Excellent article, informative, deep and comprehensive!

Salam

Danardono


--- In [email protected], "Thesaints Now" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Tambahan satu lagi mengenai Perang Paderi :
> 
> Agama Islam yang dikambing hitamkan....
> 
>      Dalam posting sebelumnya diceritakan tentang Tuanku Nan Renceh
>      dari Kamang Bukitinggi yang begitu teganya membunuh "eteknya"
>      sendiri , karena bandel tidak mau berhenti dari mengunyah 
sirih ,
>      berikut ini kami ketengahkan pula sebuah peristiwa dalam 
Perang
>      Paderi (1822-1837) yang dikenal dengan Peristiwa Tanjuang
>      Barulak dan Kototangah yang juga melibatkan seorang lagi tokoh
>      dari Harimau Nan Salapan.
> 
>      Sang tokoh adalah Tuanku Lintau yang ketika kecilnya dipanggil
>      dengan nama Sidu Mukmin dan karena beliau pernah mengaji 
disebuah
>      surau dekat Pasaman, beliau disebut juga Tuanku Pasaman. 
Tuanku
>      Lintau ini, untuk mengembangkan ajaran kaum Paderi selanjutnya
>      mengadakan kontak dengan Rajo Nan Baduo dari Raja Tigo Selo 
yang
>      bernama Nan dipertuan Bakuni didaerah Tanah Datar 
(Batusangkar).
> 
>      Tuanku Lintau meminta kepada Raja Tigo Selo untuk bekerja sama
>      dalam menegakkan syariat Islam dengan membasmi kebiasaan 
rakyat
>      yang tidak baik di luhak Tanah Datar (Batusangkar) . Beliau 
juga
>      sekaligus meminta Raja tersebut untuk menerapkan kekerasan 
dalam
>      membasmi adat-istiadat dalam masyarakat yang tidak sesuai 
dengan
>      syariat Islam. Rajo Nan Baduo bukannya tidak mau mengikut 
arahan
>      Tuanku Lintau itu, tapi malah memaksa dua Raja yang lain pula
>      untuk menganut ajaran baru yang dikembangkan kaum Paderi itu 
dan
>      selanjutnya memerintahkan seluruh rakyat Tanah Datar
>      (Batusangkar) berpakaian jubah putih-putih seperti rakyat Agam
>      (Bukittinggi) sebagai ciri khas pakaian kaum Paderi.
> 
>      Ketika Tuanku Lintau pulang kekampungnya di Lintau (Tanah 
Datar)
>      , nampaknya dikampungnya sendiri ajaran Paderi itu belum lagi
>      begitu berkembang dan beliau sendiri belum lagi berhasil
>      mengembangkan ajaran tersebut. Banyak juga dikalangan rakyat
>      Lintau tidak begitu tertarik dengan ajaran kaum Paderi itu.
>      Melihat hal demikian dan didorong oleh keinginan agar ajaran 
itu
>      bisa juga diterima orang banyak, maka Tauanku Lintau 
menerapkan
>      salah satu contoh "syariat Islam", dimana beliau menjatuhkan
>      hukuman pancung sampai mati terhadap seorang penghulu 
(pemangku
>      adat) yang telah tiga kali dilihatnya dengan berani "mangapik-
>      ngapik" ayam jantan aduan pergi ke arena sabungan.
> 
>      Hukuman yang dijatuhkan oleh Tuanku Lintau terhadap pemangku 
adat
>      tersebut membuat orang-orang sekitar Lintau menjadi heboh, 
kecut
>      dan takut. Dan sebahagian besar masyarakat Lintau langsung 
saja
>      mengikut paham kaum Paderi itu, kecuali sebuah kampung kecil
>      Tanjuang Barulak dimana masyarakatnya secara kompak menolak
>      ajaran yang dikembangkan oleh Tuanku Lintau tersebut.
> 
>      Tuanku Lintau "tabik suga dan marabo" ( naik darah dan 
marah) ,
>      selanjutnya beliau langsung menyerbu dan menyerang Tanjuang
>      Barulak dan memaksa semua penduduk desa itu untuk tunduk dan
>      menyerah serta memerintahkan orang banyak di daerah itu untuk
>      memakai "jubah putih" dan menganut ajaran kaum Paderi itu.
