Yang buat pernyataan sesat .... bisa dikatakan sesat juga...! Apalagi jika 
ukuran atau cara menilainya salah.....! Om Lukas..., ahmadiyah itu sepertinya 
tidak keluar dari akarnya ..... Tuhannya sama dengan muslim yang lain... hanya 
beda soal nabi saja....!

Patricia

Lukas Kristanto wrote: 
>             Kata sesat dalam frekuensi yang tinggi diumbar dalam berbagai 
> media massa termasuk dalam milis ini. Saya tidak bisa memastikan para 
> pengguna kata ini berangkat dari pemahaman yang bagaimana? Fenomenanya 
> bervariasi, kata sesat bisa jadi hanyalah sebuah istilah (technical term), 
> biasanya berkaitan dengan terminologi hukum, di lain sisi penggunaan kata ini 
> seperti melenggang diucapkan tanpa dosa baik sebagai cemoohan atau  ejekan 
> (derision) maupun sekedar ucapan yang lepas dari bibir tanpa memahami makna 
> hakikinya (expletive). 
> Saya tidak akan membawa istilah ini dalam kerangka hukum, karena bagaimanapun 
> juga istilah hukum lebih bersifat formal, definitif dan deminutif (makna yang 
> dipersempit) . Tetapi saya mencoba melampaui kawasan hukum untuk melihat 
> istilah sesat dalam spektrum yang universal. Saya percaya, tidak mustahil di 
> dunia hukum pun terjadi kerancuan bahkan kesesatan, seperti yang dikatakan 
> Ronald Standler (dalam buku Civil Law), bahwa di dalam pengadilan pun ada 
> keputusan yang menyesatkan (miscarriage of justice), lebih-lebih jika 
> semangat hukumnya terlalu mudah menghukum (judge to easily). 
> Kata sesat dalam bahasa yunaninya panourgia yang ternyata maknanya sangat 
> luas bisa berarti menyimpang, melepaskan diri dan menipu. Seperti yang 
> menjadi pemahaman dalam bahasa Indonesia, sehingga  kata sesat acapkali 
> ditafsirkan dengan berbagai makna yang terkadang terlampau abstrak. Ketika 
> Hawa di sorga melanggar ketentuan Ilahi dengan memakan buah Kuldi, hawa telah 
> melanggar perintah, dalam konteks ini dia sebenarnya tersesat, iblis yang 
> membujuk hawa disebut penyesat. Sesat dalam pengertian ini disebabkan karena 
> penipuan. Peristiwa munculnya aliran syiah dalam Islam oleh pengikut Suny 
> disebut sesat, konteksnya berbeda --bukan lahir dari penipuan, tetapi bisa 
> jadi karena sakit hati, dendam atau membelot (Seperti kasus di Indonesia 
> banyak barisan sakit hati yang membelot dengan mendirikan parpol baru). 
> Berikut ini, berbagai gambaran kata sesat dalam pemaknaan universal (dalam 
> greek-oriented) yang konotasinya bervariasi: 
> HAIRESIS  yaitu bentuk kesesatan yang bisa disetarakan dengan kata bi'dah 
> (heresy), biasanya lahir karena faktor sinkretisme atau transkulturasi, yang 
> kemudian memunculkan bentuk religiusitas baru. (Ajaran agama asal dikawinkan 
> dengan budaya lokal) 
> DIAREO yaitu bentuk kesesatan yang menyempitkan aktivitas keberagamaan, 
> dengan lebih mementingkan aktivitas peribadatan tertentu, seperti 
> aliran-aliran tarekat (bukan berarti tarekat sesat, tetapi ada juga yang 
> sesat). Hanya memfokuskan ibadah tertentu sebagai yang paling utama dalam 
> beragama. 
> DIAKRINO artinya membedakan atau juga bisa diartikan terbedakan 
> (distinguishable) . Kalau mengambil bentuk kata kerja dalam bahasa inggris 
> seperti kata in contrast to (membedakan dengan). Dalam sejarah kekristenan di 
> Yerusalem, sekelompok kaum beragama yang disebut orang-orang Zelot melakukan 
> aktivitas keagamaan yang tidak bersinggungan dengan politik, agar terbedakan 
> dengan kelompok yang lain seperti: Kaum Farisi (ahli taurat dan ahli ibadah 
> yang acapkali terjebak berpolitik), Kaum Saduki (agamawan aristokrat yang 
> dekat dengan lingkaran kekuasaan) dan Herodian (agamawan yang melacurkan diri 
> pada kekuasaan herodes) 
> ELEUTHEROO artinya membebaskan diri , sebenarnya makna dasarnya melepaskan 
> balutan (bandaging), bisa diartikan membebaskan diri dari kungkungan ajaran 
> yang tidak sesuai dengan nuraninya. Contoh klasik untuk ini adalah reformasi 
> Marthin Luther, yang berusaha membebaskan diri dari kungkungan dogma gereja 
> yang bagi Luther dianggap telah menyimpang sehingga lahir agama protestan. 
> PARALOGIZOMAI artinya merubah ajaran atau menciptakan ajaran versi baru 
> (become different). Dalam sejarah kekristenan, kelompok kapadokian 
> (gereja-gereja timur) tidak sepakat dengan rumusan ajaran trinitas anathasian 
> (konsep anathasius) yang berprinsip unsur-unsur trinitas adalah pribadi 
> (personae), maka mereka merubah ajaran trinitas bahwa unsur-unsur trinitas 
> bukanlah pribadi/oknum tapi hanyalah  pancaran ilahi (prosopon) 
> METHAODEIA bisa diartikan lepas dari akarnya, dan bukan merupakan cabang, 
> sehingga benar-benar memunculkan ajaran baru (newness) yang sangat kontras 
> dengan ajaran asalnya. Mungkin Lia Aminudin termasuk kategori ini. 
> Dari beberapa konotasi sesat di atas, jelaslah  munculnya ajaran baru bisa  
> saja lepas dari akar atau tetap pada akarnya. Kalau akar yang dimaksud disini 
> menyangkut keilahian (ketuhanan), apa yang dilakukan Martin Luther ternyata 
> tidak melepaskan akarnya, tetap mempunyai prinsip ketuhanan yang sama dengan 
> ajaran asalnya (katolik). Kasus Syech Siti Jenar, bisa dikategorikan lepas 
> dari akarnya, karena Tuhan bagi Jenar telah menyatu dalam diri manusia 
> (manunggaling kawula gusti) sehingga tidak diperlukan lagi syariat. Jadi, 
> sebenarnya sangat rumit untuk melepaskan kata dalam bibir ini untuk berkata 
> sesat atau tidak sesat, tergantung motivasi dan paradigma kita masing-masing. 
> ..! Peliknya juga, kalau suatu ajaran dianggap palsu karena pendirinya 
> dianggap penipu/pemalsu oleh pihak lain, sementara pengikutnya tidak merasa 
> ditipu dan ok... ok... saja malah semakin rumit dalam maknai sesat itu! Nah, 
> bagaimana dengan Ahmadiyah... ..? karena pengikutnya merasa
 enjoy 
>  dan ok...ok... saja!.   
> Salam, 
> Lukas Kristanto 
> Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! 
>  http://www.flickr. com/gift/ 
>      


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke