Tambahan seputar Perang Paderi :
Tuanku Nan Renceh dari Kamang Bukittinggi adalah satu diantara
anggota "Harimau Nan Salapan" yang merupakan suatu Dewan yang
beranggotakan delapan orang Ulama-Ulama Islam dari Gerakan Paderi
yang berkembang di Sumatera Barat pada permulaan rentang abad
kesembilan belas. Gerakan Paderi ini menurut catatan sejarah
adalah suatu gerakan pembaharuan pemurnian ajaran Islam yang
konon menurut ceritanya diilhami oleh ajaran wahabi yang
berkembang di Arab Saudi ketika itu.
Asal mulanya adalah ketika tiga orang Haji yang dikenal dengan
julukan "Tigo Sarangkai" yaitu Haji Sumanik dari Batusangkar,
Haji Piobang dari Payakumbuh dan Haji Miskin dari Pandai Sikek
Bukittinggi pulang dari Makah sehabis menunaikan ibadah Haji.
Dan ketika berada di Mekah itulah nampaknya mereka terpengaruh
oleh suatu ajaran pemurnian Islam yang sedang berkembang disana
dan setelah tibanya mereka di tanahair , langsung saja mereka
mengembangkan ajaran yang menurut mereka cocok untuk diterapkan
di Minangkabau itu.
Sejarah kemudian mencatat bahwa ajaran kaum Paderi yang dibawa
oleh Tigo Sarangkai dan dikembangkan oleh Harimau Nan Salapan
tersebut menggoncang habis seluruh kawasan Sumatera Barat
terutama di Luhak Nan Tigo dimana angggota Tigo Sarangkai
tersebut berasal. Dan Tuanku Nan Renceh adalah salah satu dari
mereka yang betul-betul terpengaruh kuat disebabkan kampanye
"pembaharuan dan pemurnian Islam" yang yang dikembangkan dengan
gigih oleh Haji Miskin dari Pandai Sikek Bukittinggi tersebut.
Dan dengan pemahaman Islam yang dikemukakan oleh kaum Paderi itu
dan bertitik tolak untuk memurnikan ajaran Islam , secara sadar
Tuanku nan Renceh pernah menjatuhkan putusan "hukuman pancung
mati" terhadap eteknya (saudara ibunya) yang tidak mau berhenti
dari kebiasaannya sehari-hari yaitu "mengunyah sirih" . Konon
menurut anggota Harimau nan Salapan itu, mengunyah sirih dan
menyabung ayam adalah termasuk dalam perbuatan-perbuatan yang
berkategori "haram" , tidak selaras dengan ajaran Islam dan
harus dipupus dan dibanteras habis dari bumi Minangkabau.
Adalah Almarhum Doktor Muhammad Hatta, tokoh Proklamator RI dan
juga "urang awak" kelahiran Bukittinggi yang mengemukakan kritik
penilaiannya tentang Gerakan Paderi ini. Bahwa apa yang dilakukan
dan diperbuat oleh kaum Paderi diawal abad ke 19 itu adalah suatu
tindakan kekerasan yang membawa-bawa nama agama Islam yang
kemudian menyebarkan secara paksa suatu ajaran yang mereka anut
di bumi Minangkabau. Kendatipun apa yang mereka kemukakan itu ada
juga segi positifnya namun cara mereka menyampaikan dan
menerapkan ajaran tersebut sama sekali bukanlah cara yang
diajarkan oleh Islam.
Menurut Bung Hatta , mereka sesungguhnya telah melupakan ajaran
Islam yang sebenarnya yang meletakkan puncak dari segala "hukum
Islam" adalah "damai" . Damai dalam arti Islam itu membawa
kesejahteraan lahir dan batin untuk segala lapisan dan golongan
masyarakat dan sekali gus meningkatkan rasa kebaktian kepada
Allah Yang Mahakuasa itu. Diatas dasar damai itulah Nabi Muhammad
SAW tetap membiarkan hukum kebiasaan dan adat istiadat yang
berlaku di Tanah Arab , yang berkaitan dengan keselamatan orang
banyak pada awal permulaan Islam.
Dari cuplikan cerita diatas dapatlah kita ambil suatu kesimpulan
bahwa pemahaman seseorang terhadap suatu ajaran cenderung
membuatnya bertindak secara berlebih-lebihan dalam perilakunya
dalam menerapkan ajaran tersebut dalam lingkungannya. Dan apa
yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dari Kamang tersebut adalah
contoh dari suatu pemahaman yang keliru terhadap suatu ajaran yang
dianutnya. Dalam hal ini beliau sendiri telah "mengenyam-pingkan"
akalnya dalam menerima dan menerapkan suatu ajaran agama yang
bermerek "Islam"".... Dan ini juga merupakan suatu pengambil
alihan "kekuasaan Allah" oleh manusia...Tuanku Nan Renceh
menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan untuk menghakimi dan
menghukum manusia....
Dizaman sekarang juga masih banyak Ulama-Ulama Islam yang mencoba
merampas hak Allah untuk menghakimi dan menghukum manusia...Juga
di Indonesia negeri tecinta ini!
On 10/2/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Jadi, gara gara ulah si wahabbi wahabbi ini malah Belanda yang
> tertawa? Ya ampuuuunn..
>
> Salam
>
> danardono
>
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "Mudy
> Situmorang" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Saya sarikan agar lebih ringkas dari info mbak auliah:
> > 1808: Paderi membantai keluarga Kerajaan Islam Minangkabau
> > Pagarruyung pada perundingan damai.
> > 1808: Atas prestasi menghancurkan Kerjaan Islam Minangkabau, Imam
> > Bonjol diangkat jadi komandan Benteng Bonjol.
> > 1815: Imam Bonjol memimpin invasi ke Tanah Batak.
> > 1820: Atas prestasi invasi ke Tanah Batak, Imam Bonjol diangkat
> > menjadi pimpinan seluruh Paderi menggantikan Tuanku Nan Renceh.
> > 1821: Karena terpaksa oleh gerakan Paderi, sisa keluarga kerajaan
> > menandatangani plakat penyerahan Kerajaan Minangkabau Pagarruyung
> > kepada Belanda.
> >
> > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "auliah
> azza" <auliahazza@> wrote:
> > > 1808
> > > Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808
> dilakukan
> > > perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung di Koto
> > > Tangah. Raja Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama staf
> > > kerajaan dan sanak keluarga, sedangkan dari Pasukan Paderi hadir
> > > Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh pasukannya. Karena terjadi
> > > perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf kerajaan, akhirnya
> > > terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja terbunuh.
> > Sebuah
> > > versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa
> penghulu
> > dan
> > > cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan
> > Kuantan
> > > Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh sangat
> marah
> > > kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar
> berhasil
> > > dikuasai oleh Pasukan Paderi.
> > >
> > > Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan
> > muridnya,
> > > Peto Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan
> > sebutan
> > > Tuanku Imam Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
> > > Alahan Panjang. Benteng dibangun pada areal seluas 90 hektar,
> dengan
> > > tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter. Lokasi Alahan Panjang
> ini
> > > yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah tempat antara Kota
> Lubuk
> > > Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada di tepi
> jalan
> > > lintas Sumatera.
> > >
> > > 1815
> > > Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang
> cukup
> > > besar. Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya
> Pasukan
> > > Paderi mengarahkan perjuangannya ke Tapanuli Selatan. Tuanku Imam
> > > Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao,
> sedangkan
> > > Tuanku Tambusai memimpin benteng di Dalu-dalu.
> > > 1820
> > > Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan
> > Pasukan
> > > Paderi diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol.
> > > Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.
> >
> >
> > 1821
> > > Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang
> > > mengatasnamakan Yang Dipertuan Minangkabau mengikat perjanjian
> > dengan
> > > Residen Belanda di Padang bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan
> > > Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari 1821. Belanda kemudian
> > > mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan Letnan
> > Kolonel
> > > Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. Dengan
> susah
> > > payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung.
> > >
> > > Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
> > > Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng Fort
> van
> > > der Capellen.
> >
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/