> 
>      Tindakan Tuanku Lintau ini mendapat kecaman dan teguran dari
>      keluarga bangsawan kerajaan Pagaruyung dan meminta Tuanku Lelo
>      meninggalkan nagari Tanjuang Barulak. Tuanku Lintau kemudian
>      kembali pulang mundur ke Lintau dan mengajukan permintaan 
untuk
>      mengadakan perundingan dengan keluarga bangsawan raja-raja dan
>      Pemegang kuasa kerajaan Pagaruyung di Koto Tangah.
> 
>      Dalam perundingan yang diadakan di tengah-tengah tanah lapang
>      itulah Tuanku Lintau mengajukan usul dan permintaan supaya
>      dijatuhi hukuman pancung sampai mati terhadap Nan dipertuan 
Rajo
>      Naro, Nan Dipertuan Rajo Talang dan Putera Raja Minangkabau,
>      Sultan Muniang Alamsyah, karena ketiganya telah menantang 
Ulama
>      dan melakukan pelanggaran hukum Islam.
> 
>      Nan Dipertuan Rajo Naro dipersalahkan karena berani melawan
>      Tuanku Lintau dalam peperangan di Tanjuang Barulak. sedangkan
>      yang kedua dan ketiga dipersalahkan karena membantu Raja Naro
>      ketika penyebuan Tanjuang Barulak itu. Lalu kemudian 
terjadilah
>      silang pendapat dan pertengkaran mengenai usul dan permintaan
>      Tuanku Lintau tadi yang berkesudahan dengan sengketa kedua 
belah
>      pihak dan perkelahian dan pertempuran tidak bisa dihindari 
lagi.
> 
>      Secara mendadak ratusan anak buah Tuanku Lelo menyerbu 
lapangan
>      dan membunuh semua Utusan Pagaruyung termasuk Basa Ampek 
Balai.
>      Untunglah Sultan Muniang Alamsyah lolos dari pembunuhan itu 
serta
>      menyelamatkan dirinya dengan membawa seorang cucu perempuannya
>      mengungsi ke Sijunjung. Sementara Sutan Alam Bagarsyah lari
>      menghindar ke Padang meminta bantuan Inggeris yang ketika itu 
ada
>      di Padang.
> 
>      Ini adalah contoh kedua dalam Perang Paderi dimana agama telah
>      dijadikan sebagai "panglima" untuk menghakimi dan memaksakan
>      keyakinan yang dianut kepada orang lain. Gerakan Paderi yang
>      menyebut diri mereka sebagai gerakan pemurnian ajaran Islam, 
sama
>      sekali tidak mengikuti dan bertindak sesuai dengan anjuran Al-
>      Qur'an dimana dalam agama tidak dibenarkan pemaksaan dan dan 
bagi
>      pemeluknya yang dituntut adalah "keikhlasan" ....(la ikaraha
>      fiddien....QS. 2:256). Tidak ada paksaan dalam agama , beda
>      antara petunjuk dan kesesatan sudah begitu jelas, barangsiapa
>      kafir silakan, barangsiapa beriman juga silakan. Tidak ada
>      satupun diantara manusia yang mendapat mandat dari Allah Taala
>      untuk menghakimi keyakinan dan agama seseorang.
> 
>      Sekian saja semoga tulisan ini bermanfaat adanya...
> 
>      ....Reading source:
> 
>      1). Rusli Amran, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, PT
>      Sinar Harapan 1981.
> 
>      2) A.A. Navis, Alam Terkembang jadi Guru,PT Grafiti Pers,
>      Jakarta 1984
> 
> 
> 
> On 10/2/07, Thesaints Now <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Tambahan seputar Perang Paderi :
> >
> > Tuanku Nan Renceh dari Kamang Bukittinggi adalah satu diantara
> >      anggota "Harimau Nan Salapan" yang merupakan suatu Dewan 
yang
> >      beranggotakan delapan orang Ulama-Ulama Islam dari Gerakan 
Paderi
> >      yang berkembang di Sumatera Barat pada permulaan rentang 
abad
> >      kesembilan belas. Gerakan Paderi ini menurut catatan sejarah
> >      adalah suatu gerakan pembaharuan pemurnian ajaran Islam yang
> >      konon menurut ceritanya diilhami oleh ajaran wahabi yang
> >      berkembang di Arab Saudi ketika itu.
