lho..Ahmadiyah mengaku mempunyai nabi lain setelah Muhammad SAW, itu 
membuat mereka jd sesat. Koq malah 'hanya beda soal nabi saja..!'
Ayat2 AlQuran mereka klaim sbg milik Ghulam Ahmad bukan Muhammad SAW. 
Umat muslim di seluruh dunia bersyahadat, 'aku bersaksi bahwa tiada Tuhan 
selain Allah dan Muhammad SAW adalah rasul utusan Allah'.
buat saya ahmadiyah tdk sesat deh, tp bukan bagian dari islam kekeke..

masalah sesat menyesatkan ada parameternya mbak, dlm Islam tulisan, 
pendapat, pemikiran siapapun bisa saja sesat jika tdk sesuai dg AlQuran 
dan AsSunnah.

Jangan karena mbak dituduh sesat oleh Katolik tiba2 spt mendapat 'kawan' 
seperjuangan, senasib dan sepenanggungan yaitu ahmadiyah. Tolong kiranya 
penilaian sebisa mungkin didasarkan ilmu, dan seobjektif mungkin. Jika 
tdk, malah membuat keruh suasana.







Patricia Devita Sihwardoyo <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
01/18/2008 11:29 AM
Please respond to
[email protected]


To
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
cc
"[email protected]" <[email protected]>
Subject
RE: [ppiindia] Kata SESAT Dalam Konotasi Yang Beragam






Yang buat pernyataan sesat .... bisa dikatakan sesat juga...! Apalagi jika 
ukuran atau cara menilainya salah.....! Om Lukas..., ahmadiyah itu 
sepertinya tidak keluar dari akarnya ..... Tuhannya sama dengan muslim 
yang lain... hanya beda soal nabi saja....!

