavia, Kolonel Raaff melakukan serangan ke Luhak Agam. Terjadi pertempuran sengit di Bukit Marapalam, kemudian Biaro, serta wilayah sekitar Gunung Singgalang. 12 April, Belanda mengerahkan kekuatan terbesar sebanyak 26 opsir, 562 serdadu, dan 12.000 pasukan adat untuk menggempur Lintau, namun serangan ini berhasil dipatahkan. 1824 22 Januari, Belanda melakukan perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan Paderi di Masang. Perjanjian ini hanya berlangsung sebulan, setelahnya Belanda melakukan serangan ke Luhak Agam dan Tanah Datar. Pada pusat kedua luhak tersebut, Belanda bertahan di benteng Fort de Kock, yang sekarang wilayah di sekitarnya berkembang menjadi Kota Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol selanjutnya memusatkan kekuatan Pasukan Paderi di benteng Bonjol. 17 Maret, Inggris dan Belanda menandatangani Treaty of London, yang membagi wilayah jajahan : Sumatera, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan sebagainya sebagai wilayah Belanda; sedangkan Malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara sebagai wilayah Inggris. 1825 Gerakan Paderi telah sampai ke Tapanuli Selatan. Raja Batak Sisingamangaraja X terbunuh dalam peperangan. Perang Jawa pecah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. 15 Nopember, Belanda mengajukan gencatan senjata dengan mengakui wilayah-wilayah kekuasaan Paderi yang memang telah dikuasai oleh Pasukan Paderi. Belanda menarik 4300 pasukannya dari Minangkabau untuk berperang ke Jawa, dan hanya menyisakan 700 pasukan yang ditempatkan di benteng-benteng Belanda. 1832 Belanda berhasil merebut Kapau, Kamang, dan Lintau. Keberhasilan Belanda dalam berbagai pertempuran serta kekejian yang ditinggalkannya menggusarkan Kaum Adat. Pada tahun 1832 ini dilakukan perjanjian antara Pasukan Paderi dan Kaum Adat untuk bersama-sama mengusir Belanda dari Minangkabau. Tempat perjanjian di Bukit Tandikat di lereng Gunung Merapi. Versi lain yang beredar umum selama ini menyebutkan tempat perjanjian tersebut berlangsung di Bukit Marapalam. 1833 11 Januari, dilakukan serangan oleh Pasukan Paderi, Kaum Adat, bersama-sama dengan seluruh masyarakat kepada Belanda. Serangan ini berhasil memecah blokade Belanda di Bonjol hingga ke daerah Sipisang dan Alahan Panjang. Sedangkan untuk wilayah Luhak Agam dan Tanah Datar, belum terdapat koordinasi serangan. Serangan ini menandai Perang Paderi tahap ketiga, yaitu perang antara Belanda dengan kesatuan masyarakat Minangkabau. 23 Agustus, Gubernur Jenderal Van den Bosch berkunjung ke Padang, dan memerintahkan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol. 10-12 September, Jenderal Riesz memimpin pasukan dan mengerahkan 2.400 rakyat Lima Puluh Koto, Agam, dan Batipuh yang setia kepada Belanda untuk menyerang benteng Bonjol. Namun serangan ini dapat dipatahkan oleh Pasukan Paderi. 13-14 September, Mayor de Quay memimpin pasukan Belanda dari Suliki untuk menyerang basis pertahanan Paderi di Kota Lalang. Serangan ini berhasil dengan dikuasainya Kota Lalang oleh Belanda. Namun dalam pengejaran di Air Papa, pasukan Belanda dijebak sehingga meninggalkan korban yang banyak sekali. Sisa pasukan kembali ke Payakumbuh. Sementara pasukan Jawa dan adat menjaga Kota Lalang. 11 September, Letnan Kolonel Elout memimpin serangan dari Manggopoh, namun dapat ditahan oleh Pasukan Paderi. Belanda bergerak mundur ke Kota Merapak, namun selama perjalanan mendapatkan banyak serangan dari Pasukan Paderi sehingga meninggalkan banyak korban dan persenjataan. Serangan Belanda dari utara dipimpin oleh Mayor Eilers dengan kekuatan 80 prajurit. Dalam perjalanannya dari Rao menuju Lubuk Sikaping mendapatkan bantuan sekitar 2.000 masyarakat lokal, sehingga melanjutkan perjalanannya sampai ke Bonjol. Tanggal 18 September 1833 pasukan ini telah sampai di Alai, kurang lebih 2 km dari benteng Bonjol. Peperangan pecah, namun pada tanggal 19 September 1833 pasukan ini dapat dipukul mundur oleh Pasukan Paderi sehingga meninggalkan korban yang sangat banyak. 21 September, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerima pasukannya yang kalah di Padang, serta mengatur strategi untuk peperangan berikutnya. 25 Oktober, Belanda dan Pasukan Paderi menandatangani perjanjian damai Plakaat Panjang, namun kemudiannya Belanda ingkar janji. 1834 Belanda berhasil merebut Matur dan Masang. Belanda juga berhasil merebut jalur pelayaran sungai ke timur yang melalui Sungai Rokan, Kampar Kanan, dan Kampar Kiri, serta wilayah Pelalawan. Sebenarnya selama tahun 1834 ini tidak ada peperangan yang terbuka antara Pasukan Paderi melawan Belanda. 1835 16 April, Belanda memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke benteng Bonjol. 21 April, 2 kolonne pasukan Belanda bergerak dari Matur dan Bamban menuju Masang melalui jalur hutan. 23 April, pasukan Belanda telah sampai di tepi Sungai Batang Ganting untuk selanjutnya menuju Sipisang. Terjadi pertempuran di sepanjang perjalanan selama 3 hari 3 malam, hingga akhirnya Sipisang jatuh ke tangan Belanda. 24 April, 1 kolonne pasukan Belanda bergerak menuju Simawang Gedang, dan menghadapi pertempuran melawan 500 Pasukan Paderi. Sementara itu 1 kompi pasukan tentara Bugis dibantu pasukan adat dari Batipuh dan Tanah Datar bergerak mengusir Pasukan Paderi di luar Simawang Gedang, sehingga Pasukan Paderi terdesak hingga ke Batang Kumpulan. Pertempuran besar terjadi, dimana telah menunggu 1.200 Pasukan Paderi. Dengan bantuan pasukan Belanda, akhirnya Kampung Melayu dapat dikuasai. 27 April, pasukan Belanda mengejar sisa Pasukan Paderi di sepanjang lembah terjal dan Sungai Air Taras, namun serangan ini dapat dipatahkan. 3 Mei, dengan adanya tambahan dan konsolidasi pasukan, Belanda melanjutkan serangan. Namun baru serangan dimulai, Letnan Kolonel Bauer komandan pasukan Belanda telah terluka terkena ranjau. Pertempuran pecah menjadi perang tanding yang menguntungkan Pasukan Paderi. Pasukan Belanda bergerak mundur dengan melakukan bumi hangus. 8 Juni, pasukan Belanda merebut Padang Lawas yang merupakan front terdepan Alahan Panjang. 16 Juni, pasukan Belanda telah sampai 250 langkah dari kampung Bonjol. Pertempuran pecah, Belanda menggunakan howitser, mortir, dan meriam besar; sementara Pasukan Paderi membalas dengan menembakkan meriam dari Bukit Tajadi. Karena posisi kurang menguntungkan, Letnan Kolonen Bauer meminta tambahan pasukan dari Residen Francis sebanyak 2.000 pasukan. 21 Juni, dengan tambahan pasukan yang datang pada 17 Juni, Belanda bergerak maju mengepung benteng Bonjol. Sementara di dalam benteng Bonjol telah berkumpul komandan-komandan Pasukan Paderi dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima Puluh Kota, Agam, Rao dan Padang Hilir yang telah ditaklukkan Belanda. Pada awal Agustus pasukan Belanda yang telah terkonsolidasi telah mencapai 14.000 pasukan. Pada pertengahan Agustus, dengan adanya tambahan pasukan Bugis, Belanda mulai melakukan serangan. 5 September, Pasukan Paderi melancarkan serangan ke kubu-kubu Belanda di luar benteng Bonjol, dan menimbulkan korban jiwa yang cukup besar dari kedua belah pihak. Pasukan Paderi mengintensifkan perang gerilya. 11 Desember, blokade yang berlarut-larut menimbulkan keberanian rakyat untuk memberontak, sehingga rakyat Alahan Panjang dan Simpang melakukan perlawanan. Hanya dengan bantuan pasukan Madura, Belanda dapat memadamkan pemberontakan ini. Setelah itu Belanda cukup direpotkan dengan pemberontakan rakyat di daerah taklukkan. Sambil menunggu tambahan pasukan dari Batavia, Belanda mengajak Pasukan Paderi untuk berunding, namun ditolak Tuanku Imam Bonjol. 1836 3 Desember, dengan datangnya tambahan pasukan dari Batavia, Belanda melakukan serangan besar-besaran ke benteng Bonjol. Paha Tuanku Imam Bonjol terkena tembakan termasuk terkena 13 tusukan. Serangan ini berhasil membunuh keluarga dan anak Tuanku Imam Bonjol. Namun serangan balik dari Pasukan Paderi dapat mengusir pasukan Belanda keluar dari benteng. Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol memukul Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, sehingga untuk kesekian kalinya mengirim panglima tertingginya Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk memimpin secara langsung serangan ke Bonjol. Jadi soal petisi ini lemah .... dan bisa menimbulkan fitnah ... --- In [email protected], "Jimmy Okberto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > I dunno know what a reason -- > > > > INFO DARI TETANGGA: > > > > Mohon di review: > > Petisi mencabut gelar pahlawan Tuanku Imam Bonjol: > http://www.petition online.com/ bonjol/petition. html > <http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html> > > > > Jimmy Okberto > > to be my friendster <http://www.friendster.com/okberto> and visit my > multiply <http://okberto.multiply.com/> > > For daily need there is daily grace; > > for sudden need, sudden grace, > > and for overwhelming need, overwhelming grace. > -John Blanchard > > > > <http://en.smscity.com/?m=Register> > <http://en.smscity.com/?m=Register> > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