> >
> >      Asal mulanya adalah ketika tiga orang Haji yang dikenal 
dengan
> >      julukan "Tigo Sarangkai" yaitu Haji Sumanik dari 
Batusangkar,
> >      Haji Piobang dari Payakumbuh dan Haji Miskin dari Pandai 
Sikek
> >      Bukittinggi pulang dari Makah sehabis menunaikan ibadah 
Haji.
> >      Dan ketika berada di Mekah itulah nampaknya mereka 
terpengaruh
> >      oleh suatu ajaran pemurnian Islam yang sedang berkembang 
disana
> >      dan setelah tibanya mereka di tanahair , langsung saja 
mereka
> >      mengembangkan ajaran yang menurut mereka cocok untuk 
diterapkan
> >      di Minangkabau itu.
> >
> >      Sejarah kemudian mencatat bahwa ajaran kaum Paderi yang 
dibawa
> >      oleh Tigo Sarangkai dan dikembangkan oleh Harimau Nan 
Salapan
> >      tersebut menggoncang habis seluruh kawasan Sumatera Barat
> >      terutama di Luhak Nan Tigo dimana angggota Tigo Sarangkai
> >      tersebut berasal. Dan Tuanku Nan Renceh adalah salah satu 
dari
> >      mereka yang betul-betul terpengaruh kuat disebabkan kampanye
> >      "pembaharuan dan pemurnian Islam" yang yang dikembangkan 
dengan
> >      gigih oleh Haji Miskin dari Pandai Sikek Bukittinggi 
tersebut.
> >
> >      Dan dengan pemahaman Islam yang dikemukakan oleh kaum 
Paderi itu
> >      dan bertitik tolak untuk memurnikan ajaran Islam , secara 
sadar
> >      Tuanku nan Renceh pernah menjatuhkan putusan "hukuman 
pancung
> >      mati" terhadap eteknya (saudara ibunya) yang tidak mau 
berhenti
> >      dari kebiasaannya sehari-hari yaitu "mengunyah sirih" . 
Konon
> >      menurut anggota Harimau nan Salapan itu, mengunyah sirih dan
> >      menyabung ayam adalah termasuk dalam perbuatan-perbuatan 
yang
> >      berkategori "haram" , tidak selaras dengan ajaran Islam dan
> >      harus dipupus dan dibanteras habis dari bumi Minangkabau.
> >
> >      Adalah Almarhum Doktor Muhammad Hatta, tokoh Proklamator RI 
dan
> >      juga "urang awak" kelahiran Bukittinggi yang mengemukakan 
kritik
> >      penilaiannya tentang Gerakan Paderi ini. Bahwa apa yang 
dilakukan
> >      dan diperbuat oleh kaum Paderi diawal abad ke 19 itu adalah 
suatu
> >      tindakan kekerasan yang membawa-bawa nama agama Islam yang
> >      kemudian menyebarkan secara paksa suatu ajaran yang mereka 
anut
> >      di bumi Minangkabau. Kendatipun apa yang mereka kemukakan 
itu ada
> >      juga segi positifnya namun cara mereka menyampaikan dan
> >      menerapkan ajaran tersebut sama sekali bukanlah cara yang
> >      diajarkan oleh Islam.
> >
> >      Menurut Bung Hatta , mereka sesungguhnya telah melupakan 
ajaran
> >      Islam yang sebenarnya yang meletakkan puncak dari 
segala "hukum
> >      Islam" adalah "damai" . Damai dalam arti Islam itu membawa
> >      kesejahteraan lahir dan batin untuk segala lapisan dan 
golongan
> >      masyarakat dan sekali gus meningkatkan rasa kebaktian kepada
> >      Allah Yang Mahakuasa itu. Diatas dasar damai itulah Nabi 
Muhammad
> >      SAW tetap membiarkan hukum kebiasaan dan adat istiadat yang
> >      berlaku di Tanah Arab , yang berkaitan dengan keselamatan 
orang
> >      banyak pada awal permulaan Islam.
> >
> >      Dari cuplikan cerita diatas dapatlah kita ambil suatu 
kesimpulan
> >      bahwa pemahaman seseorang terhadap suatu ajaran cenderung
> >      membuatnya bertindak secara berlebih-lebihan dalam 
perilakunya
> >      dalam menerapkan ajaran tersebut dalam lingkungannya. Dan 
apa
> >      yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dari Kamang tersebut 
adalah
> >      contoh dari suatu pemahaman yang keliru terhadap suatu 
ajaran yang
> >      dianutnya. Dalam hal ini beliau sendiri telah "mengenyam-
pingkan"
> >      akalnya dalam menerima dan menerapkan suatu ajaran agama 
yang
> >      bermerek "Islam"".... Dan ini juga merupakan suatu pengambil
> >      alihan "kekuasaan Allah" oleh manusia...Tuanku Nan Renceh
> >      menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan untuk menghakimi dan
> >      menghukum manusia....
> >
> >      Dizaman sekarang juga masih banyak Ulama-Ulama Islam yang 
mencoba
> >      merampas hak Allah untuk menghakimi dan menghukum 
manusia...Juga
> >      di Indonesia negeri tecinta ini!
> >
> >
> > On 10/2/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >   Jadi, gara gara ulah si wahabbi wahabbi ini malah Belanda 
yang
> > > tertawa? Ya ampuuuunn..
> > >
> > > Salam
> > >
> > > danardono
> > >
> > > --- In [email protected] <ppiindia%
40yahoogroups.com>, "Mudy
> > > Situmorang" <mudy_s@>
> > > wrote:
> > > >
> > > > Saya sarikan agar lebih ringkas dari info mbak auliah:
> > > > 1808: Paderi membantai keluarga Kerajaan Islam Minangkabau
> > > > Pagarruyung pada perundingan damai.
> > > > 1808: Atas prestasi menghancurkan Kerjaan Islam Minangkabau, 
Imam
> > > > Bonjol diangkat jadi komandan Benteng Bonjol.
> > > > 1815: Imam Bonjol memimpin invasi ke Tanah Batak.
> > > > 1820: Atas prestasi invasi ke Tanah Batak, Imam Bonjol 
diangkat
> > > > menjadi pimpinan seluruh Paderi menggantikan Tuanku Nan 
Renceh.
> > > > 1821: Karena terpaksa oleh gerakan Paderi, sisa keluarga 
kerajaan
> > > > menandatangani plakat penyerahan Kerajaan Minangkabau 
Pagarruyung
> > > > kepada Belanda.
> > > >
> > > > --- In [email protected] <ppiindia%
40yahoogroups.com>, "auliah
> > > azza" <auliahazza@> wrote:
> > > > > 1808
> > > > > Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808
> > > dilakukan
> > > > > perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung 
di Koto
> > > > > Tangah. Raja Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama 
staf
> > > > > kerajaan dan sanak keluarga, sedangkan dari Pasukan Paderi 
hadir
> > > > > Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh pasukannya. Karena 
terjadi
> > > > > perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf kerajaan, 
akhirnya
> > > > > terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja 
terbunuh.
> > > > Sebuah
> > > > > versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa
> > > penghulu
> > > > dan
> > > > > cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung 
dan
> > > > Kuantan
> > > > > – Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh 
sangat
> > > marah
> > > > > kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar
> > > berhasil
> > > > > dikuasai oleh Pasukan Paderi.
> > > > >
> > > > > Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan
> > > > muridnya,
> > > > > Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal 
dengan
> > > > sebutan
> > > > > Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi 
sekitar
> > > > > Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 
hektar,
> > > dengan
> > > > > tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan 
Panjang
> > > ini
> > > > > yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara 
Kota
> > > Lubuk
> > > > > Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada di 
tepi
> > > jalan
> > > > > lintas Sumatera.
> > > > >
> > > > > 1815
> > > > > Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang
> > > cukup
> > > > > besar. Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya
> > > Pasukan
> > > > > Paderi mengarahkan perjuangannya ke Tapanuli Selatan. 
Tuanku Imam
> > > > > Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao,
> > > sedangkan
> > > > > Tuanku Tambusai memimpin benteng di Dalu-dalu.
> > > > > 1820
> > > > > Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan
> > > > Pasukan
> > > > > Paderi diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol.
> > > > > Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.
> > > >
> > > >
> > > > 1821
> > > > > Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang
> > > > > mengatasnamakan Yang Dipertuan Minangkabau mengikat 
perjanjian
> > > > dengan
> > > > > Residen Belanda di Padang bernama Du Puy untuk memerangi 
Pasukan
> > > > > Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari 1821. Belanda 
kemudian
> > > > > mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan 
Letnan
> > > > Kolonel
> > > > > Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. 
Dengan
> > > susah
> > > > > payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan 
Gunung.
> > > > >
> > > > > Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
> > > > > Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng 
Fort
> > > van
> > > > > der Capellen.
> > > >
> > >
> > >  
> > >
> >
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke