Jadi, gara gara ulah si wahabbi wahabbi ini malah Belanda yang 
tertawa? Ya ampuuuunn..

Salam

danardono

--- In [email protected], "Mudy Situmorang" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Saya sarikan agar lebih ringkas dari info mbak auliah:
> 1808: Paderi membantai keluarga Kerajaan Islam Minangkabau 
> Pagarruyung pada perundingan damai.
> 1808: Atas prestasi menghancurkan Kerjaan Islam Minangkabau, Imam 
> Bonjol diangkat jadi komandan Benteng Bonjol.
> 1815: Imam Bonjol memimpin invasi ke Tanah Batak.
> 1820: Atas prestasi invasi ke Tanah Batak, Imam Bonjol diangkat 
> menjadi pimpinan seluruh Paderi menggantikan Tuanku Nan Renceh.
> 1821: Karena terpaksa oleh gerakan Paderi, sisa keluarga kerajaan 
> menandatangani plakat penyerahan Kerajaan Minangkabau Pagarruyung 
> kepada Belanda.
> 
> --- In [email protected], "auliah azza" <auliahazza@> wrote:
> >   1808 
> >   Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808 
dilakukan
> > perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung di Koto
> > Tangah. Raja Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama staf
> > kerajaan dan sanak keluarga, sedangkan dari Pasukan Paderi hadir
> > Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh pasukannya. Karena terjadi
> > perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf kerajaan, akhirnya
> > terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja terbunuh. 
> Sebuah
> > versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa 
penghulu 
> dan
> > cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan 
> Kuantan
> > – Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh sangat 
marah
> > kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar 
berhasil
> > dikuasai oleh Pasukan Paderi. 
> > 
> >   Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan 
> muridnya,
> > Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan 
> sebutan
> > Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
> > Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 hektar, 
dengan
> > tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan Panjang 
ini
> > yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara Kota 
Lubuk
> > Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada di tepi 
jalan
> > lintas Sumatera. 
> > 
> > 1815 
> >   Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang 
cukup
> > besar. Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya 
Pasukan
> > Paderi mengarahkan perjuangannya ke Tapanuli Selatan. Tuanku Imam
> > Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao, 
sedangkan
> > Tuanku Tambusai memimpin benteng di Dalu-dalu. 
> >   1820 
> >   Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan 
> Pasukan
> > Paderi diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol. 
> >   Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau. 
> 
> 
> 1821
> >   Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang
> > mengatasnamakan Yang Dipertuan Minangkabau mengikat perjanjian 
> dengan
> > Residen Belanda di Padang bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan
> > Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari 1821. Belanda kemudian
> > mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan Letnan 
> Kolonel
> > Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. Dengan 
susah
> > payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung. 
> > 
> >   Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi. 
> >   Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng Fort 
van
> > der Capellen.
>


Kirim email ke