Patricia

Lukas Kristanto wrote: 
> Kata sesat dalam frekuensi yang tinggi diumbar dalam berbagai media 
massa termasuk dalam milis ini. Saya tidak bisa memastikan para pengguna 
kata ini berangkat dari pemahaman yang bagaimana? Fenomenanya bervariasi, 
kata sesat bisa jadi hanyalah sebuah istilah (technical term), biasanya 
berkaitan dengan terminologi hukum, di lain sisi penggunaan kata ini 
seperti melenggang diucapkan tanpa dosa baik sebagai cemoohan atau ejekan 
(derision) maupun sekedar ucapan yang lepas dari bibir tanpa memahami 
makna hakikinya (expletive). 
> Saya tidak akan membawa istilah ini dalam kerangka hukum, karena 
bagaimanapun juga istilah hukum lebih bersifat formal, definitif dan 
deminutif (makna yang dipersempit) . Tetapi saya mencoba melampaui kawasan 
hukum untuk melihat istilah sesat dalam spektrum yang universal. Saya 
percaya, tidak mustahil di dunia hukum pun terjadi kerancuan bahkan 
kesesatan, seperti yang dikatakan Ronald Standler (dalam buku Civil Law), 
bahwa di dalam pengadilan pun ada keputusan yang menyesatkan (miscarriage 
of justice), lebih-lebih jika semangat hukumnya terlalu mudah menghukum 
(judge to easily). 
> Kata sesat dalam bahasa yunaninya panourgia yang ternyata maknanya 
sangat luas bisa berarti menyimpang, melepaskan diri dan menipu. Seperti 
yang menjadi pemahaman dalam bahasa Indonesia, sehingga kata sesat 
acapkali ditafsirkan dengan berbagai makna yang terkadang terlampau 
abstrak. Ketika Hawa di sorga melanggar ketentuan Ilahi dengan memakan 
buah Kuldi, hawa telah melanggar perintah, dalam konteks ini dia 
sebenarnya tersesat, iblis yang membujuk hawa disebut penyesat. Sesat 
dalam pengertian ini disebabkan karena penipuan. Peristiwa munculnya 
aliran syiah dalam Islam oleh pengikut Suny disebut sesat, konteksnya 
berbeda --bukan lahir dari penipuan, tetapi bisa jadi karena sakit hati, 
dendam atau membelot (Seperti kasus di Indonesia banyak barisan sakit hati 
yang membelot dengan mendirikan parpol baru). 
> Berikut ini, berbagai gambaran kata sesat dalam pemaknaan universal 
(dalam greek-oriented) yang konotasinya bervariasi: 
> HAIRESIS yaitu bentuk kesesatan yang bisa disetarakan dengan kata 
bi&#39;dah (heresy), biasanya lahir karena faktor sinkretisme atau 
transkulturasi, yang kemudian memunculkan bentuk religiusitas baru. 
(Ajaran agama asal dikawinkan dengan budaya lokal) 
> DIAREO yaitu bentuk kesesatan yang menyempitkan aktivitas keberagamaan, 
dengan lebih mementingkan aktivitas peribadatan tertentu, seperti 
aliran-aliran tarekat (bukan berarti tarekat sesat, tetapi ada juga yang 
sesat). Hanya memfokuskan ibadah tertentu sebagai yang paling utama dalam 
beragama. 
> DIAKRINO artinya membedakan atau juga bisa diartikan terbedakan 
(distinguishable) . Kalau mengambil bentuk kata kerja dalam bahasa inggris 
seperti kata in contrast to (membedakan dengan). Dalam sejarah kekristenan 
di Yerusalem, sekelompok kaum beragama yang disebut orang-orang Zelot 
melakukan aktivitas keagamaan yang tidak bersinggungan dengan politik, 
agar terbedakan dengan kelompok yang lain seperti: Kaum Farisi (ahli 
taurat dan ahli ibadah yang acapkali terjebak berpolitik), Kaum Saduki 
(agamawan aristokrat yang dekat dengan lingkaran kekuasaan) dan Herodian 
(agamawan yang melacurkan diri pada kekuasaan herodes) 
> ELEUTHEROO artinya membebaskan diri , sebenarnya makna dasarnya 
melepaskan balutan (bandaging), bisa diartikan membebaskan diri dari 
kungkungan ajaran yang tidak sesuai dengan nuraninya. Contoh klasik untuk 
ini adalah reformasi Marthin Luther, yang berusaha membebaskan diri dari 
kungkungan dogma gereja yang bagi Luther dianggap telah menyimpang 
sehingga lahir agama protestan. 
> PARALOGIZOMAI artinya merubah ajaran atau menciptakan ajaran versi baru 
(become different). Dalam sejarah kekristenan, kelompok kapadokian 
(gereja-gereja timur) tidak sepakat dengan rumusan ajaran trinitas 
anathasian (konsep anathasius) yang berprinsip unsur-unsur trinitas adalah 
pribadi (personae), maka mereka merubah ajaran trinitas bahwa unsur-unsur 
trinitas bukanlah pribadi/oknum tapi hanyalah pancaran ilahi (prosopon) 
> METHAODEIA bisa diartikan lepas dari akarnya, dan bukan merupakan 
cabang, sehingga benar-benar memunculkan ajaran baru (newness) yang sangat 
kontras dengan ajaran asalnya. Mungkin Lia Aminudin termasuk kategori ini. 

> Dari beberapa konotasi sesat di atas, jelaslah munculnya ajaran baru 
bisa saja lepas dari akar atau tetap pada akarnya. Kalau akar yang 
dimaksud disini menyangkut keilahian (ketuhanan), apa yang dilakukan 
Martin Luther ternyata tidak melepaskan akarnya, tetap mempunyai prinsip 
ketuhanan yang sama dengan ajaran asalnya (katolik). Kasus Syech Siti 
Jenar, bisa dikategorikan lepas dari akarnya, karena Tuhan bagi Jenar 
telah menyatu dalam diri manusia (manunggaling kawula gusti) sehingga 
tidak diperlukan lagi syariat. Jadi, sebenarnya sangat rumit untuk 
melepaskan kata dalam bibir ini untuk berkata sesat atau tidak sesat, 
tergantung motivasi dan paradigma kita masing-masing. ..! Peliknya juga, 
kalau suatu ajaran dianggap palsu karena pendirinya dianggap 
penipu/pemalsu oleh pihak lain, sementara pengikutnya tidak merasa ditipu 
dan ok... ok... saja malah semakin rumit dalam maknai sesat itu! Nah, 
bagaimana dengan Ahmadiyah... ..? karena pengikutnya merasa
enjoy 
> dan ok...ok... saja!. 
> Salam, 
> Lukas Kristanto 
> Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! 
> http://www.flickr. com/gift/ 
> 

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke