Sama saja om...!, perkembangan agama kristen identik juga dengan imperialisme agama, dimana ada kolonialisme, kristenisasi juga numpang disitu. Makanya melihat agama itu jangan dari fenomenanya, tapi dari ajarannya (core). Perilaku umat dari agama tertentu tidak identik dengan agama itu sendiri. Di afsel mayoritas beragama kristen tapi ternyata apartheid dan genocide punya sejarah kelam bagi gereja-gereja disana!
Mass Media di barat juga tidak fair memberitakan islam, ketika saya di Toronto (Canada) 2 tahun lalu, saya menghadiri presentasi dari James JF Forest, Ph.D dari Combating Terrorism Center juga begitu subyektifnya mempresentasikan islam dengan membangun konsep yg mengkorelasikan antara Alqur'an dengan terorisme (kebetulan saya masih simpan file power point-nya). Dan thesisnya yang TIDAK INTELEK mengatakan; not all muslims are terrorist. Lately, all terrorists are Muslim. Suatu concept generalization yang absurd...! Salam RDM RM Danardono HADINOTO wrote: > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com , sFe <salma.fei@> wrote: >> > >> > MASYARAKAT ISLAM DALAM MENGHADAPI BAHAYA KEMURTADAN Bahaya > besar >> yang dihadapi oleh masyarakat Islam adalah ancaman terhadap >> aqidahnya, oleh karena itu murtad dari agama atau kufur setelah >> beriman merupakan bahaya terbesar bagi masyarakai Islami. Dan ini >> pula yang selalu diupayakan oleh musuh-musuh Islam untuk kemudian >> dapat mengacaukan barisan kaum Muslimin dengan kekuatan dan >> persenjataan serta berbagai bentuk makar dan tipu daya yang lain. >> Allah SWT berfirman: >> >> > Daripada ngelantur neng, ngawur gak karuan, baca ini: > http://hariansib. com/2007/ 12/24/prof- dr-h-said- aqil-siradj- siapa-yang- > membakar-gereja- sama-dengan- membakar- mesjid/ > Prof DR H Said Aqil Siradj: Siapa Yang Membakar Gereja Sama Dengan > Membakar Mesjid > Medan (SIB) > Dewan Pembina Baitul Muslimin Indonesia Pusat Prof DR H Said Aqil > Siradj mengatakan, sweeping dengan cara-cara anarkis di tempat-tempat > hiburan telah melanggar ajaran Agama Islam. Hal-hal yang perlu > dikedepankan adalah diskusi dan musyawarah yang baik untuk mencapai > mufakat jika ada tempat hiburan yang dianggap melanggar norma-norma > agama. > Hal itu dikatakannya pada acara deklarasi dan pelantikan Baitul > Muslimin Indonesia Sumatera Utara, Sabtu (22/12) di Gelanggang > Mahasiswa IAIN Sumut Jalan IAIN Medan. Hadir pada Deklarasi tersebut > Dewan Pembina PDIP H Taufik Kiemas, Sekjen DPP PDIP Ir H Pramono > Anung MM, sejumlah anggota DPR RI dari FPDIP di antaranya Prof DR > Yasona laoly, Trimedia Panjaitan SH, Firman jaya Daeli dll. > Dengan tegas dikatakannya, umat Islam sebenarnya malu melihat > perbuatan anarkis seperti itu karena tindakan seperti itu bukan > akhlak seorang yang Islami. "Islam bukan mengajarkan seperti itu, > kita malu melihatnya," ucap Prof Said Aqil. > Dia juga mengatakan di berbagai daerah terjadi pembakaran gereja, hal > itu menurutnya suatu tindakan yang tidak terpuji. Dikatakannya, siapa > saja yang membakar gereja sama dengan membakar mesjid, siapa yang > membakar Alkitab sama dengan membakar Alquran dan siapa yang menghina > Yesus sama sama dengan menghina Rasulullah. > Disebutkannya PDIP adalah partai nasionalis dan pluralis beridiologi > Pancasila dan UUD 1945. Di dalam PDIP tidak dipersoalkan agama apa > dan etnis apa kader tersebut. Karena pada zaman merebut kemerdekaan > dahulu tidak pernah ada mempersoalkan agama. Para pejuang nasional > dari agama Kristen waktu itu di antaranya Maramis dan Johannes > Leimena ikut memperjuangkan kemerdekaan. Semua pejuang bangsa yang > memperjuangkan kemerdekaan sepakat membentuk negara kebangsaan, bukan > negara agama. > Hadir juga bakal Calon Gubsu yang mendaftar di DPD PDIP Sumut yakni > DR Ir Benny Pasaribu MEc, H Chairuman Harahap SH MH, Ir HM Darori, > Mayjen TNI Tritamtomo SH, Effendi Naibaho serta sejumlah fungsionaris > DPD PDIP Sumut yakni Jhon Eron Lumbagaol, baskami Ginting, Analisman > Zaluchu, Japorman Saragih dll. > Pada kesempatan itu H Taufik Kiemas mengatakan, saat ini PDIP minta > maaf kepada masyarakat Indonesia karena pada masa jaya PDIP tahun > 1999 masyarakat merasa diabaikan. Diakuinya PDIP saat itu belum > membawa amanat rakyat yang sebenarnya. Itu makanya pada pemilu 2004 > masyarakat meninggalkan PDIP sehingga tidak dapat mempertahankan > kemenangan. > Saat ini kata Kiemas, PDIP melakukan instrospeksi diri dan sudah > berbenah diri dan berjanji tidak akan meninggalkan rakyat untuk > sekarang ini dan seterusnya. Pembenahan yang dilakukan tubuh PDIP > sudah dapat dirasakan saat ini. PDIP tidak pernah memperjual belikan > partainya untuk dibeli orang lain. Calon kepala daerah "besutan" PDIP > selalu menang, sekarang 21 Kepala daerah di antaranya 12 Gubernur di > Indonesia adalah calon dari PDIP. > Kemenangan itu karena PDIP menyadari untuk menjadi kepala daerah > haruslah pilihan rakyat. Partai mencalonkan calonnya melalui > mekanisme partai di antaranya Rakerdasus dan pooling. Disebutkannya > saat ini betapa harga-harga sangat mahal, untuk itu kepada > massyarakat harus memilih pemimpin yang cantik yang mengerti harga- > harga. Taufik Kiemas juga menyerahkan hewan qurban sumbangan dari > calon Gubsu di antaranya dari H Syamsul Arifin. > Pengurus Baitul Muslimin Indonesia Sumut dilantik oleh Ketua Umum PP > Baitul Muslimin Indonesia Prof DR H Hamka Haq yakni Ketua Baitul > Muslimin Indonesia Sumut adalah Drs H Anwar Noor Siregar, Sekretaris > H Muhammad Afan SS, bendahara Ir H Zainal Arifin, dilengkapi dengan > Wakil Ketua, Wakil Sekretaris, Wakil bendahara dan Penasehat. > __________________________________________________________ Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail.yahoo.com

